logoblog

Cari

Tutup Iklan

Geneologi Rimpu (1)

Geneologi Rimpu (1)

Sebelum tahun 1640 M, atau bertepatan dengan tahun 1050 H, masyarakat Mbojo memiliki agama tersendiri, yakni agama “makamba ro makimbi” atau

Opini/Artikel

Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
11 Oktober, 2017 13:23:04
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2305 Kali

Sebelum tahun 1640 M, atau bertepatan dengan tahun 1050 H, masyarakat Mbojo memiliki agama tersendiri, yakni agama “makamba ro makimbi” atau lebih kurang mempunyai arti “Animisme dan Dinamisme”. Sebelum penulis membahas geneologi rimpu, terlebih dahulu penulis akan membahas sedikit tentang kepercayaan “makamba ro makimbi”. Makamba ro makimbi merupakan kepercayaan masyarakat Mbojo sebelum datangnya agama Islam. Kepercayaan terhadap Makamba  ialah masyarakat Mbojo mempercayai sekaligus menyakini bahwa di dalam benda memiliki kekuatan yang penuh dahsyat. Makamba yang artinya cahaya yang memancar keluar. Yang artinya bahwa di dalam benda-benda seperti keris, batu besar, pohon besar, dan lain sebagainya tersebut  memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Hilir Ismail dalam Mawardin Sidik (2017), mendefinisikan bahwa agama makamba diartikan dengan benda-benda yang dipercayai memiliki kekuatan gaib disimbolkan sebagai benda yang mampu memancarkan cahayanya. Agama makamba sama dengan dengan kepercayaan dinamisme, yakni agama yang mempercayai adanya benda-benda tertentu yang memiliki kekuatan gaib dan dapat mempengaruhi kehidupan manusia.

Selain menganut kepercayaan makamba, masyarakat Mbojo juga mempercayai agama makimbi. Makimbi adalah cahaya yang berkelap-kelip atau yang berkemilau, seperti kelap-kelip cahaya bintang atau kunang-kunang pada malam yang gelap, Mawardin Sidik (2017). Jika ditarik dalam kepercayaan, maka makimbi diartikan bahwa agama atau kepercayaan yang mempecaya sekaligus menyakini bahwa setiap benda baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa memiliki  roh, sehingga wajib dilindungi dan dihormati. Jika tidak, maka akan menimbulkan bencana. Kepercayaan makimbi sama dengan kepercayaan animisme. Kedua keeprcayaan tersebut saling melengkapi satu sama lain, bahkan menyatu dalam bentuk sinkretisme, Hilir Ismail dalam Marwan Sidik,(2017 ).

Namun kepercayaan makamba ro makimbi bertahan di hati masyarakat Mbojo. Masyarakat Mbojo pelan–pelan beralih ke agama Islam. Masyarakat Mbojo mendapat pencerahan dari sang Raja, yakni Sultan Abdul Kahir. Pada tahun 1640 M, atau bertepatan pada 1050 H masyarakat Mbojo resmi menganut agama Islam yang di bawa pimpinan Sultan Abdul Kahir. Sultan Abdul Kahir pada saat itu mendapat bimbingan dari mubaliq dari Sumatra, yakni Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro. Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro berhasil mengislamkan lima kerajaan, yakni Gowa, Wajo, kutai, Selayar, dan Mbojo. Pada saat Islam masuk di wilayah Mbojo, saat itu pula Mbojo menjalankan hukum Islam baik dalam kehidupan pemerintahan (raja) maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pada saat itulah sang raja mengeluarkan ultimatum (ikrar) tentang pentingnya hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ultimatum tersebut berbunyi “Mori ro made na Dou Mbojo ede kai hukum Islam-ku” yang artinya “Hidup dan matinya orang Mbojo harus dengan hukum Islam”. Di saat itu pula rimpu digunakan oleh masyarakat Mbojo sebagai alat untuk menutup aurat bagi kaum perempuan. Sebagai konsekuensi dari terimanya agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka mau tidak mau dalam hal pakian juga harus di atur, salah satunya menurup aurat baik kaum laki maupun kaum perempuan. Di sinilah rimpu hadir sebagai pahlawan untuk menyelamatkan kaum perempuan. Perempuan yang selama itu dijadikan objek dari “pandangan” kaum laki-laki. Atun dalam Diha mengatakan bahwa ada tiga alasan kenapa harus menggunakan rimpu, yakni teologis, sosiologis, dan teoritis.

Secara teologis, kitab suci ummat Islam (Al-Qur’an) terdapat tiga ayat membahas khusus tentang wacana pembatasan diri dan cara berpakian kaum perempuan, yakni Al-Ahzab (33: 53 dan 59), dan An-Nur (24:31).  Dalam Al-Azhab ayat 53 membahas wacana tentang hijab (tabir). Dalam ayat tersebut, sebagian orang menerjemahkan bahwa hijab atau tabir tersebut dikhususkan untuk istri-istri nabi, sedangkan sebagiannya menerjemahkan bahwa tabir (hijab) tersebut untuk kalangan ummat. Secara implisit bahwa perintah tersebut merupakan simbol atau tanda supaya ummat Islam khususnya kaum perempuan mudah dikenal dan terhindar dari “pandangan-pandangan” yang menjadikan kaum perempuan sebagai objek. Sedangkan dalam surah An-Nur ayat 31 Tuhan menganjurkan kita (kaum perempuan) untuk menutup auratnya dengan kain kerudung. Ayat tersebut sebagai koreksi bagi kaum perempuan yang suka menampakkan auratnya kepada publik. Dalam pandangan orang Mbojo, bahwa menampakkan aurat di hadapan publik merupakan tindakkan yang melanggar norma, mungkin begitu juga dalam pandangan Islam pada umumnya. Dengan tersingkapnya betis saja, wanita zaman dulu sudah merasa malu dan segera minta nikah. Mereka menganggap itu sebagai bentuk pelecehan (aib) terhadap wanita, (Hilir Ismail dalam Naniek, 2012).

 

Baca Juga :


Ada tiga poin yang dapat di ambil dalam ayat di atas, yakni pembatasan diri, kesopanan, dan identitas. Untuk itulah rimpu dan Islam tidak bisa dipisahkan. Ia bagaikan gula yang tidak bisa dilepaskan dari manisnya. Rimpu dan Islam menyatu padu. Rimpu merupakan hasil kreasi masyarakat Mbojo sebagai upaya menerjemahkan nilai-nilai agama Islam dalam konteks lokal.

 

Bersambung...



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://hamjahdiha.or.id dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan