logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menimbang Potensi TGB Sebagai Cawapres Jokowi

Menimbang Potensi TGB Sebagai Cawapres Jokowi

Perhelatan pemilihan umum (pemilu) 2019 sudah sangat dekat. Beberapa waktu lalu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia sudah mengumumkan kepada pablik

Opini/Artikel

KM. Mutiara
Oleh KM. Mutiara
02 Maret, 2018 12:29:19
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2907 Kali

Perhelatan pemilihan umum (pemilu) 2019 sudah sangat dekat. Beberapa waktu lalu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia sudah mengumumkan kepada pablik partai politik peserta pemilu 2019. Terdapat 14 partai politik sudah mengantongi tiket untuk ikut berpartisipasi dalam perhelatan terbesar 5 tahun sekali bangsa ini. 4 parpol di antara 14 parpol yang lolos merupakan parpol baru sebut saja Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Berkarya dan Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda). Sedangkan partai peserta pemilu 2014 lalu 2 dinyatakan tidak lolos yakni Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), sedangkan partai yang lain dinyatakan lolos oleh KPU RI.

Ditetapkannya parpol peserta pemilu 2019 tentu menandakan bahwa bendera perang sudah dikibarkan. Parpol mulai mencari strategi yang pas untuk bagaimana bisa memenangkan pemilu 2019 mendatang. Namun pemilu 2019 mendatang akan terasa berbeda, ini di karenakan pemilu legislatif dan pemilu presiden dilakukan secara serentak pada hari yang sama. Pemilu sebelumnya 2004, 2009 dan 2014 pileg dan pilpres dilakukan secara terpisah, namun pada tahun 2019 mendatang hal ini akan dilaksanakan secara serentak.

Tentu menarik untuk diikuti bersama, perhelatan memilih kembali pemimpin tertinggi di negara besar seperti Indonesia ini. Hawa panas perhelatan pilpres memang sudah mulai terasa pada beberapa bulan ini. Berbagai lembaga survei mulai mengocok-ngocok pasangan yang akan berlaga pada pilpres yang akan datang. Nama yang muncul adalah nama-nama lama tahun 2014 seperti Jokowi dan Prabowo. Kedua putra terbaik bangsa ini akan kembali bertarung dalam pilpres 2019 mendatang.

Sempat tersebar kabar bahwa Jokowi ingin menggandeng Prabowo sebagai wakil presiden, namun kabar ini hanya terdengar seperti kabar angin semata, mengingat Prabowo sudah tidak bisa di tawar lagi ingin menjadi presiden RI untuk selanjutnya. Buntuya pembicaraan koalisi Jokowi-Prabowo tentu menjadikan posisi RI 2 menarik untuk diperbincangkan.

Berbagai lembaga survei memang sudah melakukan perhitungan survei siapa yang akan menggandeng Jokowi pada pilpres 2019 mendatang. Beberapa nama yang muncul ke publik misalnya nama M. Romahurmuziy, Jendral Gatot Nurmantio, A. Muhaimin Iskandar, Sri Mulyani, M. Sohibul Iman, Agus H. Yudhoyono bahkan putra terbaik NTB TGH. M. Zainul Majdi masuk kedalam bursa survei.

Nama-nama besar diatas memang sudah tidak asing lagi dalam dunia politik nasional. Misalnya M. Romahurmuziy yang merupakan ketua umum PPP. Tidak hanya itu, terah keturunan beliau juga sangat jelas lahir dari kalangan santri Nahdlatul Ulama yang memiliki basis ormas terbesar di Indonesia setelah Muhammadiyah. Selain itu nama A. Muhaimin Iskandar (Cak Imin) juga tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, beliau merupakan ketua umum PKB yang partainya adalah basis jamiiyah NU. Begitupula dengan nama-nama lainnya seperti Sri Mulyani yang merupakan menteri keuangan terbaik dunia, M. Sohibul Iman ketua umum PKS, Agus H. Yudhoyono anak dari SBY yang sedang populer karena kegagahannya dikalangan anak muda. Yang menjadi pertanyaan besar adalah masuknya nama TGH. M. Zainul Majdi yang lebih dikenal dengan nama TGB kedalam bursa cawapres Jokowi.

Penulis sangat terkejut melihat beberapa hasil survei nama TGB selalu muncul, walaupun persentasenya sedikit. Namun masyarakat NTB tentu harus berbangga karena putra terbaiknya mampu disandingkan dengan tokoh-tokoh politik hebat nasional. Pada artikel ini, penulis tentu sangat tertarik membahas dan menimbang-nimbang seberapa besar potensi TGB menjadi cawapres mendampingi Jokowi di pilpres 2019 mendatang.

Masuk menjadi radar cawapres Jokowi memang tidak semudah membalikkan tangan, mengingat sederet nama besar politik nasionalpun belum tentu masuk. Masuknya nama TGB tentu memiliki dasar dan perhitungan kuat dari beberapa lembaga survei. Beberapa informasi kemudian penulis kumpulkan apa alasan terkuat sehingga putra NTB ini masuk menjadi bursa cawapres Jokowi, dan yang paling kuat adalah karena TGB merupakan kalangan santri (ulama) dan Umaro’.

 

Baca Juga :


TGB merupakan pemimpin (gubernur) yang dibilang sukses dalam memimpin NTB selama 2 periode. Masyarakat NTB tentu merasakan betul buah karya yang di persembahkan dalam kurun waktu 10 tahun. Berbagai sektor sangat nampak jelas hasilnya, salah satunya adalah munculnya brand wisata syariah di NTB. Tidak hanya itu, baru-baru ini, TGB juga menyabet salah satu gubernur terbaik di Indonesia. Selain menjadi Umaro’, keberhasilan TGB juga terlihat sebagai ulama’ yakni beliau merupakan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (NW) ormas terbesar yang ada di NTB.

Jika melihat latar belakang TGB, memang masuk kepada kriteria cawapres Jokowi. Jika kita merefleksi sejarah kepemimpinan pasca orde baru, presiden dan wakil presiden di Indonesia memang membutuhkan duet Nasionalis dan Religius (agamais). Contohnya Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Megawati, Gus Dur merupakan tokoh Religius dan Megawati tokoh Nasionalis, kemudian Megawati dengan Hamzah Haz juga duet Nasionalis-Religius, kemudian Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kala juga Nasionalis – Religius karena JK merupakan presidum KAHMI waktu itu dan juga salah satu Mustasyar PBNU. Hanya pasangan SBY – Budiono saja yang duet Nasionalis. Jika melihat memori diatas tentu memiliki catatan penting bagi kita semua bahwa duet Nasionalis-Religius sangat berpotensi besar terjadi di pilpres 2019 mendatang.

Lalu bagaimana dengan potensi TGB dengan analisis tersebut diatas, dan seberapa besar potensinya untuk mendampingi Jokowi di 2019. Jika pertanyaannya demikian, memang kita tidak memiliki jawaban pasti apakah nantinya TGB berpotensi atau tidak namun tentu kita bisa jawab itu dengan analisa. Kita ketahui bersama bahwa TGB hari ini masih menjadi kader partai Demokrat. Partai ini kita ketahui bersama merupakan partai yang pernah berkuasa selama 2 periode pemilu. Partai Demokrat juga masih memiliki kekuatan secara basis nasional yang tentunya sangat dibutuhkan oleh Jokowi dalam meraup suara di pilpres 2019. Namun SBY tentu tidak akan mudah memberikan restu kepada TGB, karena kita ketahui bersama bahwa partai ini sangatlah kental dengan nuansa keluarga, TGB harus bersaing ketat dengan Agus H. Yudhoyono (AHY) yang beberapa waktu lalu mulai di branded oleh SBY ketika pilkada DKI Jakarta. Kita ketahui bersama, AHY menjadi idola baru kalangan anak muda saat sekarang ini, tentu ini adalah batu sandungan TGB melenggang mulus mendapat restu SBY maju menjadi cawapres Jokowi.

Selain itu potensi TGB menurut analisis penulis memang sangat ada kemungkinan, kenapa demikian? ini di karenakan sosok seorang Jokowi sangat membutuhkan yang namnya pendamping dari kalangan santri, dan TGB memang sangat pas dengan hal itu. Meskipun ini tidak cukup karena beberapa nama cawapres yang muncul juga ada yang dari kalangan santri, seperti M. Romahurmuziy dan A. Muhaimin Iskandar. Namun jika kita ambil garis merahnya jika duet Nasionalis-Religius maka AHY tidak akan bisa masuk kedalam bursa, mengingat latarbelakangnya dari militer. Ini tentu poin besar bagi TGB untuk melakukan loby politik kepada SBY agar mendapat porsi cawapres itu.

Jika sudah seperti ini, hal yang mesti dilakukan TGB hari ini, selain kegiatannya keliling kesana kemari silaturrahim kepada kiyai-kiyai, ulama-ulama, namun yang terpenting adalah mengambil hati SBY agar partai Demokrat mau mendukungnya menjadi cawapres. Penulis rasa kuncinya disitu, potensi akan sangat besar dan di perhitungkan oleh partai koalisi jika TGB datang membawa kekuatan juga, tidak hanya membawa dirinya. Harus diingat juga bahwa beberapa parpol sudah menyatakan diri untuk mengusung Jokowi pada pemilu 2019 mendatang seperti PPP, Hanura, Nasdem, Golkar dan PDIP. Akan sangat diperhitungkan kalau Demokrat masuk menjajaki koalisi.

Jika kita menimbang-nimbang seberapa besar peluang Potensi TGB menjadi cawapres Jokowi tentu jawabannya sangat besar dengan catatan mampu merayu SBY agar partai Demokrat mau mendukung TGB, dan itu harus dilakukan secara cepat mengingat penetapan capres dan cawapres tinggal beberapa bulan lagi. Jika TGB datang terlambat makan potensi itu hanya sebatas mimpi saja, ingat bahwa para partai koalisi pun sedang tarik ulur menyodorkan nama cawapresnya kepada koalisi, jika datang terlambat maka sudah barang tentu sia-sia saja. []



 
KM. Mutiara

KM. Mutiara

Baca yang seharusnya diBaca Fikir yang seharusnya diFikirkan Kerja yang seharusnya diKerjakan Kampung Medianya PMII admin @Yas Arman Al Yho Baca-Fikir-Kerja

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan