logoblog

Cari

Tutup Iklan

Merariq perspektif Feminis

Merariq perspektif Feminis

Merariq (menikah) dalam tradisi masyarakat suku sasak lebih sering diinterpretasi dan dilihat dari perspektif laki-laki. Bahwa merariq itu sebagai perwujudan ketangkasan

Opini/Artikel

rohani inta dewi
Oleh rohani inta dewi
09 Oktober, 2017 15:05:20
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 756 Kali

Merariq (menikah) dalam tradisi masyarakat suku sasak lebih sering diinterpretasi dan dilihat dari perspektif laki-laki. Bahwa merariq itu sebagai perwujudan ketangkasan terune (laki-laki) sasak dengan memiliki keberanian untuk membawa lari anak gadis para orang tua. Selain itu juga untuk menunjukkan bahwa laki-laki sasak tersebut siap menjaga si dedare (perempuan) sasak. Ketika bahaya serta resiko pun berani diambil pada saat selarian (kawin lari), tantangan kehidupan berumah tangga juga siap diarungi bersama.

Masyarakat suku sasak yang didominasi budaya patriarkhi mengukuhkan pandangan bahwa setiap hal yang terjadi baik dalam tradisi, budaya, dan adat istiadat sasak luput untuk melihat dari sisi perempuannya. Unsur maskulinitas yang mendominasi dalam masyarakat suku sasak. Hal tersebut sudah terkonstruksi dan mengakar dalam masyarakat suku sasak hingga lebih dari tujuh turunan.

Dominasi budaya Patriarkhi pada masyarakat Sasak

Struktur budaya patriarkhi ini menurut M. Harfin Zuhdi dalam bukunya yang berjudul “Praktik Merariq Wajah Sosial Masyarakat Sasak” melahirkan seperangkat pola hubungan sosial gender yang bersifat vertikal dan tersubordinasi, di mana satu pihak merasa berada di posisi atas, dan pihak lain ada di bawah atau ada yang merasa harus didepan sehingga menimbulkan pola hubungan yang tidak bersifat setara.

Hal tersebut menurut saya juga memberikan sumbangsih sangat besar dalam cara masyarakat suku sasak di Lombok, provinsi Nusa Tenggara Barat menginterpretasi setiap tradisi dan budaya dengan dominasi perspektif maskulin.

            Ketika saya masih kecil, setiap ada yang merariq di kampung, hal pertama yang muncul adalah bagaimana laki-lakinya mengambil si gadis, dan ketegangan saat selarian ketika orang tua dan keluarga mengetahui bahwa anak gadisnya di bawa lari. Tidak ada yang mencoba mempertanyakan bagaimana pergolakan bathin si perempuan sasak yang kemudian memutuskan memilih selarian dengan laki-laki tersebut, serta melakukan berbagai cara agar bisa keluar rumah tanpa diketahui oleh seisi rumah.

Merariq: Ekspresi Independensi Perempuan Sasak

Merariq menurut saya adalah kemerdekaan yang paling merdeka yang dimiliki oleh perempuan sasak. Di saat begitu banyak tradisi dan budaya lain yang mengkungkung perempuan sasak, pada merariq ini tidak ada yang bisa menghalangi perempuan sasak untuk menikah dengan laki-laki yang menjadi pilihannya. Menjadi hak perempuan sepenuhnya dalam menentukan pasangan hidupnya.

Baca Juga :


Budayawan sasak L. Satria Wangsa dalam wawancara singkat yang saya lakukan memaparkan hal senada bahwa merariq sebagai ekspresi independensi perempuan sasak. Merariq adalah hak paling mewah yang dimiliki perempuan sasak dalam menentukan jodohnya, tidak ada pihak satupun yang dapat mengintervensinya baik saudara maupun keluarga, hatta orang tuanya sekalipun. Sungguh luar biasa hak yang diberikan adat terhadap perempuan sasak, tuturnya.

Keluarga saya sendiri pernah mengalami ini ketika kakak laki-laki saya membawa lari perempuan yang dicintai dan juga mencintainya untuk dinikahi. Keluarga si perempuan datang (satu rombongan) kerumah dengan tujuan untuk membelas (melerai) pernikahan tersebut. Saat itu si perempuan ditanyakan oleh tokoh adat kedua belah pihak, apakah anda akan pulang dengan orang tua anda atau tetap dirumah suami. Si perempuan menjawab saya akan tetap dirumah suami saya. Pernyataan tersebut dianggap final dan megikat meskipun orang tuanya tidak setuju tetap tidak bisa menghalangi pernikahan tersebut.

Meskipun masih banyak hal-hal lain dalam tradisi dan budaya sasak yang masih mensubordinatkan perempuan sasak, dan memposisikan fungsi dan perannya melekat pada ranah domestik, seolah-olah sebagai sebuah takdir. Setidaknya melalui mencoba melihat perspektif-perspektif dengan cara feminis akan semakin membuka ruang dan kemerdekaan-kemerdekaan lain bagi perempuan sasak. Semoga.

 

           

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan