logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mereka yang Terusir dari Tanah Sendiri

Mereka yang Terusir dari Tanah Sendiri

  Hingga kini, jamaat Ahmadiyah korban pengusiran 2006 masih menahan isak tangis di gedung pengunsian Transito, Kota Mataram itu. Terabaikan, tidur berjejal

Opini/Artikel

Ahyar ros
Oleh Ahyar ros
10 September, 2017 09:37:29
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2323 Kali

Hingga kini, jamaat Ahmadiyah korban pengusiran 2006 masih menahan isak tangis di gedung pengunsian Transito, Kota Mataram itu. Terabaikan, tidur berjejal diruang yang hannya disekat tirai kain seadanya dan kamar berukuran tiga kali empat untuk satu kepala keluarga.

Mimpi buruk itu seakan terus menghantui pikiran bu Mahtum. Ibu empat orang anak ini sering mengingat peristiwa pahit 10 tahun silam itu, lantaran pada saat itu terusir secara masal dari kampung mereka sendiri Ketapang, Desa Gegerung, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kami diusir dari, rumah kami dirusak dan dibakar. Kami terpaksa menggunsi di sini, entah sampai kapan, akan berada disini?” Kata jamaat Ahmadiyah itu dengan nada getir, ketika saya bertandang ke pengunsian Transito pertengahan Ramadhan minggu lalu (13/6/2017).

Dua bulan lalu, siang itu, saya bertandang ke penampungan bekas transimigrasi yang terletak di Kelurahan Majeluk, Kota Mataram itu. Masuk halaman penampungan ini, saya disambut baik dengan senyuman anak-anak seumuran 10 tahun, sejenak mereka berhenti bermain.

Gedung Transito, yang tadinya merupakan tempat penampungan. Sementara bagi para transimigran NTB, yang akan diberangkatkan ke daerah tujuan. Bangunan itu kemudian disulap menjadi tempat penampungan, kelihatannya tidak bersifat sementara, bagi para korban pengunsi jamaah Ahmadiyah korban pengusiran dari Ketapang (kampung halaman). Di tempat inilah, bu Mahtum tinggal bersama almarhum suami dan anak-anaknya, berbaur dengan 31 kepala keluarga lainnya. Saat ini, total penghuni gedung pengunsian itu berjumlah 32 KK, terdiri dari 32 116 jiwa itu.

Mahtum merupakan salah satu jamaat Ahmadiyah yang terdepak dari Ketapang pada tahun 2006, akibat penolakkan warga, dari Lombok yang tak dikenal. Ia masih ingat waktu mencekamnya saat kejadian saat itu. Ketika itu, 4 Februari, massa berjumlah ratusan orang tiba-tiba menyerang mereka di siang bolong. Masa sempat meminta warga Ahmadiyah meninggalkan Ketapang, karena dianggap menganut ajaran menyimpang dan melecehkan Nabi Muhammad SAW. Namun warga Ahmadiyah memilih bertahan.

Akibatnya massa pun emosional dan bertindak brutal. Mereka melempari kediaman warga Ahmadiyah dengan batu sambil berteriak-teriak, “Serbu, dan bakar!” Polisi yang berjaga-jaga disana, karena sebelumnya mendengar ada ancaman penyerangan terhadap warga Ahmadiyah, mereka tak bisa berbuat banyak. Guna menghindari bentrokan massa, polisi memindahkan warga Ahmadiyah ke sebuah lapangan kecil, yang tak jauh dari rumah mereka, sehingga aksi brutal massa yang menyerang berasal dari luar Ketapang itu bisa diredam.

Namun, sejumlah rumah terlanjur rusak dan di bakar, beberapa warga Ahmadiyah dan polisi terluka. Akhirnya warga Ahmadiyah takluk menahan sesak menahan isak tangis dan pasrah. Mereka pun manut saja diungsikan ke Transito mengunakan truk kepolisian. “yang kami bawa hannya sehelai pakaian di badan, serta harta benda yang bisa diselamatkan waktu itu,” tutur Mahtum

 Keluarga Mahtum menempati sebuah ruangan berukuran 3 kali 4 meter di bagian belakang bersama-sama satu KK lainnya, yaitu bersama dua anaknya dan mendiang almarhum suaminya. Ruang sempit itu dijejali dengan dua dipan beralas tikar, kotak kardus berisi pakaian, juga sebagaian besar perabotan makan dan persedian beras. Ada pula kipas angin sebagai pengusir gerah sebagai pengusir gerah. Sebagai penyekat antar dipan, dipasang tirai ala kadarnya.

Ini masih mending, kalau awal-awalnya disekat, mengunakan kardus dan kantong semen bekas, cerita Mahtum sambil berlinang air mata mengenang ceritanya. Di tempat pengunsian, Mahtum bersama keluarganya dan jemaat senasib memulai hidup baru dengan terseok-seok, maklum mereka memulai lagi dari awal, dengan sedikit bantuan dari jamaat Ahmadiyah yang punya sedikit rizki. Abdullah keponakan ibu Mahtum, misalnya terpaksa menjadi tukang ojek, dan buruh panggul di pasar Cemare, Kota Mataram. Sejumlah kepala keluarga lainnya juga mengojek, banyak pula yang bekerja serabutan seadanya.

Tinggal di pengusian Transito, sepertinya membuat Mahtum tidak kerasan. Maklum, di kampung Ketapang, Mahtum dan almarhum suaminya menempati rumah sendiri dengan ukuran sekitar 50 meter persegi. Karena, itulah keluarga Mahtum bersama 10 KK lainnya di Transoto, yang rumahnya rusak tidak seberapa parah, mewujudkan tekad itu. Mereka kembali ke Ketapang untuk memperbaiki rumah dan tempat tinggal di sana. 

Apa daya, tinggal di sana beberapa bulan, mereka kembali diusir warga. Rumah-rumah yang telah diperbaiki rumah dan tinggal di sana. Ada apa daya, baru tinggal di sana beberapa bulan, mereka kembali diusir warga. Rumah-rumah yang telah diperbaiki tadinya, lagi-lagi rusak dan dihancurkan warga. Mahtum bersama jemaat Ahmadiyah lainnya menangis. Maklum susah payah memperbaikinya dengan menghabiskan dana Rp 25 juta hasil tabungan, tau-nya dirusak secara sewenang-wenang oleh warga tak di kenal.

Apa boleh buat, keluarga Mahtum bersama pengunsi lainnya terpaksa menetap di penampungan Transito, hingga saat ini. Mereka tidak punya pilihan lain. Mereka umumnya tak punya kesanggupan ekonomi untuk pindah ke daerah lain, juga tak ada sanak-saudara yang ekonominya cukup untuk menampung mereka. Untungya, mereka tinggal dipengunsian di tengah kota yang masyarakatnya heterogen dan sibuk, sehingga relatif tidak punya waktu untuk mengusir keyakinan mereka.

Selam 10 tahun di pengunsian, dengan fasilitas seadanya, jamaat Ahmdiyah tetap menjalankan keyakinanya beragama. Mereka menunaikan sholat berjamaah di salah satu ruang, yang disulap menjadi musala. Mereka tetap teguh menjalankan keyakinan kami, meski tidak mencolok, kata Saleh Mubaliq wilayah Ahmadiyah NTB.  Ia sangat menyesalkan sikap warga dan pemerintah yang menilai mendiskriminasikan jamaat Ahmadiyah.

 

Baca Juga :


Di pengunsian itu, sehari-hari kaum laki-laki bekerja di luar, sedangkan kami ibu-ibu menghabiskan waktu mengurusi anak-anak mereka yang masih kecil, sembari kongkrow di halaman gedung penampungan Transito. Kehidupan suami istri juga berjlan relatif normal. Menurut Udin koordinator pengunsi sejak 2006, hingga kini tercatat 29 bayi lahir di pengunsian tersebut.

Nasib pengunsi jamaah Ahmadiyah NTB yang berlarut-larut, Yusuf Tantowi, Lembaga Studi Kemanusiaan (Lensa), NTB. “Janglah pemerintah menganggap persoalan pengunsi Ahmadiyah ini selesai dengan di samping di tempat pengunsian. Lebih dari itu, pemerintah harus memberikan pelayanan terhadap hak-hak dasar mereka, seperti rasa aman, kesehatan, dan pendidikan yang layak bagi anak mereka di Tansito.

Ahmadiyah masuk ke Lombok pada 1957, dibawa oleh Jafar Ahmad asal Surbaya dan mulai berkembang menjadi pengurus Cabang Mataram, hingga kini. Se-iringan dengan perjalanan waktu, jamaat wilayah NTB makin luas dan anggota terus bertambah. Hingga kini, menurut Udin, jumlah anggota Ahamdiyah di NTB mencapai sekitar 2. 500 orang, itu tersebar di NTB.

Asal usul penyerang jamaat Ahmadiyah NTB bermula dari Fatwa MUI 2003 yang mengeluarkan fatwa haram terhadap jamaat Ahmadiyah, dan ini berbuntut pada penyerangan dibeberapa tempat di Lombok, seperti di desa Ketangga, Lombok timur, Desa Pemongkong, Kecamatan Keruak, Lombok Timur. Kejadian ini mengakibatkan masjid di hancurkan, rumah dan musala jamaat Ahmadiyah diratakan dengan tanah.

Sejak penyerangan inilah, aksi kekerasan terhadap jamaat Ahmadiyah di NTB terus berulang. Tercatat 7 kali penyerangan terjadi dari 1996, hingga terakhir pada 2010 di Ketapang. Pengikut Ahmadiyah yang ekonominya lemah, terpaksa hidup dipengunsian. Selain di gedung pengunsian ada pula yang tinggal di pengunsian Praya, Lombok Tengah. Jumlah pengunsi di Praya tercatat 40 jiwa dengan 8 kk, menempati bagian bangunan bekas RSUD Praya. Jumlah ini menyusut dibandingkan saat tahun 2006, yang jumlahnya mencapai 85 jiwa dan 30 kk. Mereka yang ekonominya kuat atau punya kerabat yang menampung memilih angkat kaki dari Praya, sebagian ada yang sudah hijrah, ada sudah ke Jawa, Sulawesi dan Sumbawa, Kata Basirun Aziz mantan mubaliq Transito Mataram, yang saat ini berpindah tugas ke Papua.

Nasib para pengunsi jamaat Ahmadiyah sangat memprihatinkan. Mereka bertahun-tahun tinggal berjejal di bilik-bilik pengunsian yang kumuh, entah sampai kapan. Lihat saja, tiga tahun lalu, mereka tinggal di Transito tanpa memiliki kartu tanda pengenal (KTP), sehingga ank-anak yang lahir di penampungan Transito tak punya akta kelahiran. Pihak kelurhan tak mau menebitkannya karena alasan tak punya surat pindah, padahal mengurus surat pindah tak mudah, karena semua dokumen musnah dalam kerusuhan 2006. Cerita Abdullah ini.

Tiadanya KTP waktu itu menyebabkan mereka kehilangan kesempatan mengakses fasilitas sosial, seperti jaminan kesehatan, bantuan lansung sementra masyarakat (BLSM), namun uniknya, mereka diberi hak pilih setiap kali pemilu mereka diberi hak pilih setiap kali pemilu legislatif maupun kepala daerah berlansung. “Syukur saat ini, kami sudah memiliki tanda pengenal, yang lama di impikan. Namun itu tak cukup, kami ingin kembali ke kampung halaman di Ketapang. Kami ingin hidup selayaknya warga biasa di Lombok,”. Cerita ibu kelahiran Jerwaru, Lombok Timur ini.

Di negeri ini, masih banyak kelompok yang mengalami diskriminasi. Bahkan diskriminasi dilakukan oleh pemerintah terhadap kelompok minoritas. Kelompok ekstrem kerap mengunakan kebijkan yang diskriminatif untuk melakukan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas. Padahal dalam konstitusi kita memberikan mandat agar pemerintah melindunggi seluruh warga negara. Konstitusi kita menjamin hak asasi manusia setiap warga negara, khsusunya dalam kemerdekaan beribadah dan berkeyakinan.

Apa yang dialami jamaah Ahmadiyah di Transito, Lombok merupakan tragedi kemanusiaan. Mereka adalah kelompok yang tertindas dan mengalami nasib yang tragis hampir 12 tahun, tanpa ada solusi yang adil. Sedihnya lagi mereka perempuan dan anak-anak menjadi korban dari tindakan pengabaian negara ini. Hal ini menyayat jati kita. Tapia pa dikata, hingga sekarang taka da solusi yang mampu memanusiakan mereka. Mereka tidak bisa pulang ke kampung halaman, dan terpaksa tinggal di penampungan.

Meskipun kita mempunyai konstitusi yang menjamin kemerdekaan beribadah dan berkeyakinan, namun kita masih mempunyai aturan dan kebijakan yang selalu digunakan sebagai alat untuk melakukan diskriminasi dan persekusi. Saatnya kita belajar dan mencari solusi buat mereka yang mengalami kejadian seperti di jamaat Ahmadiyah di Taransito, Lombok.

Tulisan ini diikut sertakan dalam "PESERTA ANUGRAH JURNALISME 2017" Yang diselengarakan oleh Bale Bengong 2107  () 



 
Ahyar ros

Ahyar ros

Peraih Beasiswa (Menulis Tempo & S2 LPDP Sholarship) Saat ini sedang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB)

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan