logoblog

Cari

Tutup Iklan

Monolog Cerdas Dalam Iris

Monolog Cerdas Dalam Iris

“Apakah biru yang kulihat sama dengan biru yang mereka lihat?” (kutipan monolog dalam film pendek Iris) Monolog bisa menjadi kekuatan besar

Opini/Artikel

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
21 November, 2017 13:35:14
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 5228 Kali

“Apakah biru yang kulihat sama dengan biru yang mereka lihat?” (kutipan monolog dalam film pendek Iris)

Monolog bisa menjadi kekuatan besar dalam sebuah film pendek. Dari film-film pendek yang saya pernah tonton, tidak sedikit yang hadir dengan konsep gambaran suatu peristiwa atau cerita dengan menggunakan monolog sebagai benang cerita yang kemudian membentuk sebuah film pendek secara utuh. Iris salah satunya.

Iris merupakan film pendek pemenang Festival Film Pendek Indonesia (FFPI) kategori umum tahun 2014. Berdurasi tak sampai 10 menit, film ini begitu rapi menceritakan perasaan seorang laki-laki penderita buta warna melalui monolog tokoh tunggal bernama Marceli dan penggambaran peristiwa yang mengambil sudut pandang si tokoh yang buta warna.

Saya begitu terpesona dengan pemilihan adegan yang saya pikir sangat sesuai dengan monolog. Dari awal Marceli membuka mata dan penonton diajak untuk melihat apa yang marceli lihat. Meski yang saya tonton adalah video dengan kualitas yang sangat buruk, saya yakin coloringnya yang asli pasti bagus, pun dengan efek yang digunakan. Bagaimana saya bisa yakin? Karena film ini bercerita tentang warna, jadi tentu saja film ini mempertaruhkan coloring dalam filmnya. Kalaupun pewarnaannya tidak begitu baik, monolognya yang begitu kuat dapat menutupi kekurangan itu.

Berikut kutipan monolog “Iris”:

“Mereka bilang ada angka 5 dalam kertas ini. Kalau benar apa buktinya? Namaku Marceli, kira-kira 8 % dari populasi laki-laki di dunia mengalami buta warna. Aku salah satunya. Mereka pernah bilang namaku tak jauh dari keajaiban. Saking ajaibnya, mereka bilang aku pernah mewarnai rumput dengan warna merah.  Tapi bagaimana aku bisa percaya?”

 

Baca Juga :


Bukankah dialog itu begitu cerdas menggambarkan perasaan Marceli? Tidak hanya itu, menurut saya film ini juga ingin mengatakan “kananmu bukan kananku” dengan cara yang lain atau simplenya apa yang kita anggap benar belum tentu benar di mata orang lain yang memiliki sudut pandang berbeda. Pesan tersirat yang saya tangkap, kita diminta untuk menghargai perbedaan dengan mengajak kita untuk memahami dunia seorang penderita buta warna.

“Apakah biru yang kulihat sama dengan biru yang mereka lihat?”

Selain itu, rajutan adegan begitu rapi terjalin dan terlihat begitu pro. Sayangnya, saya tidak menemukan data siapa sutradara, penulis skenario, dan ide cerita film ini sehingga saya tidak bisa menyebutkankannya untuk memuji. Meski begitu saya ucapkan “bravo!” kepada Neo Park Picture yang memproduksi film ini dan Universitas Multimedia yang memayungi rumah produksi ini. (nov)



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan