logoblog

Cari

Tutup Iklan

Dosen Dan Perjuangan

Dosen Dan Perjuangan

Matahari sudah mulai condong ke barat, hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami, sepanjang jalan kami digunyur hujan, menyebabkan pakaian yang kami pakai

Opini/Artikel

Hamdi
Oleh Hamdi
20 November, 2017 14:05:23
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3773 Kali

Matahari sudah mulai condong ke barat, hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami, sepanjang jalan kami digunyur hujan, menyebabkan pakaian yang kami pakai basah kuyup. Ketika dalam perjalanan kami dua kali berteduh, pertama di ruko sebelah kiri, disana kami bertemu dengan pedagang kerupuk yang lagi berteduh seperti apa yang kami lakukan, dan kami membeli kerupuk dengan harga lima ribu untuk mengisi perut kami yang sudah mulai kosong, mengingat kami makan hanya dipagi hari, sementara jam sudah menunjukkan pukul 14.30, seharusnya sudah makan siang. Ditempat itu kami menunggu hujan reda sangat lama, sampai lima kerupuk yang kami beli sudah habis kami makan. Baru hujan agak reda. Pada saat itu kami berfikir, seaakan kayak anak-anak yang baru pulang sekolah, membeli makanan dipinggir jalan langsung dimakan, rasanya mengharukan.  seperti guru-guru yang mengajar ke pelosok desa, tak kenal lelah untuk berbagi ilmu. Kami berfikir, selayaknya kami ini layak masuk kick endy atau siaran TV lainnya, yang menanyangkan inspirasi bagi masyarakat. Ini hanya guyunanku, tidak ada niatku menjadi orang terkenal, tapi menjadi orang yang dikenang.

 Setelah hujan mulai reda kami melanjutkan perjalanan lagi, namun tidak jauh dari tempat kami berteduh yang pertama hujan lebat datang, akhirnya kami berteduh yang kedua kalinya,  hujan semakin deras lagi menurunkan bulir-bulirnya, kalau kami jalan akan menambah basah yang membuat kami kembali tidak melanjutkan perjalanan lagi, akhirnya kami berteduh tepat didepan jualan bakso, dan membeli bakso sebagai penghangat perut, makan bakso dimusim hujan sangatlah enak buat perut kayak kami ini. Bakso makanan yang tak kenal musim, tak lekang oleh waktu.  Ditempat jualan bakso kami sibuk dengan aktifitas masing-masing, terutama media sosial. Kami sama-sama memegang HP berkomunikasi dengan sahabat yang jauh dari jangkauan mata. Ini kami lakukan sambil menunggu hujan yang kian waktu semakin membesar, membuat kami semakin resah kapan akan melanjutkan perjalanan lagi, perjalanan yang sudah kami tempuh belum setengahnya. Hujan baru reda ketika sudah menunjukkan pukul 15.30, perjalanan kami mengajar ini sebenarnya sudah terlambat, tapi kami tetap nekat untuk terus melanjutkan perjalanan.

Sesampai di kampus kami masih melihat mahasiswa yang masih setia menunggu, duduk-duduk di lumbung dan teras kampus. Aku bangga padamu mahasiswaku, tanpamu aku tak ada, bahkan kampuspun tak akan ada. Kita saling melengkapi, saling membutuhkan satu sama lainnya, seperti laki-laki yang membutuhkan seorang perempuan sebagai lawan bicara, dan teman bercinta apalagi dimusim hujan. Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri, tak ada manusia yang tidak memerlukan orang lain. Maka pada saat itu hati perlu berdamai dalam kebersamaan.

Aku adalah dosen komunikasi politik dan media masa,  kebetulan di jabatan fungsionalku tertera itu, sehingga aku menerimanya dengan lapang dada. Aku ini ketika kuliah bukan jurusan politik. S1 aku matematika, dan S2 kebijakan publik. Namun saya suka dengan politik, dan aku bilang kepada mahasiswaku, politik itu seni kemungkinan, semua bisa terjadi dalam waktu sekejap, apa yang nampak didepan, belum tentu mengatakan keyataan yang sesungguhnya, karena dibelakang layar bisa berbeda. Itulah politik yang menampakkan dua wajah yang berbeda. Membuat kita bingung, dan kadang jumud. Tidak ada kawan abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Sekarang berantem, saling memarahi habis-habisan, berdebat sejadi-jadinya, beberapa hari kedepan sudah baikan tergantung kepentingan, yang menyatukan karena memiliki kepentingan yang sama.

Politik itu dibenci dan disayangi, dua kata yang hadir diwaktu yang bersamaan, tidak ada orang yang bebas dari politk, mau ikut terlibat atau tidak, akan tetap kena imbas dari kebijakan politik. politik kadang mengerikan, memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang kadang dia membencinya sekalipun. Aku ingin bercerita padamu mahasiwaku, dinegara kita ini tidak banyak dari kepala dinas harus merelakan jabatan yang telah lama diimpikan untuk dimutasi menjadi kepala sekolah dipelosok, bahkan lebih rendah dari itu, karena itu imbas dari politik, seberapa besar kemampuan yang dimiliki seseorang, kalau tidak ikut mendukung atau calon yang didukungnya tidak menang, maka siap-siaplah untuk disingkirkan dengan berlahan-lahan. Kau akan dibunuh dan terasing.

Belum lagi kalau kita berbicara media sosial mahasiswaku, terlalu rumit dan sukar untuk dijelaskan melalui kata-kata. Dimedia sosial kita sekarang, susah membedkan mana ruang privat dan mana ruang publik, semua di sebar dengan bebas, bisa dikonsumsi banyak orang, seakan tidak ada ruang pribadi lagi. Kita sering mendengar siapa yang menguasi media maka dia menguasai duni, media sudah dipakai sebagai alat politik untuk menggiring opini, untuk mencari simpati. Semua ini dilakukan oleh para politisi yang bisa membaca peluang, melalui media sosial mereka menyebarkan jargon politiknya, bisa diterima atau tidak oleh masyarakat umum. karena  Melalui twetter dan facebook tidak membutuhkan dana terlalu besar.

Temenku yang satunya namanya LMNF, ini nama singkatan atau nama kerennya. Dia mengajar teori governen. Tempat kami mengajar sama, bedanya kami memegang mata kuliah yang berbeda. Dia adalah dosen yang kece disenangi oleh mahasiswa-mahasiswi terutama para cewek. Memiliki jenggot yang panjang, seperti para dai yang senang nginap di masjdi,Keliling ke berbagai daerah terutama pelosok-pelosk desa, yang dianggap moralnya rusak. Dia  kalau dilihat sekilas seperti orang yang aliran ekstrim. Namun ini beda, cara berpakaiannya necis, lain daripada yang lain. Ketika mengajar sering lupa waktu saking senangnya, dan dia suka bercerita dan memberikan jok-jok kepada mahasiswanya.  

 

Baca Juga :


Kami ini dosen keliling, bukan dosen terbang, yang memakai pesawat kemana-mana, dan menikmati segala fasilitas yang diberikan kampus.  Kami hanya memakai sepeda motor  metik, dari kampus ke kampus. Namnya juga dosen keliling, fasilitas seadaanya. Bagi kami tidak masalah, dengan senang kami menjalaninya, yang penting kami berjumpa dengan para mahasiswa, karena dengan berjumpa mengobati rasa lelah kami dalam perjalanan, mengingat jarak tempuh enam puluh kilometer.

Bertemu dengan mahasiswa dengan segala penghormatannya, dengan segala etika yang diajarkannya, menambah kekaguman dan rasa senang yang tidak pernah kami sampaikan kepada mereka. Kesenangan itu kami hanya menikmatinya sendiri-sendiri, kalau diungkapkan lewat kata-kata, akan mengurangi esensi kenikmatan yang dikandungnya. Kesenagan atau kebahagiaan tidak selalu harus diungkapkan, begitupun perbuatan baik, tidak selalu harus muncul, sekali-kali perlu tidak terlihat.

Waktu terus berjalan pergi meninggalkan kita, tanpa memberikan toleransi, tanpa pamit kepada kita, kata orang-orang bijak, “sungguh merugi orang-orang yang tidak memenfaatkan waktunya dengan bijak”. Akhirnya tiba waktunya kami untuk pulang mengajar, kembali ketempat masing-masing, biasanya sebelum kami balik, kebiasaan kami kongko-kongko dulu, berbagi cerita tentang impian di hari tua nanti, ada yang kepingin punya tanah yang ada kolam dan di tanami pohon-pohon buahan yang rindang, dikala sewaktu-waktu berkunjung ada yang bisa dipetik dari pohonnya.

Ada yang punya impian membuat kampung literasi, orang boleh datang untuk membaca buku, berdiskusi, dan belajar menulis. Menjadikan semua tempat menjadi tempat belajar, menjadikan semua orang menjadi guru, semua orang memiliki posisi yang sama, sebagai insan pembelajar. Tidak ada yang lebih tinggi, namun sopan santun tetap dijaga, saling menghargai sudah melekat dalam setiap orang yang datang. Lebih tepatnya ini impianku, membangun peradaban dari desa, memperbaiki generasi dari desa. Orang-orang besar terlahir dari pelosok-pelosok desa. Kepekaan sosial dibangun, kesdaran kolektif dikembangkan. Namun Entahlah, mungkin ini adalah imajinasi liar kami, dari kegelisahan hati yang kami rasakan, apa bisa tercapai atau tidak urusan belakang, yang penting kami sudah bermimpi.

Kami sudah mulai bergegas pulang meninggalkan kampus, dan saat perjalanan pulang tidak ada rintik-rintik hujan, bintang-bintang bermunculan bersma bulan, seperti orang pacaran yang takut kehilangan kekasihnya. []



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan