logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ketika Gubernur TGB Melakukan "Kesalahan"

Ketika Gubernur TGB Melakukan

Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk Gubernur NTB, TGB KH M Zainul Majdi. Ulama kharismatik yang menjadi umara itu juga tercatat

Opini/Artikel

Azwar Zamhuri
Oleh Azwar Zamhuri
19 Maret, 2018 02:07:11
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 9265 Kali

Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk Gubernur NTB, TGB KH M Zainul Majdi. Ulama kharismatik yang menjadi umara itu juga tercatat beberapa kali melakukan kesalahan, khilaf. 

Menulis kebaikan, kehebatan, prestasi dan kecemerlangan seorang TGB, sangat mudah. Bahkan, kekeliruan yang dialakukan pun, bisa disulap menjadi pujian atas lapang dada yang ditunjukkan. 

TGB seorang ahli tafsir, penghafal Al-Qur'an dan berwawasan luas. Namun, cucu pahlawan nasional itu tetap saja seorang manusia, yang tidak semua hal dikuasai dengan baik. Disinilah pentingnya orang-orang baik yang harus berada di sekelilingnya. 

Pertama, dimulai dari APBD Provinsi NTB tahun 2016 yang sempat menghebohkan eksekutif dan legislatif. Tidak tanggung-tanggung, mencuat dana siluman sebesar Rp 33 miliar waktu itu.

Dana tersebut disahkan masuk APBD tanpa sepengetahuan pimpinan legislatif. Diduga kuat, telah terjadi persekongkolan para mafia anggaran. 

Gubernur TGB, juga selaku kepala daerah kurang mengetahui sumber dana siluman itu. Tiba-tiba saja muncul Rp 33 miliar untuk pembangunan penambahan gedung di komplek kantor gubernur terdiri dari 4 lantai yang akan ditempati oleh Biro Humas, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dan Polisi Pamong Praja (Pol-PP).

Beberapa pihak terkait kepanasan. Entah siapa pemainnya, gubernur selaku kepala daerah harus bertanggungjawab. Perbuatan siapapun, yang sudah pasti adalah tidak lepas dari oknum jajarannya. 

TGB khilaf, atau ditelikung. Yang pasti, dirinya harus menyelesaikan kesalahan tersebut. Tidak bisa dibenarkan, dana sebesar Rp 33 miliar muncul secara tiba-tiba seperti siluman. 

Disinilah sikap kenegarawanan seorang TGB diuji. Marah dan kecewa, tentu saja dirasakan. Akhirnya, untuk menebusnya, TGB lebih memilih untuk tidak sama sekali menggunakan dana sebesar Rp 33 miliar itu. 

Catatan kesalahan kedua, lebih parah lagi pada tahun yang sama 2016 lalu. Atas kehebatan yang selalu ada kelemahan, dosa besar pernah dilakukan dalam proses penjualan saham PT DMB. Kembali harus diakui, TGB juga manusia. 

Dalam prosesnya, saham PT DMB dijual tanpa persetujuan DPRD NTB. Permainan kilat dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, TGB tidak menyadari kesalahan fatal yang telah terjadi. 

Para petinggi NTB, baik eksekutif maupun legislatif tidak mau mengalah. Selalu merasa benar dan ingin menang sendiri. TGB, tentu saja harus mendapatkan nasehat dari orang-orang baik di sekelilingnya agar tidak terjebak. 

Setelah akademisi dan pakar hukum NTB memberikan kritikan keras yang tajam, TGB kembali menunjukkan sikap kesatria. Mengaku jika keliru, memperbaiki semua kesalahan itu. Meminta Persetujuan DPRD sebagai penebus dosa, pun dilakukan. TGB selamat dari jurang pelanggaran perundang-undangan. 

 

Baca Juga :


Catatan ketiga, kesalahan fatal yang dilakukan TGB dalam proses pembentukan PT BPR NTB tahun lalu. Perang nepotisme dan kepentingan, telah membuat orang-orang tertentu mengelabui TGB. 

Dalam penentuan jajaran Direksi dan Komisaris PT BPR NTB, SK yang diterbitkan TGB melanggar Perda. Bahkan, perbuatannya melampaui kewenangan dirinya selaku gubernur. 

TGB khilaf, melakukan kesalahan sebagai manusia biasa. Tidak ada niatnya melanggar Perda, TGB adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi regulasi di atas kepentingan pribadi. 

Persoalannya, tidak semua hal diketahui. Lagi-lagi terbukti, bahwa orang-orang di sekelilingnya haruslah berjiwa baik. Bukan justru memanfaatkan kekurangan TGB untuk bisa menitip kepentingan-kepentingannya. 

Setelah digempur kritikan setiap hari, TGB sadar ada kesalahan yang telah dilakukan. Saat itu, dibutuhkan jiwa besar untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya. 

Sosok TGB, tentu saja memiliki ego tinggi. Apabila telah memutuskan sesuatu, maka pantang untuk dirubah atau dicabut kembali. 

Namun kematangannya patut diteladani. TGB rela menganulir SK yang dikeluarkan sebelumnya. Sangat berat memang, memperbaiki sesuatu yang sebenarnya karena kesalahan orang lain. Dalam hal ini, tentu saja jajarannya yang tidak memberikan kebenaran sesungguhnya. 

TGB khilaf, TGB keliru, TGB melakukan kesalahan. Itu hal yang lumrah sebagai manusia biasa. Namun, bagaimana mengakui kesalahan dan memperbaikinya, tidak semua pemimpin bisa melakukan itu. Dan TGB, telah membuktikannya. 

Ego, harga diri, kehormatan dan kepentingan kelompok, disingkirkan demi menjaga pemerintahan yang baik. TGB telah mengajarkan banyak hal, permainan kotor oknum-oknum tertentu harus tetap disikapi dengan bijak. 

Bagaimana jadinya, jika Gubernur NTB bukan TGB? Kepentingan kelompok, nepotisme dan keuntungan pribadi akan menguasai. Sementara daerah dan kebutuhan rakyat, hanya akan menjadi batu tapal keserakahan. 

Semoga TGB, seperti kata Dahlan Iskan, adalah pemimpin Indonesia kedepannya... []



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan