logoblog

Cari

Tutup Iklan

TGB, Bintang Muda di Langit Zaman

TGB, Bintang Muda di Langit Zaman

Oleh: Adam G Parra* Gagal Jadi Ustadz Karena Kerbau Kerotok adalah sebuah dusun kecil di tengah dataran bergelombang-gelombang yang diapit sepasang

Opini/Artikel

KM. Abiantubuh
Oleh KM. Abiantubuh
20 Februari, 2018 19:13:18
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 15538 Kali

Oleh: Adam G Parra*

Gagal Jadi Ustadz Karena Kerbau

Kerotok adalah sebuah dusun kecil di tengah dataran bergelombang-gelombang yang diapit sepasang bukit (Gopol di selatan dan bukit Sasak di utara). Di atas tanah padas berbatu kerikil ini jarang tampak pepohonan, kecuali hamparan rumput kering dan gerombolan burung gagak yang terbang melintas dengan putus asa di bawah lengkung langit berwarna perak. Kawanan burung itu seolah ditakdirkan untuk terbang mondar-mandir di antara kedua bukit, untuk mengawasi kami, bocah-bocah dekil, yang sedang menggali sisa ubi, bekas panen, di atas rekahan tanah yang keras seperti batu apung. 

Waktu itu kami tak mengerti arti penderitaan, karena penderitaan itu adalah kami sendiri, sehingga kami bisa tertawa lepas ketika menyaksikan sepasang turis berpakaian minim berjalan seperti regak di pematang sawah. Kedua turis berambut jagung itu pun ikut tertawa dan menyapa kami dengan kata “hallo.” Itulah pertama kali kami mendengar kata hallo, yang kini sangat populer di mulut bocah-bocah pedagang asongan di kawasan Kute dan Selongblanak. Dan, anehnya, tanpa sebab yang jelas, kata hallo itu menjadi bahan tertawaan kami hingga berhari-hari kemudian, ketika ada seorang teman yang sengaja mengucapkannya dengan maksud mengundang tawa. 

Apakah secara kultural keadaan kami sebagai anak-anak begitu tragis dan miris, sehingga kata hallo pun kami jadikan bahan tertawaan atau lelucon? Padahal jika dicermati, tertawa kami yang tidak jelas motifnya itulah yang sesungguhnya lelucon.

Memang kondisi lingkungan geografis yang tropis tak membuat kami hanya sebatas miskin pangan, tapi juga miskin permainan. Satu-satunya jenis permainan yang kami kenal hanya membuat patung kerbau dari tanah liat, yang tanahnya kami ambil dekat mata air di pinggir sungai. Dari dunia bermain membuat patung ini terdapat seorang tokoh cilik “seniman kecil” bernama Boding. Boding yang kepalanya dipenuhi robok (bisul) ini sangat mahir membuat patung kerbau. Ia pernah membuat belasan patung kerbau seukuran pisang kepok. Patung-patung kerbau itu kemudian didederetkannya di pematang, sehingga seolah-olah sedang berjalan di pematang sawah yang menanjak ke arah rumah kami di atas (montong). Kami terkagum-kagum pada kemampuan Boding membuat patung. Tetapi, sekitar 40-an tahun kemudian (tepatnya tahun 2005) kami mendengar kabar bahwa Boding meninggal dunia di Mekah, tempat ia bekerja sebagai TKI. 

Kerbau memang hewan berharga di masyarakat kami, seperti halnya lembu bagi masyarakat Hindu. Selain dapat membantu petani membajak sawah, dagingnya juga lezat untuk dimakan (meskipun kami jarang sekali mengonsumsi daging, kecuali pada hari-hari besar seperti Maulid dan Idul Fitri). Warga yang memiliki beberapa ekor kerbau akan dipandang sebagai keluarga mampu (menurut standar hidup masyarakat kami). Menyadari betapa besarnya peran dan pengaruh kerbau di tengah lingkungan sosial masyarakat kami ini, sehingga memiliki kerbau merupakan obsesi dari setiap orang, terutama laki-laki. Jika Anda menanyakan cita-cita pada setiap bocah laki-laki di kampung kami, jawaban mereka pasti ingin punya kerbau. Karena memiliki kerbau merupakan kebanggaan tersendiri di masyarakat kami yang bercorak agraris.

Lantas apa fungsi dan makna agama di tengah lingkungan sosial yang terdiri dari puluhan KK, dan menempati rumah-rumah gubuk sederhana dari tanah liat dan bambu itu?

Suatu hari kampung kami kedatangan seorang tamu, seorang laki-laki bersorban. Semua orang, laki-laki dan perempuan, berhamburan keluar dari rumah mereka, untuk menyambut laki-laki itu. Mereka berebutan menyalami dan menciumi tangannya. Terdengar juga suara mereka memberitahu tetangganya “Tuan Guru Pancor, Tuan Guru Pancor!” katanya dengan nada gembira dan bersemangat. Ya, kehadiran seorang Tuan Guru akan selalu membuat warga kampung kami bergembira. Anak-anak juga dituntun oleh orangtuanya untuk menyalami laki-laki itu. Masih melekat dalam ingatan saya ketika pria bersorban itu mengelus-elus kepala saya sambil berkata, “Taruh anak ini ngaji di Pancor.” katanya dalam bahasa Sasak.

Sebulan kemudian ibu mengajak saya ke pasar dan membelikan 2 potong baju dan sarung. Waktu itu saya belum paham maksud ibu. Tapi ketika keesokan harinya ayah mengajak saya pergi dari rumah dan mengatakan bahwa saya akan tinggal di kerbung (pondok pesantren), saya seketika menangis. Saya katakan, “Saya tidak mau mondok.” karena merasa berat meninggalkan kerbau kami satu-satunya. Ayah berusaha membujuk saya dengan segala cara, termasuk mengancam tidak akan diberi makan, tapi tidak mempan. Saya tetap ngotot dengan sikap saya, lebih memilih jadi gembala kerbau ketimbang santri.

Oleh karenanya, ketika Dr. Salman Faris menjemput saya ke Mataram (sekembali dari Jakarta tempat saya tinggal selama puluhan tahun) dan mengajak saya berziarah ke makam Maulana Syeikh di Pancor, saya rasakan itu sebagai bentuk permintaan maaf saya kepada Hadratus Syaikh TGH M Zainuddin Abdul Madjid, juga almarhum ayah saya, karena telah menolak keinginan mereka.

 

Baca Juga :


Pada akhirnya jalan hidup manusia memang sulit ditebak, karena itu murni rahasia sang nasib. Seandainya dulu saya mengikuti ajakan Maulana Syeikh untuk mondok di Pancor, mungkin sekarang saya sudah jadi Ustadz bahkan Tuan Guru. Tetapi, terhadap “penyimpangan” jalan hidup tersebut saya suka berseloroh (untuk menghibur diri), kalau dulu saya jadi mondok di Pancor, tentu yang akan jadi Tuan Guru dan Gubernur NTB adalah saya, sehingga Anda tidak akan melihat kemegahan NTB seperti sekarang. Tetapi, dengan ketidakhadiran saya di Pancor, akhirnya Anda akan menyaksikan orang NTB jadi orang No. 1 atau No. 2 di Republik ini.  

 

Orang Besar dari Pulau Kecil 

Kelahiran seorang tokoh besar dalam bidang apapun, tak bisa dipaksakan oleh manusia atau mesin politik. Ia adalah “anak” sejarah yang lahir dari proses persenyawaan ruang dan waktu, yang jika meminjam terminologi Ibnu Khaldun atau Darwin, butuh proses historis di dalamnya, dan itu memakan waktu bilangan abad, seperti yang kita saksikan lewat kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Cicero, Napoleon, atau pendiri Amerika Thomas Jefferson, dll. Ia tak bisa ditempuh lewat rekayasa genetika seperti yang umum dikembangkan dalam industri peternakan atau budidaya pertanian (agrikultur). 

Sejarah politik pun demikian. Setelah satu abad Soekarno, panggung sejarah Indonesia seperti suwung (kosong) dari manusia (baca: tokoh besar). Panggung hanya diisi oleh para pemain figuran (tokoh tidak penting), yang dilahirkan oleh keadaan, karena “terpaksa”, daripada panggung kosong, sehingga akan berpengaruh terhadap jalannya roda sejarah. Oleh karenanya harus diadakan. Meskipun kehadiran tokoh-tokoh semacam itu (figuran) kerap menimbulkan masalah di tingkat internal atau eksternal. 

Di tengah “kekosongan” sejarah pasca-Soekarno itulah, di belahan timur Indonesia “mengorbit” seorang bintang baru, yang sinarnya terus berpijar menembus kegelapan langit Indonesia. Dia adalah hujjatul Islam Dr. TGH M Zainul Majdi, MA, alumni Universitas Al-Azhar Cairo, yang selama 2 periode mendapat amanah sebagai Gubernur NTB. Selama menjadi Gubernur, karier politik dan ketokohan TGB tampak berbinar-binar. Sebagai Gubernur TGB seakan menjadi “ anak emas” dari dua Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo). Selama TGB jadi Gubernur, Provinsi NTB seakan mendapat perhatian khusus dari pemerintah Pusat (Jakarta). Berkali-kali daerah NTB mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah untuk penyelenggaraan berbagai even berskala nasional dan internasional. Kedua Presiden RI itu juga sangat sering menyambangi NTB, sehingga di mata warga NTB sendiri “samar-samar” muncul kekhawatiran akan timbulnya kecemburuan dari daerah lain. 

Sebagai Ulama dan intelektual yang menyandang gelar mufasir dan takhfish, TGB juga sangat populer di kalangan para ulama, itu terbukti ketika secara aklamasi TGB terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni Universitas Al-Azhar Cairo di Indonesia. NTB juga berkali-kali dikunjungi para ulama internasional, baik yang berasal dari Timur Tengah atau Eropa (Turky), dll. Selain dikunjungi para ulama besar dunia, NTB juga beberapa kali mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah kegiatan Islam berskala internasional, di antaranya Konferensi Ulama Internasional di Islamic Center NTB tahun 2017 lalu. (bagian 1 dari 2 tulisan).

Adam G Parra, adalah seorang Sasakolog.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan