logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kritik Sastra : Upaya Membongkar Ideologi Dalam Teks

Kritik Sastra :  Upaya Membongkar Ideologi Dalam Teks

Pendahuluan Teori sastra hadir bukan untuk memvonis karya sastra (apakah karya sastra itu baik atau tidak) atau bukan untuk menyempurnakan karya

Opini/Artikel

Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
14 Desember, 2017 10:35:58
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 4061 Kali

Pendahuluan

Teori sastra hadir bukan untuk memvonis karya sastra (apakah karya sastra itu baik atau tidak) atau bukan untuk menyempurnakan karya sastra tersebut, melainkan hanya berusaha untuk memberikan makna pada karya sastra tersebut, Diha (2015 : iii). Kritik sastra merupakan sebuah alat untuk membongkar ideologi yang tersembunyi dibalik kata–kata yang ada dalam karya sastra.

Di karya sastra, terdapat banyak ideologi yang tersembunyi. Maka dari itu, kritikus sastra harus membongkar ideologi yang tersembunyi tersebut. Karya sastra tidak lahir dari ruang yang kosong; bukan hadir secara tiba–tiba, melainkan karena kultur dimana karya sastra itu diciptakan. Dalam kalimat lain bahwa ada ketimpangan yang dirasakan oleh sang pengarang sehingga memungkinkan bagi mereka memproduksi dan reproduksi karya sastra tersebut. Ketimpangan tersebut salah satunya mungkin masalah pembangunan yang tidak merata, baik itu pembangunan secara fisik maupun pembangunan non fisik (pengetahuan). Sejalan dengan itu, Plato mengatakan bahwa sastrawan menulis karyanya perama-tama bukan sebagai karya seni, melainkan mereka terinspirasi atau terobsesi  akan sesuatu, Taum (2015 : 9).

Humanistik pembangunan merupakan sebuah keniscayaan, maka dari itu, sastra akan terus hadir untuk mengawal pergulatan manusia Indonesia dalam menegakkan martabat kemanusiaan, Taum (2015 : x). Sang pengarang mengutarakan ide dan gagasan melalui deretan kata tentang apa yang dirasakan dan di alami olehnya tentang masalah sosial.

Dalam karya sastra, tentunya ada ideologi–ideologi yang bersembunyi dibalik deretan kata-kata yang tersusun oleh sang pengarang tersebut. Ideologi itulah yang harus dibongkar oleh kritikus sastra melalui berbagai metode. Bukan berarti ideologi yang dibongkar oleh kritikus sastra sama seperti yang dimaksudkan oleh sang pengarang. Sastra merupakan potret sosial yang menyajikan kembali realitas masyarakat yang pernah terjadi dengan cara yang khas sesuai dengan penafsiran dan ideologi pengarangnya, Kurniawan (2007 : 1). 

Peran kritik sastra dalam membongkar Ideologi dalam teks sastra

Menurut Yovanta Arif dalam makalahnya mengatakan bahwa kritik sastra hadir dalam dua kepentingan, yaitu : Kritik atas realitas dan kritik atas karya yang lain. Kritik yang pertama adalah sastra tampil dalam relasinya dengan realitas sosial yang melatari sekaligus memungkinkannya, mengenali kontradiksi-kontradiksi yang inheren di dalamnya, untuk kemudian memformulasikannya dalam bentuk sastrawi. Dalam modalitas kedua, kritik (yang internal) dalam sastra merupakan rentetan relasi internal dalam semesta sastra itu sendiri; dicirikan oleh oposisi suatu karya dengan karya yang lain, Yovanta Arif (2013 : 2). Dalam konteks yang pertama (kritik atas realitas), karya sastra membawa sejuta ideologi atau kepentingan, kepentingan dan ideologi tersebut diformulasikan oleh sang pengarang dalam bentuk sastrawi. Dalam artian bahwa ideologi yang ada dalam karya sastra tidak ada secara terang-terangan melainkan secara tersembunyi. Hadirnya karya sastra tersebut sebagai alat untuk mengkritik realitas sosial yang ada di sekeliling kita.

Puisi Wiji Thukul yang berjudul “seumpama bunga” sebetulnya mengkritik tentang realitas sosial yang terjadi pada ere orde baru. Era orde baru yang menjalankan roda pemerintahan yang otoriter, tidak bisa menyuarakan hak–hak sebagai warga negara, dan tidak bisa melakukan kritikan terhadap pemerintah, dan lain sebagainya. Dalam artian bahwa pemrintahan orde baru mencoba melakukan “budaya bisu”. Maka dari itu, muncullah puisi-puisi Wiji Thukul untuk melakukan kritikan terhadap kondisi sosial pada saat itu. Wiji Thukul merupakan salah satu dari sekian banyak sastrawan yang melakukan kritikan terhadap kondisi sosial pada saat itu. Wiji Thukul merupakan bagian dari produk budaya bisu pemerintahan Orde Baru yang berusaha keluar, mencari bentuk dan strategi untuk melawannya. Ia berhadapan dengan teater politik yang ditopang oleh sejarah sebagai topeng, yang digunakan hampir sepanjang kekuasaan Suharto, di antara politik eksternal yang bermain dan pengelolaan makna yang rumit dalam berbagai produksi simbol sejarah dan kebudayaan kita yang beragam, Afirzal Malna (2014 : 9). Wiji Thukul berusaha memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang kondisi yang dimainkan oleh pemerintah pada saat itu. Ia berusaha melakukan propaganda lewat puisi-puisinya sehinga publik bangkit untuk melakukan revolusi.

Selain Wiji Thukul, ada banyak sastrawan yang melancarkan krikitikannya pada pemerintah terhadap kondisi sosial-budaya, diantaranya WS. Rendra, Pramoediya Ananta Toer dan masih banyak lagi sastrawan lainnya. Pramoediya melalui novelnya (Bumi Manusia, Anak sumua bangsa, Jejak langkah dan lain sebagainya) melakukan hal yang sama dengan Wiji Thukul. Ideologi yang diperjuangkan oleh mereka melalui karya-karyanya adalah ideologi kaum proletar. Mereka berusaha memperjuangkan hak-hak kaum proletar.

Fenomena tersebut di atas, Foucault melihat sebagai sebuah “wacana”. Wacana bagi Foucault bukan hanya sebagai cara berbicara, melainkan cara berpikir dan bertindak yang dibentuk secara bersama-sama oleh satu rangkaian hubungan tertentu, (Foucault, 1972, Jones : 2015 : 21).  Lebih lanjut Foucault mengatakan bahwa wacana dapat menjadi instrumen sekaligus sekaligus efek kekuasaan, tetapi juga hambatan, batu sandungan, titik resistensi dan titik awal untuk strategi perlawanan, Foucault (1990 : 101, Jones, 2015 : 21).

Teks sastra bekerja bagaimana membangun cara-cara berpikir masyarakat sehingga masyarakat melakukan suatu tindakan terhadap situasi yang terjadi. Di sinilah dibutuhkan kritikus sastra untuk menginterpretasikan ideologi-ideologi yang tersembunyi dalam deratan kata dalam teks sastra.  Storey, dalam Swandayani,  menyatakan bahwa unsur-unsur budaya (dalam hal ini karya sastra) tergantung dari bagaimana unsur-unsurnya diartikulasikan pada lingkungan sosial dan kondisi historis pembuatan dan pemaknaannya untuk menyusun posisi pembaca: “subordinat”, “dominan”, dan “negosiasi”.

Maka dari itu dibutuhkan kritik sastra sebagai alat untuk membongkar ideologi atau kepentingan yang di ada dalam karya sastra tersebut. jika saja tidak maka, ideologi atau kepentingan tersebut tidak mungkin di pahami oleh masyarakat. Sedangkan konteks yang kedua (kritik atas karya yang lain), kegiatan sastrawi merupakan reproduksi dan produksi makna, maka pemaknaan itu tergantung pada sang pembaca. Dalam artian bahwa sang pembacalah yang berusaha memberikan makna dalam karya sastra tersebut tentunya dengan teori-teori kritik sastra. Maka dari itu, karya sastra hadir untuk memenuhi kebutuhan pemaknaan tersebut. Meminjam istilahnya Rolar Barther “matinya sang pengarang”. Dalam artian bahwa apa yang disampaikan oleh sang pengarang belum tentu seperti apa yang diterjemahkan oleh sang pembaca. Maka dari itu, dibutuhkan penerjemahan ulang dari sang kritikus sehingga makna yang disampaikan oleh sang pengarang bisa dipahami oleh masyarakat luas.

Menerjemahkan karya sastra tentunya memiliki teori dan metode tersendiri. Maka dari itu, kritik sastralah yang bisa membongkar ideologi yang ada dalam teks karya sastra tersebut.

Simpulan

 

Baca Juga :


Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kritik sastra merupakan hal yang paling penting dalam menerjemahkan simbol-simbol yang ada dalam karya sastra tersebut. Tanpa ada kritik sastra, maka simbol-simbol budaya yang diciptakan oleh si pengang tersebut tidak dapat di terjemahkan, sehinga simbol-simbol budaya yang menjelma dalam karya sastra tidak dapat dimengerti oleh masyarakat. Dalam karya sastra, terdapat banyak idiologi yang tersembunyi di dalamnya. Idiologi ibaratkan benalu dalam karya sastra. Untuk itu, dibutuhkan kritik sastra untuk membongkar idiologi tersebut.

 

Daftar Pustaka

Buku

Kurniawan, Heru. 2007. Relasi Formatif Hegemoni Gramski Dalam Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer.  Jurnal Studi Islam dan Budaya, Vol. 5 No. 1

Diha, Hamjah. 2015. Teori Sastra ; Sebuah Pengantar Awal. Hal. iii. (Yayasan Ali Abdurrazziq Al Diha, Bima)

Jones, Tod. 2015 : Kebudayaan dan Kekuasaan Di Indonesia ; Kebijakan Budaya Selama Abad Ke-20 Hingga Era Reformasi.

Taum Yoseph Yapi. 2015. Sastra dan Politik ; Representasi Tragedi 1965 dalam Negara Orde Baru. (Sanata Dharma University Pres).

 

Makalah

Arir, Yovanta: 2013. Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik Jadi Panglima, 1920-1965. www.indoprogres.com

Swandayani, Dian dan Nurhadi. Kritik Atas Praktik Penculikan Dalam Sastra Indonesia Sebagai Bentuk Resistensi Kekuasaan ;(Kajian Hegemoni Gramsci terhadap Drama “Mengapa Kau Culik Anak Kami?”)



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://hamjahdiha.or.id dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan