logoblog

Cari

Tutup Iklan

Karya Sastra Dalam Merebut Kemerdekaan

Karya Sastra Dalam Merebut Kemerdekaan

“Aku”   Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini

Opini/Artikel

Karya Sastra Dalam Merebut Kemerdekaan


Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
22 November, 2017 10:32:43
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 5052 Kali

“Aku”

 

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menebus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa

berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Khairil Anwar)

Karya sastra tidak lahir atas kekosongan budaya. Ia tidak hadir di ruang hampa. Kehadirannya (karya sastra) tidak hanya mengisi ruang-ruang kosong yang tidak bermakna. Tapi karya sastra hadir dari panggung sosial budaya yang sedang terjadi. Dalam kalimat lain bahwa karya sastra hadir atas sesuatu yang sedang di alami oleh masyarakat. Kejadian tersebut, tidak hanya mengisi ruang epik saja, akan tetapi karya sastra mengisi segala lini kehidupan manusia.

Karya sastra juga telah berhasil merumuskan etape perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam kalimat lain bahwa karya sastra melalui medium bahasa juga merumuskan peta perjalanan kemerdekaan Indonesia.

 

Baca Juga :


Dalam konteks Nasional dan Bahkan Internasional, banyak sastrawan yang menggunakan karya sastra sebagai alat perjuangan. Dalam konteks Indonesia misalnya, terdapat sederet nama sastrawan yang mengunakan karya sastra sebagai alat perjuangan untuk melawan atau merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Sastrawan itu ada, Pramoedia Ananta Toer, Buya Hamka, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Sanusi Pane, Amrin Pane, dan masih banyak sastrawan lainnya. Untuk itulah, Karya sastra hadir sebagai salah satu ruang produksi dan diaspora simbol, dipadati oleh berbagai kepentingan untuk merebutkan legitimasi dan mendapatkan otoritas guna menanamkan realitas, (Barnadi Zakaria, 2016).

Khairil Anwar misalnya, Khairil Anwar merupakan salah satu sastrawan yang menggunakan karya sastra untuk merebut kemerdekaan. Khairil Anwar melalui sajaknya yang berjudul “Aku” telah berhasil membangkitkan semangat para pejuang untuk melawan kolonial.

Dalam sajaknya itu, Khairil Anwar mengirim pesan bahwa Negara Indonesia harus bebas dari penjajahan tidak ada persekongkolan untuk merebut Negara Indonesia dari penjajahan. Walaupun Khairil Anwar tidak melakukan perlawanan dengan senjata, akan tetapi Khairil Anwar berhasil membangkitkan semangat para pejuang.

Pada baris ke dua dalam sajaknya “Aku”, terlihat jelas semangat Khairil Anwar untuk merebut Negera ini dari tangan penjajah. Khairil Anwar secara tegas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu merayunya.

“Ku mau tak seorang kan Merayu Tidak juga kau

Di baris yang lain, Khairil Anwar semakin menegaskan komitmennya untuk berjuang dalam merebut NKRI ini dari tangan para kolonial. Semangat itu terlihat dalam tulisannya di baris ke sembilan.

Biar Peluru menembus Kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa

berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dalam sajak nya itu, terlihat jelas semangat dalam perjuangan. Selangkahpun Khairil Anwal tidak akan mundur untuk melawan. Walaupun peluru yang menembus kulitnya, tidak membuat Khairil Anwal surut dalam perjuangannya.

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Dalam benak Khairil Anwar bahwa Negera Indonesia harus bebas dari penjajahan, sehingga warganya bisa hidup tanpa ada belengu dari pihak lain.



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://hamjahdiha.or.id dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan