logoblog

Cari

Tutup Iklan

Nusantara: Refleksi Kejayaan Masa Silam

Nusantara: Refleksi Kejayaan Masa Silam

Nusantara, yang menjadi konsep pengembangan Dwipantara adalah kesadaran ruang nenek moyang bangsa Indonesia. Kesadaran akan kawasan yang meliputi daratan (baca: kepulauan)

Opini/Artikel

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
12 Desember, 2017 16:46:24
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3169 Kali

Nusantara, yang menjadi konsep pengembangan Dwipantara adalah kesadaran ruang nenek moyang bangsa Indonesia. Kesadaran akan kawasan yang meliputi daratan (baca: kepulauan) dan lautan. Kesadaran akan wilayah ini yang kemudian menyelimuti ruang pikir para pendahulu, ketika membaca potensi yang dimiliki. Tidak lain adalah untuk membangun sebuah negara atau kawasan dengan meletakkan dasar kemaritiman sebagai titik tolak pembangunan. Tidak heran jika kemudian terdapat catatan sejarah akan kuatnya pertahanan maritim Nusantara, baik di era kerajaan Sriwijaya ataupun Majapahit. Kuatnya prajurit di wilayah laut, menjadi salah satu sarana untuk menyatukan wilayah yang terpisah. 

Di dalam perjalanannya, fakta sejarah akan perjalanan di masa lampau itu kemudian menjadi dasar bagi pemerintah kini untuk kembali menuai kejayaannya. Melakukan pembangunan dan pengembangan di sektor laut sebagai salah satunya, diharapkan akan mampu menjadi langkah dalam upaya pemerataan kesejahteraan dan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Nusantara. Pembangunan jembatan-jembatan penghubung antara wilayah dan hadirnya tol laut, adalah dua bentuk upaya tersebut. Berbagai riset tentang kemaritiman pun coba digalakkan pemerintah untuk mendorong percepatan pembangunan. 

Jika melihat fakta, bahwa kemunduran bangsa ini salah satunya juga terjadi akibat diabaikannya sektor maritim. Baik pembangunan atau pertahanan di sektor laut, dinilai masih rapuh dan rentan terhadap berbagai ancaman. Hal sederhana yang dapat diamati adalah aksi-aksi yang dilakukan oleh Susi Pudjiastuti, menteri kelautan dan perikanan. Apa yang ditampakkannya tidak lain adalah bukti dari kurangnya kewaspadaan negara di sektor laut. Di mana sebelum ia menjabat sebagai menteri, tentunya cukup banyak kapal-kapal atau nelayan asing yang dengan serta merta melenggang di kawasan laut Indonesia. Sikap tegas yang ditunjukkan Susi, merupakan upaya untuk mengembalikan kewaspadaan di sektor maritim. Bagaimana kemudian masyarakat mulai dibukakan mata akan begitu banyaknya kapal asing yang tertangkap di wilayah perairan Indonesia. Hal itu yang tentu saja harus terus dipertahankan dan juga dikembangkan pemerintah di masa-masa mendatang. Oleh karena dengan kurangnya kewaspadaan, bangsa ini telah mengalami kerugian yang cukup besar. Itupun hanya sebatas kapal nelayan, terbayang jika penyusupan-penyusupan itu dilakukan oleh kapal perang asing. Tentu hal itu akan cukup membahayakan bangsa ini. 

Wilayah laut yang begitu besar, adalah kekuatan dan kelemahan bagi bangsa ini. Jika bangsa ini mampu mengelola secara maksima potensi yang dimiliki dalam bentang laut Nusantara, bukan mustahil kesejahteraan dan kemakmuran dapat diciptakan. Memaksimalkan hasil laut dengan tanpa melupakan untuk menjaganya tetap lestari, seperti halnya ikan dan terumbu karang serta sumber daya alam yang tersimpan di bawah lautan layaknya minyak dan gas. Mengembangkan pariwisata di sektot maritim, serta memanfaatkan laut sebagai jalur utama distribusi barang. Dan rapuhnya pertahanan dan kewaspadaan di wilayah lautan Indonesia, serta kurang baiknya pengelolaan sumber daya pastinya merupakan sebuah ancaman dan kerugian yang luar biasa. Hal ini tentu harus dipikirkan bersama, artinya tidak hanya pemerintah yang memiliki kewajiban melainkan juga seluruh rakyat Indonesia. Bersama-sama bahu membahu untuk mewujudkan cita bersama. 

 

Baca Juga :


Momentum peringatan hari Nusantara, ini harusnya menjadi titik untuk merefleksi apa yang sudah dan belum dilakukan dalam mengelola kekayaan Nusantara. Selain juga membangun kesadaran atas potensi ruang budaya yang dimiliki. Sehingga dalam pembangunan, pemberdayaan yang dilakukan akan dapat menuai sasaran. Sehingga tidak ada kerugian yang harus ditanggung negeri ini dengan menafikan potensi yang ada. Berkaca dari Majapahit dan Sriwijaya, terlepas dari perdebatan dari eksistensi keduanya tentu banyak nilai yang hari ini dilupakan oleh bangsa ini.  []



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan