logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kemerdekaan Itu, Bebas Dari Belenggu Kemiskinan

Kemerdekaan Itu, Bebas Dari Belenggu Kemiskinan

Tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia (RI) mendeklarasikan dirinya untuk merdeka. Jika kita hitung, maka sudah 72 tahun Republik Indonesia

Opini/Artikel

Kemerdekaan Itu, Bebas Dari Belenggu Kemiskinan


Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
08 Desember, 2017 08:59:44
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3850 Kali

Tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia (RI) mendeklarasikan dirinya untuk merdeka. Jika kita hitung, maka sudah 72 tahun Republik Indonesia ini merdeka. 72 tahun pula Republik Indoensia melawan kemiskinan. Merdeka itu adalah bebas dari belenggu atau ketergantungan dari segala hal. Termasuk kemiskinan. Sejak 1945, RI selalu berikhtiar untuk melawan kemisminan. Kemiskinan menjadi musuh bersama (common enemy). Tidak terkecuali di Nusa Tenggara Barat provinsi seribu Kiyai/tuan Guru. Di usianya yang ke 59 ini, Negeri seribu pulau ini selalu berusaha meloloskan diri  dari belenggu kemiskinan. Berbagai ihktiar telah dilakukan.


Nusa Tenggara Barat (NTB) di bawah kepemimpinan Tuan Guru Bajang (TGB) panggilan akrab Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, kemiskinan menjadi musuh bersama (common enemy) yang harus dilawan secara berjamaan. Gaung untuk melawan kemiskinan terasa kuat menghentak ke publik. Berbagai cara dilakukan guna meloloskan diri dari kemiskinan tersebut. Disamping mengalokasikan anggaran dana yang cukup besar, juga memotivasi desa agar melawan kemiskinan tersebut.

Mengurangi angka kemiskinan itu tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, namun perlu ikhtiar keras karena kemiskinan terjadi secara nasional akibat perlambatan ekonomi. Perlambatan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh faktor global. Walaupun itu semua terjadi, TGB tidak begitu khawatir. Mengapa tidak!. TGB punya cara jitu untuk melawan kemiskinan tersebut. Alumnus pesantren itu, melawan kemiskinan dengan pendekatan lokal (local aproach). “tapi pada sisi yang lain, kita punya senjata yaitu otonomi daerah yang harusnya juga membuat kita kreatif dan sigap untuk menyikapi dinamika global dan nasional itu. Untuk kita sikapi secara lokal bagaimana yang dampak buruk tidak mempengaruhi kita. Atau kalaupun berpengaruh, minimanl,” ujar TGB sebagaimana yang dikutip di laman http://www.getarmerdeka.com

Salah satunya yang dilakukan oleh TGB untuk menyikapi kemiskinan secara lokal itu adalah dengan penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Selain itu, penambahan desa wisata juga dilakukan karena kemiskinan itu harus dilawan dari akarnya (desa). Sudah saatnya desa diarahkan menjadi pusat percepatan dan pertumbuhan ekonomi. Dari desa kemiskinan itu lahir, dari desa pula kemiskinan itu dirajang. “kita akan fokus melawan kemiskinan dari desa. Kita optimalkan potensi masyarakat desa, kita bantu persepatannya dan kita pastikan keberlanjutan program-program produktif di desa,” ungkap Ridwan Syah selaku kepala Bappeda NTB dikutip di Suara NTB NTB pada hari senin 21 Agustus 2017.

Tahun 2017, pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran dana sekitar 3,5 meliar untuk mensupport lebih dari 30 BUMDes dan perintisan BUMDes mart. Menurut data bahwa ada beberapa desa yang sudah sukses membangun BUMDes, di antaranya desa Lendang Nangka Lombok Timur dan desa Anyar Lombok Timur. Desa Lendang Nanga misalnya berhasil menggelola usaha simpan pinjam, air bersih, dan pengembangan ekowisata. Ketiga usaha itu merupakan kekuatan utama ekonomi desa. “Kami bertekad menjadikan BUMDes sebagai kekuatan ekonomi masyarakat desa,” papar Kepala Desa Lendang Nangka. Di kutip di Suara NTB pada hari senin 21 Agustus 2017.

 

Baca Juga :


Pengentasan kemiskinan di negeri seribu mesjid ini terhitung cepat. Komitmen TGB untuk melawan kemiskinan cukup kuat.  Dari tahun ke tahun, pengentasan kemiskinan mengalami perubahan. Di tahun 2008, kemiskinan di NTB 23,81 persen. Namun di tahun 2017, TGB mampu  merubahnya menjadi 16,07 persen. Sejak Indonesia di lahirkan, ikhtiar melawan kemiskinan selalu dikumandangkan. Tidak terkecuali di NTB. Melawan kemiskinan, bukanlah tanggung jawab seorang atau perorangan, melainkan tanggung jawab bersama. Tanggung jawab semua orang, karena Negeri ini bukanlah milik perorangan, melainkan milik bersama.

Tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia (RI) mendeklarasikan dirinya untuk merdeka. Jika kita hitung, maka sudah 72 tahun Republik Indonesia ini merdeka. 72 tahun pula Republik Indoensia melawan kemiskinan. Merdeka itu adalah bebas dari belenggu atau ketergantungan dari segala hal. Termasuk kemiskinan. Sejak 1945, RI selalu berikhtiar untuk melawan kemisminan. Kemiskinan menjadi musuh bersama (common enemy). Tidak terkecuali di Nusa Tenggara Barat provinsi seribu Kiyai/tuan Guru. Di usianya yang ke 59 ini, Negeri seribu pulau ini selalu berusaha meloloskan diri  dari belenggu kemiskinan. Berbagai ihktiar telah dilakukan.

Kemerdekaan itu adalah bebas dari belenggu kemiskinan serta bebas dari ketergantungan dari berbagai sektor. Itulah ikhtiar yang dilakukan oleh Gubernur  termuda se Indonesia itu untuk NTB berkemajuan. Kinerja TGB dalam melawan kemiskinan tersebut di akui secara nasional, dan bahkan internasional. Pemerintah pusat menyebut NTB sebagai provinsi yang paling progresif dalam memerangi kemiskinan. Bahkan di tahun 2015, berpidato di hadapan sidang Umum PBB di New York- Amerika Serikat atas prestasinya Mellenium Development Goals (MDGs) di NTB, yang salah satu di dalamnya adalah pengentasan kemiskinan yang sangat tajam. “saya akui kinerja penanggulangan kemiskina di NTB sangat baik. Kuatnya komitmen pimpinan daerah dan besarnya dukungan rakyat menjadi kunci utamanya. Semoga bisa dipertahankan,” ungkap Nina Sardjuni selakuBidang Sumberdaya Manusia dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2010 - 2015). 



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://hamjahdiha.or.id dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan