logoblog

Cari

Tutup Iklan

Rimpu Mbojo Sebagai Identitas Suku Mbojo

Rimpu Mbojo Sebagai Identitas Suku Mbojo

Rimpu Mbojo tak henti-hentinya untuk dikontestasikan, baik itu di wilayah kelahirannya (Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu) maupun di daerah-daerah

Opini/Artikel

KM SANGAJI MBOJO
Oleh KM SANGAJI MBOJO
11 April, 2018 07:51:09
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 7939 Kali

Rimpu Mbojo tak henti-hentinya untuk dikontestasikan, baik itu di wilayah kelahirannya (Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu) maupun di daerah-daerah luar, seperti Ibu kota Negara (Jakarta) dan daerah-daerah lainnya. Kontestasi busana rimpu ini sebagai salah satu upaya untuk menghidupkan kembali busana rimpu di warga suku Mbojo. Lahirnya budaya rimpu oleh tokoh-tokoh suku Mbojo pada saat itu terinspirasi dari kita suci ummat Islam (Alqur’an), yakni surah Al-Ahzab (33; 53 dan 59) dan An-Nur (24;31). Dalam Ayat-Ayat tersebut, sangat jelas bahwa terdapat tiga poin penting yang harus diperhatikan oleh ummat Islam, yakni tentang pembatasan diri, kesopanan, dan identitas. Dalam rimpu Mbojo, ketiga poin tersebut ada.

Sebagai alat pembatas diri, rimpu merupakan cara masyarakat suku Mbojo dalam berhijab. Dalam pandangan ummat Islam, bahwa berhijab merupakan cara ummat Islam untuk membatasi diri dari pandangan kaum laki-laki yang menjadikan wanita sebagai “objek”. Begitupun pemahaman masyarakat suku Mbojo. Dalam pemahaman suku Mbojo bahwa menampakkan aurat dihadapan publik merupakan tindakan yang melanggar norma. Sejalan dengan itu, budayawan Bima, Hilir Ismail dalam Naniek, 2012 mengatakan bahwa dengan tersingkapnya betis saja, wanita zaman dulu sudah merasa malu dan segera minta nikah, mereka menganggap itu sebagai bentuk pelecehan (aib) terhadap wanita. Atas dasar itulah, masyarakat suku Mbojo memilik rimpu sebagai alat pembatas diri.

Sebagai alat kesopanan, berhijab merupakan berpakian yang paling sopan dalam pandangan ummat Islam. Dalam konteks ini, rimpu adalah cara berhijab masyarakat suku Mbojo (khususnya kaum wanita) dengan menggunakan dua lembar kain tradisional tenun (tembe ngoli) masyarakat suku Mbojo dengan tujuan untuk menutup seluruh bagian tubuh, satu lembar kain digunakan sebagai alat penutup kepala dan satu lembarnya lagi sebagai alat pengganti rok (bawahan). Menurut Fatimah, 2017 bahwa dalam budaya rimpu terkandung nilai-nilai positif, yakni nilai keindahan (estetika), nilai kesopanan, nilai moral, dan nilai religi. Walaupun tidak bisa kita nafikan bahwa nilai kesopanan sangatlah relatif. Dalam kalimat lain bahwa nilai kesopanan tergantung cara pandang masyarakat setempat. Dalam konteks ini, menurut cara pandang masyarakat suku Mbojo bahwa pakian rimpu merupakan salah satu cara berbusana yang paling sopan, karena kaum wanita menutup seluruh bagian tubuhnya sehingga terhindar dari pandangan-pandangan yang menjadikan kaum wanita sebagai objek.

Sebagai identitas, jilbab atau hijab merupakan sebuah identitas ummat Islam yang membedakan antara ummat yang lain. Dalam konteks ini, rimpu juga merupakan sebuah identitas muslim lokal suku Mbojo. Di samping itu, rimpu juga sebagai identitas lokal masyarakat suku Mbojo yang membedakan dengan daerah lain. Dalam rimpu terdapat dua model, yakni rimpu cili dan rimpu colo. Rimpu cili diperuntukkan hanya kepada perempuan yang masih perawan (belum nikah) ketika hendak keluar rumah, sedangkan rimpu colo diperuntukkan kepada perempuan yang sudah dipersunting oleh lelaki pujaannya (sudah menikah). Di lihat dari cara pemakiannya bahwa rimpu merupakan sebuah identitas yang membedakan perempuan yang masih perawan atau sudah menikah. Menurut Muhadi, 2012 bahwa ada beberapa hal yang terkandung di dalam rimpu Mbojo, yang pertama adalah rimpu merupakan identitas keagamaan, sehinga pada bagian ini dengan adanya perkembangan dakwah di Bima yang cukup pesat maka kaum wanita mulai mempelajari dan memaknainya sebagai suatu nilai-nilai luhur. Kedua, Rimpu dikombinasikan dengan budaya lokal masyarakat pada saat itu yaitu kebiasaan menggunakan sarung tenun dalam aktitas sosial. Intergrasi ini menjadikan icon budaya Bima yang mulai berkembang. Ketiga, Proteksi diri kaum hawa ketika melakukan interaksi sosial. Klimaks kondisi ini terjadi ketika jaman kolonial Belanda dan Jepang. Keempat, rimpu merupakan alat pelindung terhadap kondisi lingkungan yang buruk, disisi lain juga penjagaan terhadap suhu yang panas sehingga memungkinkan untuk digunakan.

 

Baca Juga :


Merujuk dari pendapat di atas bahwa, rimpu Mbojo merupakan identitas keagamaan, juga merupakan identitas kedaerahan masyarakat suku Mbojo. Sebagai identitas keagamaan karena rimpu sebagai alat proteksi diri kaum hawa dari pandangan laki-laki yang menjadikannya sebagai objek, sedangkan identitas kedaerahaan karena rimpu lahir dan hanya ada di lingkungan masyarakat suku Mbojo. Dalam kalimat lain bahwa rimpu tidak ditemukan dilingkungan suku lainnya.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan