logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pendidikan Kita; Antara Harapan & Realitas (1)

Pendidikan Kita;  Antara Harapan & Realitas (1)

Isu tentang dunia pendidikan akan selalu menarik untuk dibicarakan baik oleh elit lokal maupun elit nasional, baik itu dikalangan awam maupun

Opini/Artikel

Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
06 Desember, 2017 09:34:48
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 14147 Kali

Isu tentang dunia pendidikan akan selalu menarik untuk dibicarakan baik oleh elit lokal maupun elit nasional, baik itu dikalangan awam maupun dikalangan intelek. Orang membicarakan tentang pendidikan mulai dari ruangan berACC sampai ke warung kopi. Dengan begitu pentingnya dunia pendidikan, maka orang–orang rela menghabiskan waktunya untuk membicarakannya. Dari tahun ke tahun, dunia pendidikan selalu diperbaiki demi mencapai kesempurnaan. Untuk memperbaiki dunia penddidikan memang membutuhkan kerjasama semua pihak baik itu elit yang bergabung secara langsung dalam dunia pendidikan maupun pihak–pihak lain. Kenapa perbaiki itu perlu dilakukan? Karena lembaga pendidikan merupakan modal utama untuk membangun suatu bangsa. Pendidikan merupakan modal utama untuk membangun bangsa yang berkarakter. Bangsa yang maju adalah bangsa yang selalu memeperbaiki dan memperhatikan lembaga pendidikan. Sejalan dengan itu, Fakih (2001), pendidikan merupakan sebuah proses yang dilakukan suatu masyarakat dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mengurus bangsa ini kedepan. Menyiapkan generasi penerus merupakan tugas utama lembaga pendidikan. Pendidikan ada bersamaan dengan manusia.

Pendidikan berfungsi sebagai pelestari nilai–nilai kebudayaan yang masih dipertahankan, pendidikan juga sebagai alat transformasi masyarakat untuk dapat beradaptasi dengan perubahan sosial yang tengah terjadi, Benny Susetyo (2008). Manusia senantiasa melakukan tradisi intelektual lewat institution pendidikan, dan di setiap institusi pendidikan mempunyai cara yang berebeda–beda untuk membimbing generasi penerus. Sehingga dengan cara–cara tersebut lahirlah berbagai model lembaga pendidikan. Ada yang bersifat umum (Pendidikan Nasional) dan ada yang bersifat khusus membidangi keagamaan (pondok, madrasah dan lain sebagainya). Namun, kesemuanya itu pada intinya berusaha untuk menyiapkan manusia sebagai generasi penerus agar kedepannya diharapkan dapat memperbaiki bangsa.

 

Pendidikan yang membebaskan

 

Sejak reformasi digulirkan, tidak sedikit orang menaruh harapan kepada dunia pendidikan. Orang–orang berharap bahwa lembaga pendidikanlah yang mampu mengeluarkan individu–individu dari penindasan–penindasan yang dilakukan oleh rezim orde baru yang berkuasa selama kurang lebih 23 tahun. Kekejaman yang dilakukan oleh rezim orde baru untuk menahan individu agar tidak melakukan kritikan terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh para penguasa. Mu’arif (2008), mejelaskan bahwa kondisi masyarakat Indonesia pada masa rezim orde baru, sebenarnya, sedang tenggelam dalam suatu keterbelakangan. Mereka sebenarnya berontak, tetapi tidak berkuasa untuk meluapkan aspirasinya. Kondisi masyarakat Indonesia pada saat itu seakan–akan berada dalam “tempuruk” meminjam istilahnya Paulo Freire “submerged of culture silent (kebudayaan bisu)” mereka tidak bisa mengeluarkan aspiranya. Bagi Freire yang dikutip oleh Mu’arif (2008) mengatakan bahwa segala bentuk penindasan tidak bisa ditolerir begitu saja, sebab penindasan itu, tidak sesuai dengan nilai–nilai kemanusiaan (humanism), karena itulah freire berpandangan bahwa penyelenggaraan pendidikan itu bertujuan untuk “memanusakan manusia” (humanisasi). Pendidikan diharapkan mampu mengeluarkan manusia dari penindasan yang dilakukan oleh para penguasa dan juga pendidikan mempunyai misi untuk membentuk manusia yang jujur dan berbudi.

Freire yang dikutip oleh Benny Susetyo mengatakan bahwa,

Menekankan agar setelah tersadar dari situasi penindasan, manusia terdidik segera melakukan rekayasa sosial untuk memulai hidup baru yang merdeka. …Pendidikan, yakni membebaskan manusia dari belenggu kezaliman, baik penguasa maupun unsur – unsur sosial lainnya yang menindas dan merampas kemerdekaan berpikir dan berpendapat. Jadi pendidikan adalah sebuah proses untuk mencerahkan, membukan mata untuk memandang secara adil dan bijaksana. (Benny; 2008)

 

Baca Juga :


Pendidikan yang seharusnya mentrasformaskan nilai – nilai atau  memanusiakan” manusia. Pendidikan diyakini sebagai alat untuk mentrasformasikan dari kegelapan menuju pencerahan, akan tetapi kenyataannya berbicara lain, sistim pendidikan yang ada bukan saja tidak tidak berhassil melahirkan individu – individu yang merdeka, kritis dan peka terhadap realitas sosial aka tetapi juga melestarikan status quo sebagaimana dilakukan oleh rezim orde baru. Kehadiran reformasi yang diyakini mampu merubah semua system yang telah disusun rapi oleh rezim orde baru, ternyata membawa kekecewaan banyak orang karena masih banyak kebijakan–kebijakan yang diambil oleh pemeintah yang tidak berpihak kepada rakyat miskin (the non have). Salah satu contoh dengan lahirnya undang–undang BHP. Lahirnya UU BHP implikasi pendirian ini adalah, pemerintah harus melepaskan semua sekolahnya, dan membiarkan urusan pendidikan kepada perusahan swasta. Padahal redormasi tidak dilakukan di bidang politik semata, melainkan reformasi dilakukan di bidang pendidikan juga. Boleh dibilang reformasi masih berjalan di tempat.

 

Sumber Bacaan

Fakih, 2001. Kapitalisme Pendidikan

Mu’afir, 2008. Liberalisasi Pendidikan

Benny Susetyo, 2008. Politik Pendidikan Penguasa



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://hamjahdiha.or.id dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan