logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pancasila Kehilangan Pengaruh Dalam Praksis Bernegara

Pancasila Kehilangan Pengaruh Dalam Praksis Bernegara

Indonesia merdeka sebagai negara bangsa dengan dasar idiologi Pancasila, tidak terlepas dari pergulatan pemikiran dan penemuan bung Karno dan Founding Fathers

Opini/Artikel

KM. WALET SELATAN
Oleh KM. WALET SELATAN
22 Desember, 2017 07:25:11
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3166 Kali

Indonesia merdeka sebagai negara bangsa dengan dasar idiologi Pancasila, tidak terlepas dari pergulatan pemikiran dan penemuan bung Karno dan Founding Fathers lainnya tentang ideologi yg cocok bagi bangsa Indonesia, cocok bagi realitas sosial dan budaya Indonesia. Para founding fathers memikirkan apa dan bagaimana ideologi atau padangan hidup bersama yg tepat bagi Indonesia merdeka dari dialektika yang terjadi selama masa sidang pertama BPUPK dari tanggal 29-1 Juni, Dalam pidato tanggal 1 Juni Bung Karno memperkenalkan idelnya terkait idiologi sebagai pandangan hidup bersama Indonesia merdeka.

Pancasila inilah yang sejak awal mempesatukan semua pandangan yang ada yg kemudian menjadi sebagai landasan pijak dalam praksis berbangsa dan bernegara Indonesia merdeka, Selanjutnya kita sadari bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari segalanya, bung Karno mengingatkan kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal; tapi kemerdekaan juga memberi jalan untk memecahkan soal-soal itu, kemerdekaan menuntut banyak hal, yang hanya bisa dipenuhi oleh jiwa merdeka. Disinilah letak parakdoks Indonesia masa kini. Di satu sisi, ledakan kebebasan membangkitkan harapan rakyat akan kehidupan yang lebih baik, lebih adil dan sejahtera. Di lain sisi kapasitas negara untuk memenuhi ekspektasi itu dibatasi oleh jiwa merdeka dilakalangan para pemimpin bangsa, yang membuat pilihan kebijakan terkekang oleh kepentingan-kepentingan diluar rakyatnya.

Lihatlah Bagaimana orang memuji negri ini, bahwa tahan kita adalah tanah surga, Namun di taman nirwana dunia timur ini, kelimpahan mata air gampang berubah menjadi air mata, Kekuasaan datang hilang, silih berganti membuai mimpi, tapi nasib rakyat tetap sema, kekal menderita. Cabang- cabang produksi yg penting bagi negara yg menguasai hajat hidup orang banyak jatuh ketangan penguasa dan pemodal asing, menjadikan rakyat tertindas oleh segelintir orang kuat. Pada tingkat kultural, politik sebagai tehnik mengalami kemajuan, tetapi sebagai etik mengalami kemunduran. Prengkat keras prosedural demokrasi terlihat relatif lebih demokratis, Namun perengkat lunak budaya demokrasinya masih tetap  nepotis-feodalistik, Jelas ini bertentangan dengan nilai dan semangat pancasila sebagai falsafah bangsa. mental inilah yang membuat budaya demokrasi-politik kita tidak pernah beranjak dari fase kenak-kanakannya mengutuk masa lalu dengan mengulanginya.

Disamping itu sekarang terlihat jelas upaya mewujudkan nilai-nilai sila-sila pancasila secara sungguh-sungguh tidak pernah sepenuhnya dilaksanakan secara konkrit, pancasila seolah ditelantarkan, dan terpojokan di dalam praksis bernegara,. Sebaliknya ada upaya mengantikan pancasila sebagai idiologi negara tidak pernah surut meski tidak selalu terbuka.

Pancasila sebagai warisan luhur dan sebagai kekayaan peradaban bangsa, repotnya, Pancasila sebagai idiologi bangsa seperti kehilangan pengaruh dalam praksis bernegara, seperti contoh; Apa yang bisa di katakan ketika makin banyak pejabat negara atau figur publik negri ini terbelit kasus korupsi atau perbuatan melawan hukum Lainya, dimana moralitas bangsa ini?’padahal bangsa indonesia dibangun dengan fondasi agama yang kuat kemudian terukurir dalam Pancasila.

Beranjak pada contoh yang lain, Kekerasan komunal terutama setelah era reformasi dan sampai di penghujung tahun 2017 ini konflik-konflik sosial diberbagai pelosok tanah air kerap menghiasi layar televisi dan media-media cetak maupun elektronik.

Di tengah massa yang marah, dinama nilai-nilai pancasila yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab, katanya bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung hak-hak kemanusiaan, bangsa yang ramah, dan beradab? Seolah semua itu tenggelam dalam keseharian hidup yang selalu diwarnai konflik yang muncul dipentas nasional perpolitikan negri, yg dibutakan oleh materi dan hasrat meraih kekuasaan semata,. Nilai pancasila nampak tidak hadir dalam perilaku warga elit negri dan kehilangan pengaruh sebagai rem tindakan kebrutalan syahwat politik- kekuasaan.

Akhir 2016 dan sepanjang tahun 2017, Bangsa ini mengalami dinamika sosial-politik yang sulit dan pelik, Dari persoalan pilkada hingga persoalan penyandraan warga negara oleh kelompok bersenjata, Dimika yang terjadi dalam dia tahun terakhir ini hampir-hampir cabik- cabik persatuan dan kesatuan serta keragaman kita sebagai bangsa, maraknya aksi-aksi protes seperti di jakarta dan di daerah-daerah lain diseluruh indonesia, dinamika dan aksi yang tejadi penguasa melihat   hal demikian soalah hadir dalam wujudnya yang bisa mengacam kekuasaan,akibatnya beberapa orang ditangkapi dan trus melahirkan konsekuensi logis lanjutan dari tindakan tersebut.

 

Baca Juga :


Terjadi saling hujat menghujat di ruang publik antar rakyat dengan rakyat antar pejabat-dengan pejabat, Singkatnya sepanjang tahun ini kita dipertontonkan konflik Horinzontal-vertikal,saling mencaci maki antar sesama anak bangsa, seakan tak ada hal urgent lainya yang harus di selesaikan, ditengah-tengah kemiskinan, ketimpangan sosial, ketidak adilan, dan negara seakan makin jauh dari cita-cita mewujudkan kedialan sosial bagi seluruh rakyat indonesia (Material dan spiritual) dalam semangat pancasila,.

Mengakhiri tulisan ini saya inigin mengutip Francus Fukuyama; Ancama terbesar abad 21 ini adalah “Negara gagal” Negara yang antara lain menyandang tanda-tanda kemiskinan, pengangguran, konflik antar kelompok,  dan merebaknya aksi teror. Melihat realitas apakah bangsa kita masuk dalam kategorisasi negara gagal yang  disebutkan oleh Fukuyama?

Sungguh kita semua yang masih mencintai negri tak ingin indonesia yang kita cintai ini terjadi seperti dalam tesis francis fukuyama diatas. Maka dari itu bangsa indonesia sebagai negara kesatuan, tak ada lain yang dapat mempesatuakan kita sebagai bangsa yang majemuk dari sabang sampai merauke, selain Pancasila, sebagai satu-satu nya ideologi bangsa, dengan memahami dan mengamalkannya dalam praksi bernegara dan bermasyarakat maka bangsan ini akan terhidar dari berbagai kegagalan-kegagalan, untk mencapai cita-cita luhur yang terkandung dalam sila pancasila itu sendiri.

Seperti kata St Sulato,Bahwa Jangan sampai kemudia terus terjadi dalam praktik kita bernegara, seperti yang di katakan oleh beliau”Warisan luhur yang di puji berbagai tokoh dunia itu dianggap sudah apek-basi. dianggap tidak relevan ( pancasila),tidak di hayati, dihafalkan oleh anak sekolah pun tidak, apalagi dipraktikkan dalam praksis kehidupan bernegara dan berbangsa”.Tentu kita semua tidak menginginkan hal demikian.

Oleh : Syahrul Ramadhan

Tulisan ini Hasil Diskusi Refleksi Akhir Tahun Pesatuan Gerakakan Mahasiswa (PGM) Jakarta



 
KM. WALET SELATAN

KM. WALET SELATAN

Kampung media walet selatan adalah kampung media kecamatan parado, yang akan menjadi jembatan, untuk menumbuh kembangkan pembaca kritis dengan konten berita yang tidak biasa-biasa saja

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan