logoblog

Cari

Tutup Iklan

Debat Nurani Demokrasi (1)

Debat Nurani Demokrasi (1)

"Kampanye panjang Pilkada telah terlewati. Debat Publik dalam kerangka pendalaman Visi dan Misi Cakada pun berlalu. Walau memang tidak cukup masa

Opini/Artikel

Kampung Media
Oleh Kampung Media
24 Juni, 2018 07:15:26
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1428 Kali

"Kampanye panjang Pilkada telah terlewati. Debat Publik dalam kerangka pendalaman Visi dan Misi Cakada pun berlalu. Walau memang tidak cukup masa untuk mengenal kedalaman mereka menata NTB ke depan. Masa depan tetaplah misteri segaris rahasia pemenang pilkada ini. Politik bukan hanya pertarungan membangun persepsi baik merajut kemenangan. Lebih dari itu, sesungguhnya di masa tenang ini adalah debat nurani demokrasi"

"Apakah nurani anda berdebat dalam menentukan pilihan?". Ini adalah pertanyaan yang pernah saya ajukan bahkan berkali kali pada seorang tokoh NTB. Kali ini saya hendak merasuk masuk dalam nurani pembaca. "Di titik mana Anda berkesimpulan yakin pada suatu pilihan ? Cukuplah jawab dalam hati (tapi jangan jawab dengan pemikiran anda) karena biasnya bisa sangat melebar sampai pada akhirnya anda termasuk orang yang berada dalam swing voters atau responden yang tidak tahu atau tidak menjawab sama sekali.  []

Oleh : Najamuddin Amy Al Majiid
Doktor Kandidat Human Resources Development Universitas Airlangga Surabaya.

Apakah jawaban kita boleh berubah-ubah ? Dalam konteks demokrasi maka hal itu sangatlah membahayakan. Terlebih bagi seorang politisi yang harus menentukan sejak tahapan awal bakal calon hingga menjadi calon. Debat nurani politisi pun bukan main-main karena bisa jadi pilihan partai bukan pilihan nuraninya. Dan peristiwa seperti ini adalah sesuatu yang lumrah dalam dan sering terjadi di berbagai pengalaman politik pelosok tanah air. Walau demikian, ada orang yang telah selesai debat nurani politiknya di awal pesta demokrasi bahkan jauh sebelumnya, ada juga yang galau bahkan sampai penghujung kampanye. Beragam faktor memengaruhi. Bahkan ada yang ingin mengelak keluar dari demokrasi. Tapi apakah kita punya pilihan metode memilih selain one people one vote..negara tidak menawarkan itu bahkan kita terpaksa melewati musyawarah mufakat sebagai amanah dan cerminan sila ke 4 Pancasila. Kita seolah terpaksa dan dipaksa menggunakan demokrasi sebagai tafsir "kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan". 

Kampanye Dialogis dan Debat Publik memang telah berlalu. Dalam kampanye dialogis memang tampak benar show of force. Meski lemah karena kampanye dihadapan konstituen sendiri. Beruntung era ini kita punya bahasa kaum media sosial. Dalam Debat Publik cenderung terasa seluruh pendukung hadir menikmati debat santai guyub dan penuh penghormatan antara calon. Ada adagium yang sering kita dengar. Apa yg tampak apa yg ada di nurani, bahasa menunjukkan (diri) bangsa, satu ucapan dengan perbuatan, orang seimbang tatkala jiwa dan raga berasa sama seiring sejalan seia sekata. Para kandidat menunjukkan itu. Ujian ketahanan diri, kestabilan emosi, ketenangan jiwa dan kedalaman intelektual sebenarnya cukup menjadi "ujian" selain substansi menjawab persoalan dan sentuhan solusi yang ditawarkan.

Debat publik mengaddress bahkan mengkonfirmasi banyak pesan mendalam. Pesan mendalam ini harus merasuk meresap bahkan menjadi pertimbangan handal dan reliabel dalam menentukan persepsi otak dan nurani bahwa sesungguhnya manusia itu banyak kelemahan dan kekurangan. Dalam konteks kualitatif, persepsi satu orang tidak bisa digeneralisir menjadi persepsi kolektif. Persepsi cenderung tidak bisa dimobilisasi. Semisal, bisa jadi calon yang selama ini kita agung-agungkan, kita puja puji, hebat dan luar biasa kapabilitas ternyata tidak secerdas yg kita bayangkan. Pun sebaliknya kandidat yang biasa-biasa saja ternyata bisa keluar dari diri dan emosinya dan menunjukkan kerendahan hatinya. Persepsi orang perorang pra dan pasca debat akan sangat beragam. Pemikiran berkecamuk, kepentingan berperang bahkan integritas diri dan lembaga menjadi pertaruhan. Apapun itu, persepsi menyimpang (bias) tidak bisa menggeser kebenaran nurani. Model apapun debatnya maka setiap orang pasti berdebat dengan dirinya. Terkadang kita bisa keluar terkadang kita terpenjara karenanya. 

Pernahkan kita mencoba menyelami pikiran, rasa, gejolak jiwa, emosi dan apa yang ada di benak para kandidat? Di balik ketenangan, keteduhan, kedamaian dan ucapan dialogis diplomatis bukankah mereka juga berdebat dengan dan dalam dirinya? 
Semoga disana ada perenungan betapa dahsyatnya makna Surah Al Ahzab Ayat 72 yang menyatakan "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh" (QS, 33:72).

Bukankah kita pahami Allah SWT sesungguhnya tidak menawarkan pertama kalinya kepada manusia menjadi khalifah di muka bumi ini ? Bukankah Allah SWT tawarkan kepada langit bumi dan gunung-gunung, tapi mereka semua menolaknya dan manusialah yang mau menerimanya. Bagi siapa yang menerimanya, maka akan menjadi makhluk yang paling sempurna di alam semesta. Maka sebuah keniscayaan jika pemimpin memiliki banyak kelemahan karena seharusnya memiliki syarat kecakapan, kapabilitas dan (mendekati) sempurna karena harus mampu memberikan banyak ruang kreasi, mengelola sumber daya dan partisipasi dari beragam persepsi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Dalam dua hari ini di ketenangan bulan Syawal marilah merenung kembali sambil menikmati debat nurani demokrasi ini. Hati nurani pasti berisi kejernihan dalam menunjukkan kebenaran dan kebaikan. Sedangkan kepala (pemikiran) adalah pertarungan malaikat dan iblis dalam kepentingan kebaikan dan kepentingan keburukan. Maka "serangan fajar" money politic, intimidasi, intervensi dan apapun label pemaksaan hak azasi demokrasi pun tidak boleh lepas dari debat nurani demokrasi itu. 

Sesungguhnya pilihan itu bukanlah di bilik suara. Tapi di bilik hati nurani kita masing-masing. Demokrasi bolehlah menjadi metodologi menghasilkan pemimpin tapi ia bukanlah panglimanya. Akal sehat dari kemenangan nurani lah yang menjadi panglimanya. Debat kita sebagai anak bangsa belumlah selesai. Debat sesungguhnya saat pemimpin terpilih memanggul amanah dalam naungan kitab suci bersaksi menjadi pemimpin atas nama Tuhan. Demokrasi bisa jadi melahirkan pemimpin daerah. Bukan itu semata. Demokrasi tidak berhenti pada menang atau kalah. Demokrasi berfalsafah pada kebaikan. Demokrasi seharusnya menjadi nama lain dari kesejahteraan. Demokrasi adalah pemaknaan mendalam dari berbagi kebaikan dan menjaga nilai-nilai mulia. Bahkan demokrasi adalah keteladanan melahirkan negarawan (umaroh) yang penuh akhlaqul karimah. Para pemimpin hasil demokrasi ini harus menjadi role model bagi terciptanya konstruksi sosial yang lebih nyaman, damai dan mensejahterahkan. Dan inilah makna mendasar Civil Society itu. Berbagi rasa berbagi asa berbagi beban dan tanggung jawab menata masa depan daerah dan bangsa. Demokrasi yang tidak mengarah ke arah itu adalah demokrasi yang mengingkari dirinya. Demokrasi yang jauh kebaikan dan belum tuntas dalam debat nuraninya.
Jawaban tokoh NTB di paragraf awal tadi adalah "nurani saya berdebat tentang kesempurnaan pemimpin. Tapi nurani saya tidak pernah mendebat kebaikan dan kebenaran".(@03)

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan