logoblog

Cari

Tutup Iklan

Memahami Warisan Ilmu Astronomi Tradisi Sasak

Memahami Warisan Ilmu Astronomi Tradisi Sasak

KM. Sukamulia - Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh. Bismillahirrohmanirrohim. Sesuai takdirnya, manusia diciptakan dengan akal yang membuatnya mampu menerjemahkan konsep penciptaan jagad raya

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
09 Januari, 2018 20:57:06
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 8071 Kali

KM. Sukamulia - Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh. Bismillahirrohmanirrohim. Sesuai takdirnya, manusia diciptakan dengan akal yang membuatnya mampu menerjemahkan konsep penciptaan jagad raya dan seluruh isinya yang kemudian ditransformasikan ke dalam wujud aplikatif untuk kemaslahatan hidupnya. Dengan akal itulah manusia membaca segala pertanda, baik  yang nampak dan tak nampak kemudian menjadikannya pengetahuan yang bermanfaat. Kemampuan semacam ini meliputi seluruh aspek kehidupan, baik yang melekat pada diri, lingkungan sosial dan alam, dan benda-benda langit yang jauh tergantung di bawah kolong langit sekalipun.

Salah satu hal yang cukup lama mendapatkan perhatian manusia dari zaman ke zaman adalah membaca pergerakan dan posisi benda langit yang kemudian dikaitkan dengan berbagai kejadian atau situasi di lingkungan sekitarnya. Disebut kecerdasan astronomis yang telah dikembangkan manusia setidaknya 7 abad sebelum masehi. Pengetahuan ini lah yang kemudian memungkinkan manusia berpindah posisi secara bebas tanpa takut tersesat untuk menemukan jalan kembali. Berdasarkan banyak bukti antroplogis, berupa artefak dan idiofak, masyarakat Sasak diyakini sudah sejak dahulu kala telah menguasai bidang ini.

Di antara bukti yang ada, di masyarakat Sasak ditemukan papan warige yang merupakan alat pencatat data empiris yang menunjukkan hubungan yang kuat antara pergerakan benda langit dan perubahan musim di lingkungan alam. Warige merupakan bukti kecerdasan leluhur Sasak yang telah mampu membuat catatan yang begitu sistematis dan terperinci yang dicatat dalam bentuk simbol-simbol yang terukir rapi di atas sebuah papan kayu. Selain itu, alat ini juga berkaitan dengan peran Kyai dalam tatanan sosial masyarakat Sasak yang memiliki peran sangat strategis untuk memelihara khasanah pengetahuan astronomis yang kemudian ternyata menunjukkan keyakinan yang kuat akan hubungannya dengan aspek spiritualitas yang diyakini dan dipedomani masyarakat Sasak.

Transfer pengetahuan kepada Kyai dari generasi dan generasi tersampaikan dengan pengajaran secara lisan yang terukir kuat dalam ingatan, meskipun tidak melalui proses belajar yang modern. Kepada masyarakat, proses transfer pengetahuan ini kemudian disampaikan dengan media serupa, berupa tradisi lisan berbentuk mitologi dan legenda yang hingga kini tetap berada dalam memori kolektif orang Sasak. Salah satu legenda dimaksud adalah kisah Putri Mandalika yang bergenre cerita rakyat tentang kecantikan seorang wanita dan kompleksnya romantika yang menghiasinya. Pada dasarnya, kisah ini merupakan media penghantar pengetahuan astronomi yang cukup kompleks. Dengan kemasan sastra, pengetahuan astronomi ini kemudian menjadi mudah dipahami masyarakat Sasak di zaman dahulu dan terus hidup bersama hidupnya kelisanan masyarakat Sasak.

Dalam versi yang banyak beredar tentang legenda Putri Mandalika, dikisahkan bahwa sang putri akhirnya menerjunkan diri ke tebing di pinggir lautan setelah sebelumnya berjanji kepada satu per satu pangeran yang melamarnya untuk memberikan jawaban pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak. Seluruh pangeran yang datang dengan seluruh pengiringnya beranggapan bahwa pada tanggal itu mereka akan datang bait janji (menjemput janji) sang putri. Ternyata, seluruh pangeran datang dan saling bertanya-tanya mengapa semua pangeran datang ke tempat dan waktu yang dijanjikan oleh sang putri. Sejak saat itulah masyarakat Sasak kembali ke tempat itu untuk mengenang Putri Mandalika, dan yang ditemukan setiap tahun adalah kemunculan binatang laut berwujud cacing yang kemudian disebut nyale. Berangkat dari fenomena kemunculan nyale ini, janji sang putri kemudian dikaitkan oleh masyarakat Sasak dengan kemunculan nyale setiap tahunnya muncul di beberapa titik di sepanjang pantai selatan Pulau Lombok.

Kemunculan ini kemudian dirayakan sebagai pesta adat Bau Nyale yang dilakukan berdasarkan hasil perhitungan para tetua adat di masyarakat sekitar. Versi lain mengatakan, Putri Mandalika sebenarnya diangkat ke langit dan menjelma menjadi sebuah rasi bintang yang diyakini sebagai penanda tahun bagi orang Sasak, yaitu rasi bintang Rowot. Rasi bintang ini lah yang kemudian menjadi pedoman perhitungan bilangan bulan, yang sebenarnya adalah mangse (musim), konsep bulan yang berbeda dengan yang dimiliki sistem penanggalan masehi maupun hijriyah.

Ada satu kesamaan dari seluruh versi kisah Putri Mandalika, yaitu penyebutan tanggal 20 bulan (mangse) 10 yang merupakan acuan menentukan waktu pencarian nyale bagi masyarakat Sasak. Namun, dalam perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, menunjukkan bahwa kemunculan Nyale pada dasarnya merupakan pola migrasi hewan yang biasa dilakukan berbagai jenis hewan akibat perubahan musim. Banyak pola migrasi yang dicatat oleh pengamat fauna, misalnya pola migrasi ikan paus di perairan dekat Australia menuju perairan Nusa Tenggara Timur setiap tahunnya akaibat suhu yang meningkat di benua Australia. Berbagai jenis burung juga dicatat melakukan migrasi besar-besaran pada waktu tertentu. Pola migrasi hewan ini pada dasarnya sangat bergantung pada perubahan yang terjadi di berbagai belahan bumi, misalnya naiknya suhu permukaan laut, perubahan arah angin, posisi matahari terhadap suatu wilayah tertentu, dan sebagainya. Dengan alasan itu, maka dapat diasumsikan bahwa akan dapat terjadi perubahan masa migrasi hewan bila terjadi perubahan masa peralihan komponen-komponen perubahan lingkungan tersebut.

Dalam hal ini, musim kemudian harus dipahami sebagai sesuatu yang tidak terikat ketat pada sistem pencatatan waktu yang disusun manusia berdasarkan perhitungan maupun pengamatan benda-benda langit. Dalam jangka waktu yang cukup lama, sinkronisasi antara catatan waktu dan perubahan musim dapat bergeser. Pergeseran ini dapat saja dipicu oleh sesuatu yang sangat substansial yang terjadi pada bumi, misalnya terjadinya fenomena pemanasan global yang meningkatkan debit air di muka bumi secara signifikan sekaligus mengurangi luas permukaan daratan. Akibatnya, selain berpeluang mengancam ekosistem yang telah ada, fenomena ini diasumsikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan gejala-gejala alam yang telah beratus-ratus tahun digunakan oleh suatu masyarakat tertentu, termasuk masyarakat Sasak yang menandai perpindahan mangse dengan berbagai vegetasi dan fauna lokal yang ada. Dalam hal menghitung perpindahan mangse, masyarakat Sasak menunjukkan tingkat keakurasiannya hingga mampu memunculkan perkiraan masa setiap mangse dalam satuan bilangan hari, bervariasi dari 23 hari hingga 44 hari dalam setiap mangse. Akurasi semacam ini belum ditemukan dalam sistem pembagian musim sejenis di belahan bumi lainnya, kecuali pada masyarakat yang memiliki sistem perhitungan yang paralel maupun serumpun dengan khasanah kebudayaan ini.

Lembaga Rowot Nusantara Lombok sudah memulai upaya kajian terkait sistem penanggalan berbasis warige ini sejak tahun 2011 dan telah berhasil melakukan transformasi ke dalam sistem kalender konvensional sejak tahun 2014 yang kemudian terbit secara berkala setiap tahunnya. Lembaga ini pada dasarnya menggunakan acuan yang sama dengan acuan yang digunakan para Kyai, karena sumber data utamanya adalah para Kyai yang menguasai dan terus memelihara khasanah ini hingga kini. Lembaga ini setiap tahunnya melakukan perhitungan dimulainya awal putaran musim kemarau yang ditandai dengan kembalinya bintang rowot pada posisi semula. Pola kemunculan meminjam perhitungan tanggal hijriyah (lunar).

Kalender Rowot Sasak adalah sistem penanggalan tradisional suku Sasak yang dikembangkan dan dipedomani oleh masyarakat Sasak, yang bersumber dari catatan papan wariga. Masyarakat Sasak mempedomani kalender tersebut sebagai acuan dalam berbagai aktivitas seperti penentuan hari untuk penyelenggaraan gawe (hajatan), beteletan (bercocok tanam), membangun rumah, memulai usaha, pembagian musim, arah naga, dan wuku (pengaruh posisi rasi bintang terhadap prsitiwa-pristiwa di permukaan bumi). Sistem kerja kalender Rowot ini dengan cara melihat gejala alam dan pengamatan fenomena astronomi. Fenomena astronomi yang dimaksud adalah pengamatan terhadap peredaran gugus bintang Pleiades atau gugus bintang Seven Sister yang kemudian dikenal oleh masyarakat Sasak sebagai bintang Rowot. Ini mengindikasikan bahwa masyarakat Sasak telah memaknai kebesaran Sang Maha Pencipta dalam ilmu astronomi secara pragmatis.

Sebagai sistem perhitungan musim, penanggalan Rowot ini menggunakan kemunculan bintang Rowot secara pandangan dalam satu masa tertentu setiap tahunnya. Rasi bintang Rowot memiliki peran besar bagi masyarakat Sasak. Rasi bintang ini memiliki keunikan tersendiri jika disandingkan dengan rasi bintang lainnya, yaitu digunakan sebagai penanda awal dan akhir mangse dalam penanggalan Rowot Sasak. Kalender Rowot Sasak dalam menentukan awal tahunnya juga memiliki pola hisabnya yang cukup unik. Jika penanggalan / kalender pada umumnya menetapkan awal tahun dengan tanggal satu (1), maka Kalender Rowot Sasak menandai awal penanggalannya dengan kembalinya bintang Pleiades pada posisi / matlaknya semula serat diiringi pula dengan  pola 5 – 15 – 25. Pola ini diperoleh melalui observasi terhadap garis edar gugus Bintang Pleiades (Rowot) tahunan. Kembalinya bintang Pleiades (Rowot) di arah timur pada saat pagi hari menjelang subuh yang dihitung dengan pola 5-15-25 inilah yang kemudian dianggap sebagai awal mangse penanggalan Sasak. Kejadian inilah yang kemudian dikenal dengan istilah “ngandang rowot”. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Sasak memiliki kemampuan pengamatan dan pencatatan terhadap pergerakan pola edar rasi bintang yang mumpuni atau dengan kata lain ini merupakan sebuah khasanah kelimuan astronomi tradisi yang mapan dan tidak dapat disangkal.

Kalender Rowot Sasak selayaknya kalender pada umunya (Masehi-Solar dan Hijriyah-Lunar), yaitu memiliki jumlah bulan sebanyak dua belas bulan.  Nama-nama bulan dalam Kalender Rowot Sasak menyesuaikan dengan nama-nama bulan pada penanggalan Hijriah, namun kemudian disesuaikan dengan peristiwa serta keadaan bulan pada masa itu. Muharam-Bubur Puteq, Safar-Bubur Beaq, Rabi’ul Awal-Mulud, Rabi’ul Akhir-Suwung Penembeq, Jumadil Awal-Suwung Penengaq, Jumadil Akhir-Suwung Penutuq, Rajab-Mi’rat, Sa’ban-Rowah, Ramadhan-Puase, Syawal-Lebaran Nine, Zulkaidah-Lalang, dan Zulhijjah-Lebaran Mame. Begitupun dengan jumlah mangse pada kalender rowot sasak yang juga berjumlah dua belas bulan. Awal mangse atau Mangse Saq ditandai dengan prosesi “Ngandang rowot” di bulai Mei dan berakhir pada Mangse Dueolas dibulan April tahun Masehi berikutnya. Jumlah 12 bulan ini juga merupakan penafsiran  terhadap Firman Allah SWT yang termaktub di dalam kitab suci al-Qur’an surat At-Taubah/9: 36 ;

 

Baca Juga :


إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٣٦

Artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

 

Melalui dua argumentasi diatas, maka dalam sebuah penanggalan seyogyanya memiliki jumlah bulan yaitu dua belas (12) bulan (Masehi daan Hijriyah). Adapun jika sebuah penanggalan memiliki penambahan bulan sehingga menjadi 13 bulan adalah tipe kalender Luni-Solar yang banyak ditemukan di penanggalan seperti China (imlek), Ibrani (Yahudi), Saka (Hindu) dan kalender Budha. Hal ini disebabkan adanya ketidakseragaman/pemisahan fungsi penggunaan sistem dalam sebuah kalender. Sementara hal ini tidak terjadi dalam penanggalan Rowot Sasak, sebab kalender Rowot Sasak memiliki perhitungan mangse yang sudah menyesuaikan jumlah harinya dengan pergerakan Matahari dan kondisi alam tahun itu (kesawen tahun). Melihat sistem kalender rowot sasak ini, menjadikan sistem kalender Rowot menjadi sistem yang sangat kompleks, yaitu melibatkan bintang Rowot, matahari, bulan, dan gejala alam.

Bila dikaitkan dengan fenomena nyale, maka pada dasarnya pola migrasi ini hanyalah salah satu tanda yang digunakan oleh para leluhur Sasak untuk memudahkan melakukan perhitungan. Bila kemunculan Rowot diposisikan sebagai penanda awal tahun (mangse ke-1), maka mangse ke-10 sejak itu adalah mangse nyale. Dalam hal ini, sistem kalender Rowot tetap berpatokan kepada janji Putri Mandalika sebagai penentuan kapan sebenarnya nyale seharusnya dirayakan oleh masyarakat Sasak, bukan pada kemunculan nyale (cacing laut) yang dianggap sebagai penjelmaannya. Lembaga Rowot sampai sejauh ini tidak fokus pada memperhitungkan kapan nyale akan muncul, ataupun volume kemunculannya, tapi menitikberatkan pada keinginan menjemput janji sang putri yang menyebutkan tanggal 20 bulan (mangse) 10. Untuk itu, beberapa hal yang harus diperhatikan terkait penanggalan dalam kalender Rowot Sasak adalah: (a) yang dihitung adalah jatuhnya tanggal 20 bulan 10, (2) tidak berfokus pada kemunculan nyale maupun volume kemunculannya, (3) menggabungkan perhitungan tradisional dengan sistem hisab Urfi mahzam mansyuriah, (4) nyale adalah nama mangse (bulan) bukan nama hari dan bukan satu-satunya pananda mangse yang digunakan. Ciri masuknya mangse nyale  juga dikaitkan dengan penanda alam lainnya. Untuk keinganan lebih jauh memahami pola migrasi hewan tersebut, lembaga Rowot memberikan rekomendasi untuk dilakukan kajian lebih lanjut bersifat lintas-disiplin dengan melibatkan berbagai pakar terkait, yaitu bidang iklim, laut, ekositem, biologi, fisika, flora dan fauna, vegetasi, dan sebagainya.

Berdasarkan pemahaman tentang kalender Rowot sebagai sistem penanggalan mangsa, maka terkait dengan pola perhitungan peristiwa bau nyale dan ngandang rowot, Lembaga Rowot Nusantara Lombok (Rontal) memberikan klarifikasi sebagai berikut :

  1. Kalender Rowot merupakan sistem penanggalan yang mensingkronkan antara penanggalan lunar, solar dan mangsa yang mengacu pada pola edar bintang plaieades atau bintang rowot.
  2. Secara penanggalan solar kembalinya bintang plaieades ke posisi astronomis semula selalu pada bulan Mei, sedangkan menurut penanggalan lunar adalah pada tanggal 5, 15 dan 25 bulan hijrah yang jatuh pada bulan Mei. Saat itulah yang disebut dengan mangsa saq (pertama) Dalam masyarakat, secara tradisional diistilahkan dengan ngandang rowot, yang berarti pergantian musim. Pola 5-15-25 sebenarnya Rowot sedang berada pada koordinat awalnya yaitu antar 65-70o di bawah ufuk sehingga wajar untuk tidak terlihat dengan mata telanjang. Namun, suatu saat dalam masa yang cukup panjang, Rowot akan bisa terlihat secara kasat mata langsung pada pola tanggal tersebut.
  3. Tentang peristiwa bau nyale, secara tradisi pasti dilakukan pada mangse sepulu yang lazimnya menurut penanggalan solar jatuh pada bulan Februari dengan umur mangse sekitar 24 hari. Tentang kapan banyaknya muncul binatang nyale ini, sangat tergantung pada ciri-ciri iklim pada masa itu. Dalam hal ini, Kalender Rowot Sasak, tidak meramalkan kapan banyak nyale, tetapi menentukan mangse 10 dan di dalamnya ada tanggal 20 sesuai dengan isyarat yang disampaikan oleh Puteri Mandalika. Pihak yang paling dekat ramalannya tentang kapan nyale muncul banyak adalah para pelaku tradisi bau nyale dengan memperhatikan kondisi laut dan tanda-tanda alam yang dekat dengan tradisi bau nyale.

Sebagai bangsa pewaris tradisi warige, harus bangga karena nenek moyang kita telah memiliki peradaban tinggi khususnya dalam bidang pengetahuan astronomi. Pemahaman tentang pola edar bintang Rowot, pasti diikuti dengan pola edar bintang-bintang lain yang digunakan untuk kepentingan lain. Adalah tugas generasi muda untuk terus menghadirkan khazanah peradaban bangsa ini dengan pendekatan ilmiah – sebagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat Sasak saat ini dan masa depan.

Tulisan ini disusun dan diselaraskan oleh tim Lembaga Rowot Nusantara Lombok yang didasarkan pada hasil-hasil kajian terdahulu dan wawancara dengan beberapa orang Kyai pemegang tradisi warige di masyarakat Sasak.

Demikian informasi yang kami sampaikan terkaid dari hasil Rapat Rilis Resmi Terkait Sistem Perhitungan Pesta Adat Bau Nyale yang dilaksanakan dan ditulis oleh Pengurus Kalender Rowot Rontal Sasak Nusantara bersama tokoh-tokoh budaya dari berbagai wilayah Gumi Sasak (Lombok) yang dilaksanakan pada hari Senin, 08 Januari 2018. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya warga Sasak (Lombok). (Sumber/Penulis : Dr. Lalu Ari Irawan, SE., S. Pd., M. Pd.)

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan