logoblog

Cari

Tutup Iklan

Duduk Tokol Besile

Duduk Tokol Besile

Oleh : miff ( Mahasiswa UIN Mataram) Berkunjung kekediaman senior, bersama ketua rayon Al-Farabi (Bang Iwan), ketua kopri Al-Farabi (sahabati Nisa),

Opini/Artikel

Rizki Handika Tastura
Oleh Rizki Handika Tastura
05 April, 2018 17:15:48
Opini/Artikel
Komentar: 1
Dibaca: 4743 Kali

Berkunjung kekediaman senior,  bersama ketua rayon Al-Farabi (Bang Iwan), ketua kopri Al-Farabi (sahabati Nisa), sahabati Ayuq, dan bang Cipto. Duduk tokol besile, itulah sebutan untuk forum diskusi di Gumi Sasak (Lombok). Duduk tokol besile yang kami selenggarakan di salah satu tempat kediaman senior I Gusti Aziz As Syam yang saat ini menjadi Direktur utama Coin Fondition.
Disana kami duduk tokol besile bersama sahabat-sahabati PMII dan kebetulan waktu itu bang Aziz dikunjungi oleh salah satu sahabat dari cabang Bali yaitu bang Ahad selaku Ketua Cabang Bali.
Disini tidak hanya mengadakan diskusi kecil-kecilan, namun akan ku katakana, tempat ini seakan menjadi ladang berlian yang dimana berlian itu berserakan dimana-mana. Pembahasan yang kita bahas sangat sederhana tapi seakan mencuci otak yang tadi bermuatan negatif menjadi positif. Iya, begitulah sisi hebatnya duduk tokol besile, yang merupakan salah satu jiwa yang dimiliki oleh kader-kader PMII, Sang pengembala ilmu yg tidak begitu mengetahui caranya mengebala, kalau kata bang Aziz “Buta Ilmu”. Namun melalui duduk tokol besile inilah kita dibentuk, dididik, diarahkan dan diberitahu bagaimana system mengembala yang baik dan benar.
Begitu simple pembahasan yang beliau berikan namun, begitu mengenak dan seakan mengubah kinerja otak di dalam diri ku khususnya, dan aku benar-benar merasakan hal itu. Perkataan beliau yang tidak bisa aku lupakan dan seakan menyanyi-menyanyi memutari isi kepalaku, beliau berkata “Kamu tidak bisa menilai seseorang jika kamu tidak mengetahui atau mengenal orang tersebut, kita kenali orangnya atau kita baca biografinya dulu, baru kita boleh menilainya. Kita itu harus menilai secara subjektif. Misalkan gini, nah sekarang saya ajak Ayuq (sahabati dari Al-Farabi) untuk menikah dengan ku, apakah dia mau atau tidak?” (semua orang yang ada ditempat itu tertawa serentak mendengarkan contoh yang diberikan oleh Bang Aziz).

Kemudian Ayuq menjawab “tidak”, “nah itu, dia tidak mau karena dia belum mengenal saya, makannya kita itu harus mengenali orang tersebut terlebih dahulu, baru kita boleh menilainya”. Begitulah penyampaian beliau yang beliau berikan, ilmu yang sangat sederhana, namun seakan mengubah kinerja otak negatif di dalam diri ku khususnya. “ooooo… begitu!!!” itulah jawaban yang selalu aku lontarkan selama duduk tokol besile bersama beliau dan sahabat-sahabati yang lainnya.(Selasa, 03 April 2018). 
Begitu asyik dan seru pembahasan ini, yang seakan membuatku tidak ingin beralih dari tempat duduk. Dan satu lagi perkataan beliau yang tidak bisa aku lupakan, “Kita itu tidak bisa mengkritik dia karena puisinya, karena dia orang sastra, sedangkan kamu anak ekonomi (mengkritik orang yang berbeda keahlian dengan diri kita), toh juga orang matematika sama orang ekonomi 3X4 bisa berbeda hasilnya, orang matematikan 3X4=12 orang ekonomi 3X4 bisa sama dengan 6.000”. Dalam hal ini seakan membuat hati ku tersentak diam, “oooo berarti selama ini aku salah, hehee” itu sebuah pengakuan dalam diri yang selalu terucap. Dan satu lagi, perkataan dari bang Ahad yang sangat membuka mata pikiran saya khususnya, dan saya lebih senang mengatakan ilmu yang diberikan oleh bang ahad sebagai sebuat teori penguji reverensi yang benar, kenapa saya mengatakan hal tersebut, karena beliau mengajarkan kita dan mengarahkan kita untuk melihat perbedaan dari pendapat situs dengan pendapat buku. Dan itu terbukti bahwa buku itu merupakan sumber ilmu yang paling baik untuk diterapkan. Ada dua kata yang selalu bang Aziz dan bang Ahad katakan diwaktu duduk tokol besile kemarin, “BACA BUKU”, dua kata yang sangat sederhana, namun memiliki makna yang luar biasa.
Jadi saya berkesimpulan dari hasil duduk tokol besile tersebut, kita itu tidak boleh menilai orang salah atau benar jika kita belum mengetahui orang tersebut, karena kita itu harus menilai seseorang secara subjektif. Karena jika kita menilai orang tidak secara subjektif, maka tanpa kita sadari bahwa kita sudah menciptakan hoax pada diri kita dan kepada orang lain.
Begitulah ilmu yang saya dapatkan dari beliau-beliau, selaku senior PMII. Sangat sederhana, namun memiliki makna yang begitu mendalam. Memang benar kata orang, duduk tokol besile (diskusi) itu tidak akan pernah merugikan seseorang. Dan itulah yang selalu diterapkan di dalam PMII. Berdiskusi, berdialog dan berinteraksi.

 

Baca Juga :




 
Rizki Handika Tastura

Rizki Handika Tastura

Nama : Rizki Handika Putra Alamat: Barabali Batukliang No Hp : 085386480824 " Mahasiswa"

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Abi safrullah

    Abi safrullah

    07 April, 2018

    Itu yang menjadi permasalahan dan sekaligus menjadi PR kita sekarang, bagaimana kita selaku senior PMII menghegemoni kader2 supaya minat "Baca Buku" mereka bertambah bukan hanya mendengar celoteh-celateh yg belum jelas.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan