logoblog

Cari

Tutup Iklan

Paradoks Dunia Politik Kita

Paradoks Dunia Politik Kita

Tinggal hitungan bulan, pesta demokrasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaksanakan. Semua tokoh potensial mulai bermunculan. Beragam media digunakan sebagai alat

Opini/Artikel

Paradoks Dunia Politik Kita


Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
12 Desember, 2017 08:21:01
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1448 Kali

Tinggal hitungan bulan, pesta demokrasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaksanakan. Semua tokoh potensial mulai bermunculan. Beragam media digunakan sebagai alat untuk mensukseskan tujuan tersebut. Baliho dan spanduk dihadirkan di berbagai sudut guna menampilkan tokoh-tokoh potensial tersebut. Stiker dan kelender di pajang di setiap dinding rumah, di tembok, dan bahkan di lorong-lorong dengan membawa satu visi besar, yakni kemajuan daerah. Media-media tersebut tentunya membawa satu pesan yang indah sehingga publik pun terkesima dengan penampilan tokoh tersebut. Media sosial dan media masa pun ambil bagian dalam mempromosikan tokoh idolanya. Ketika media masa  simpati dengan salah satu tokoh, maka media masa menanyangkan berita sesuai dengan pesan aktor politik yang ada di belakangnya. Sebaliknya, jika tidak simpati, maka akan dijadikan objek penderitaan.

Tak terkecuali, media sosial pun ikut merekonstruksi realita seolah nyata, namun sejatinya penuh rekayasa. Tampilan indah terpesona yang ditampilkan oleh beragam media sosial, seolah nyata namun syarat dengan rekayasa. Di sini, terjadilah berita hoax atau preudo informasi. Preudo informasi adalah informasi yang direkayasa demi kepentingan tertentu. Hoax dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kepentingan ekonomi, politik hingga kepentingan agama pun terjadi. Akhir-akhir ini banyak kalangan yang memanfaatkan agama untuk memecahbelah ummat yang sudah lama di bangun dengan bingkai kebhinekaan. Namun dalam kesempatan ini, penulis tidak ingin mambahas secara detail tentang Agama.   Tidak hanya media, pengamat dan Akademisi pun ikut andil memberikan komentar.

Memberikan komentar yang tendensius serta memojokkan salah satu lawan politik. Komentarnya seolah-oleh ilmiah, objektif, dan tampaknya benar, tetapi kebenaran dan objektivitasnya direkonstruksi sesuai selera atau pesanan aktor yang ada di belakangnya. Semua kesuksesan dan keberhasilannya di uraikan secara detail dan ilmiah tanpa melihat realita sesungguhnya. Berbagai metodologi digunakan untuk mendukung komentarnya sehingga tampaknya ilmiah dan objektif, namun sesungguhnya syarat dengan khayalan. Fenomena ini oleh Baudrillard menyebutnya dengan “dunia simulasi”.

Dalam pandangan Baudrillard bahwa dunia simulasi, sengaja di ciptakan dalam upaya menekan realitas dominan lain yang seolah-olah itu adalah satu-satunya yang benar-benar nyata. Artinya bahwa realita yang ditampilkan dihadapan publik bukanlah realita yang sesungguhnya, melainkan itu adalah realita yang sudah dibumbui dengan nilai-nilai. Tugas pembacalah menafsirkan nilai-nilai yang dihadirkan oleh media tersebut. Salah satu kritikus media asal Amerika, Whittemore pernah mengkritik salah satu media Amerika New Republic tentang drama yang dimainkan oleh media. Whittemore mengatakan bahwa banyak jurnalis kini merubah diri menjadi tokoh drama, atau novelis.

Mereka sengaja menyampaikan apa yang ingin, bukan seharusnya, didengar khyalak. Pernyataan ini tentunya tidak semua jurnalis merubah dirinya menjadi tokoh drama politik yang kemudian berita-beritanya tergantung pesanan dari tokoh politik yang mereka sokong.   Dunia simulasi diciptakan sebagai upaya (oleh media dan model) untuk menciptakan kembali realita sesuai kode-kode yang di hasilkan model dan media itu sendiri, Franqois Debrix : 2013.  Lebih lanjut Farnqois mengatakan bahwa dunia simulasi dapat dijadikan strategis (sebagai teknik yang berusaha menegaskan kembali realitas tertentu), maka itu akan berakhir dengan hilangnya kenyataan. Itu artinya bahwa simulasi di ciptakan untuk mengambil-alih the social oleh sign value sehingga publik sulit membedakan mana yang palsu dan mana yang nyata, mana yang salah dan mana yang benar.

 

Baca Juga :


Dengan demikian, kita dipaksa untuk berada dalam realita yang direkonstruksi sedemikian rupa. Itulah dunia politik kita di zaman digital sekarang. Semua yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan semuanya bisa dijadikan alat untuk menaikkan popularitas publik figure yang ingin tampil dalam pilkada. Semua alat (media masa, media sosial, pengamat, dan akademisi) dikerahkan untuk memanipulasi atau mereproduksi realita sehingga publik terkesima dengan realita yang diciptakan demi kepentingan politik tersebut. Politik Pencitraan Sebentar lagi, NTB memasuki tahun politik. Pendiskusian pun semakin memanas. Mulai dari warung kopi, hingga ruang ber-ACC Tema diskusi cukup beragam, namun substansinya sama, yakni mendiskusikan “siapa yang pantas memimpin NTB ini lima tahun ke depan”. Sementara figure–figure calon pemimpin NTB ke depan sibuk mencitrakan dirinya. Berbagai program diturunkan guna mencari simpati masyarakat. Tak tanggung–tanggung figure-figure calon pemimpin mengeluarkan uang meliaran rupiah untuk mengubah penampilan, baik penampilan yang di pasang di baliho, spanduk maupun di media masa dan media sosial. 

 

Pernah di terbitkan di batamex.com 



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://hamjahdiha.or.id dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan