logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mencari Tuhan

Mencari Tuhan

Pada saat kami mengikuti mata kuliah Mistisme Tasawuf dan gerakan Toreqat di salah satu perguruan tinggi Islam tempo lalu, Muncul

Opini/Artikel

Hendrawansyah (SIMON)
Oleh Hendrawansyah (SIMON)
10 Desember, 2017 21:52:16
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1920 Kali

Pada saat kami mengikuti mata kuliah Mistisme Tasawuf dan gerakan Toreqat di salah satu perguruan tinggi Islam tempo lalu, Muncul pertanyaan "Dapatkah Kita melihat Tuhan di Dunia ini?

Dosen yang sedang mengajarkan kamipun menjawab, "Sebelum saya menjawab, saya akan tanyakan dulu pada adek-adek sekalian, "dapatkah kalian melihat sesuatu yang masuk dan hinggap pada mata kalian"? Kamipun menjawab TIDAK"
Beliaupun lajut menjawab "Semakin dekat sesuatu itu maka sejatinya sesuatu itu tidak dapat kita lihat, Layaknya pada saat Mata kita kelilipan dikarenakan ada sesuatu yang masuk di dalam mata kita, dan kita tidak dapat melihat sesuatu itu.

Tuhan itu terlalu dekat dengan kita, maka dari itu kita tidak dapat melihat-Nya" Dalam Alqur-an juga ditegaskan:“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qoof: 16)

Sanking dekatnya Tuhan manusia tidak mampuh untuk melihat-Nya. tetapi
Walaupun kita tidak dapat melihat-Nya, setidaknya kita dapat mengetahui keberadaan-Nya, seperti yang dikatakan pada ayat di atas dan masih banyak lagi yang lainnya, menunjukkan bahwa Tuhan itu ada disetiap Ciptaan-Nya salah satunya yakni kita manusia.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt berfirman pada hari kiamat, ‘Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku?’ Ia menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana Aku membesuk-Mu dan Engkau adalah Pemilik alam semesta?’ Allah swt menjawab, ‘Engkau mengetahui hamba-Ku si fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya, Apakah engkau tidak mengetahui, jika engkau datang menjenguknya, engkau akan menemukan Aku di sisinya’

‘Wahai anak Adam, Aku memohon makanan padamu, tetapi engkau tidak memberi-Ku makanan?’ Ia menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu makanan, sedangkan Engkau adalah Pemilik alam semesta?’ Allah swt menjawab, ‘Apakah engkau tidak mengetahui bahwa, hamba-Ku si fulan memohon makanan kepadamu, dan engkau tidak memberinya makanan, tidakkah engkau mengetahui, jika engkau memberinya makanan, engkau akan menemukan Aku di sisinya’

‘Wahai anak Adam, Aku memohon minuman kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku minuman?’ Ia menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana Aku memberi-Mu minuman, sementara Engkau adalah Tuhan Pemilik alam semesta?’ Allah swt menjawab, ‘Hamba-Ku si fulan meminta minuman kepadamu, tapi engkau tidak memberinya minuman, apakah engkau tidak mengetahui, jika engkau memberinya minuman, maka engkau akan menemukan Aku di sisinya’ (HR Muslim)

 

Baca Juga :


Banyak orang ingin berjumpa Tuhan, tapi tak tahu di mana tempatnya, karena memang Tuhan tidak memiliki tempat, sebab Dia adalah wujud Maha Gaib, namun memperhatikan hadis di atas, maka pada dasarnya kita bisa bertemu Tuhan setiap saat, dan bukan hanya bertemu Tuhan tetapi juga dapat mengobati-Nya ketika “sakit”, memberi-Nya “makan” ketika “lapar”, dan memberi-Nya “minum” ketika “haus”, dan semua itu dapat kita lakukan dengan mengaplikasikannya terhadap saudara-saudara kita sesama manusia.

Islam adalah agama yang berdimensi vertikal dan horizontal, hablum minallah dan hablum minannas, hubungan dengan Allahdan hubungan sesama manusia, setiap ajaran Islam, pada dasarnya memiliki kedua dimensi ini, meskipun seringkali kita menganggap terdapat ajaran-ajaran Islam yang kental menunjukkan hablum minallah, seperti salat, zikir, doa, tetapi ada juga yang kental dengan dimensi hablum minannas seperti zakat dan sedekah.

Tiga pertanyaan Tuhan pada hamba-Nya dalam hadis di atas, melukiskan kepada kita kentalnya dua dimensi Islam tersebut, vertikal dan horizontal, yang mana Allah swt menekankan bahwa menjenguk orang sakit, memberi makan orang yang lapar, dan memberi minum orang yang haus, dari sudut pandang lahir, hal itu membangun hubungan antar manusia, tetapi dari sudut pandang batin dan spiritual hal itu membangun hubungan dengan Tuhan, memberi makan orang yang lapar sama dengan memberi “makan” Tuhan, maka wajarlah kalau Nabi saw pernah bersabda, “Tidak beriman seseorang, ketika ia tidur dengan kenyang, sementara tetangganya kelaparan”, dalam riwayat lain Rasul bersabda, “kaum mukminin itu ibarat satu tubuh, jika ada yang sakit, maka yang lainnya pun terasa sakit”, itulah empati persaudaraan yang berbasis pada nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Nabi ingin menyampaikan pesan kepada kita, boleh saja kita salat siang dan malam, naik haji dan umroh berulang-ulang, tapi semua itu tidak menjadi bukti keimanan, jika kita melihat orang yang kelaparan, tapi tak terbersit sedikitpun di hati kita untuk mengenyangkannya, jika melihat orang yang sakit, tak ada rasa empati kita pada penderitaannya, sebab itu ujilah keimanan kita dengan memperhatikan kebutuhan sesama manusia, karenanya jenguklah orang-orang sakit di antara kita, berilah makan orang yang lapar di antara kita, dan berilah minum orang-orang yang haus di antara kita, inilah tiga tempat di mana kita akan bertemu Tuhan dalam limpahan rahmat-Nya.
.....
Semoga Bermanfaat.



 
Hendrawansyah (SIMON)

Hendrawansyah (SIMON)

Nama Lengkap Hendrawansyah Ds, Lahir tahun 1996, Status sebagai Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam Negeri Mataram, jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuludin.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan