logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ikhtiar TGB menuju RI : Sebuah Mimpi ataukah Obsesi?

Ikhtiar TGB menuju RI : Sebuah Mimpi ataukah Obsesi?

Keberhasilan Dr. M. Zainul Majdi, MA dalam memimpin provinsi Nusa Tenggara Barat sudah bukan sekedar cerita di ujung jalan, namun sudah

Opini/Artikel

KM. Mutiara
Oleh KM. Mutiara
07 September, 2017 07:39:33
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 8280 Kali

Keberhasilan Dr. TGH. M. Zainul Majdi, MA dalam memimpin provinsi Nusa Tenggara Barat sudah bukan sekedar cerita di ujung jalan, namun sudah terdengar sampai keluar bahkan teruji di tingkat nasional.  Masyarakat NTB tentu tidak bisa menafikan realita bahwa, keberhasilan NTB saat sekarang ini merupakan hasil dari kinerja dan buah pikiran sosok muda dan cerdas Tuan Guru Bajang (TGB).

Provinsi NTB memang masih jauh di katakan sebagai provinsi yang maju, karena Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih berada pada urutan ke 30 dari 34 provinsi, namun jika melihat statistik nasional, angka ini sudah lebih baik dari sebelumnya yakni berada pada urutan ke 32.  Maka dari itu provinsi NTB tentu masih memiliki pekerjaan rumah yang mesti harus segera di selesaikan.

Namun, tentu pekerjaan yang masih tersisa itu, tidak lagi akan bisa di selesaikan, mengingat masa bakti sang gubernur TGB akan segera berakhir. Undang-undang  mengamanatkan bahwa, seorang kepala daerah tidak bisa lagi menjabat atau maju mencalonkan diri kembali apabila sudah 2 periode menjabat. TGB kita ketahui bersama bahwa pertama kali dipilih menjadi Gubernur NTB pada pemilu kepala daerah tahun 2008, kemudian kembali maju mencalonkan dirinya pada pemilu kepala daerah tahun 2013 lalu. Maka genap 2 periode sudah sang TGB memimpin, maka bagaimana dengan ikhtiar beliau selanjutnya, apakah berakhir sampai disini?

Pertanyaan inilah yang kemudian ingin penulis jawab, mengingat banyaknya desas desus yang muncul dalam wacana masyarakat NTB hari ini. Pemilukada tahun 2018 mendatang tentu tidak bisa di ikuti oleh TGB karena sudah 2 periode menjabat, namun isu pada masyarakat NTB hari ini bahwa ada kemungkinan besar TGB akan menjadi calon presiden atau wakil presiden Republik Indonesia pada pemilihan umum tahun 2019.

Wacana dan isu ini memang sudah tersebar di media sosial (medsos) seperti facebook, twitter, instagram group Whatsap dan lain sebagainya. Isu ini tidak hanya kemudian muncul sebagai konsumsi publik sesaat saja, namun memang jika di lihat dari kondisi negara hari ini menarik untuk kemudian di buka dan di kaji secara mendalam. Kenapa demikian?

Kita ketahui bersama tentunya, negara kita saat ini diserang dengan berbagai isu-isu radikal, isu sara, isu komunisme, isu korupsi, berita bohong (Hoax) dan lain sebagainya. Masyarakat sebagai konsumsi kemudian menjadi korban dari isu-isu ini, yang terjadi kemudian adalah hilangnya rasa kebangsaan, rasa persatuan dan ujung-ujungnya adalah runtuhnya jiwa berbangsa dan bernegara yang tertuang dalam amanat pancasila dan UUD 1945.

Isu sara misalnya, adalah isu yang sangat krusial hari ini, akibat dari perhelatan Pilkada DKI beberapa waktu lalu menjadikan isu ini menjadi sangat krusial di tengah masyarakat. Hari ini sesama rakyat saling hujat menghujat antar agama satu dengan agaa yang lain, antar suku yang satu dengan yang lainnya bahkan antar golongan satu dengan yang lainnya saling menyalahkan. Lalu jika sudah seperti ini dimana kata “Persatuan Indonesia” pada sila ke 3 Pancasila?

Belum lagi akhir-akhir ini muncul isu Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mulai di muncul-munculkan kembali. Sejarah bangsa Indonesia tentu tidak akan bisa melupakan bagaimana bringas dan kejamnya PKI pada tahun 60 an. Lantas kenapa hari ini pada pemerintahan Jokowi mulai di muncul-munculkan kembali? Tentu ini memiliki maksud dan tujuan, namun yang jelas bahwa PKI di Indonesia sudah lama mati dan terkubur bersama sejarah berdirinya negara ini. lantas apa hubungannya TGB dengan semua ini?

 

Baca Juga :


Keberhasilan sosok TGB dalam memimpin provinsi NTB tentu harus dilihat bukan karena semata-mata beliau adalah seorang politisi semata, namun keberhasilan TGB dalam memimpin NTB juga tidak terlepas dari sosok beliau sebagai seorang ulama’. Gelar “Tuan Guru” yang di sematkan pada nama beliau TGB adalah gelar yang diberikan kepada seseorang di pulau Lombok yang tingkat ilmu agamanya sudah teruji. Gelar Tuan Guru di pulau Lombok tentu tidak bisa di berikan begitu saja, ini hampir sama dengan di pulau Jawa yang memberikan gelah KH kepada para ulama-ulama yang ilmu agamnya sudah teruji.

Keberhasilan menjadi pemimpin dan teruji menjadi seorang ulama, inilah dua hal yang dipadukan oleh sosok TGB sehingga mampu membawa NTB kepada tingkat prestasi terbaiknya seperti yang bisa di nikmati oleh masyarakat hari ini. Lalu Ikhtiar menuju RI ini apakah sekedar mimpi ataukah sebuah obsesi belaka?

Jika melihat kondisi negara yang penulis sampaikan di atas, tentu ini bukan lagi soal mimpi ataukah obsesi belaka. Ketika kepemimpinan presiden Jokowi hari ini terbilang sangat anti Islam kemudian juga di kaitkan dengan komunis, maka solusi sebagai penyeimbang tentu Jokowi membutuhkan seseorang yang menjadi tameng dan bamper menghadapi semua ini, maka solusi yang tepat adalah menggandeng Dr.M. Zainul Majdi, MA sang TGB menjadi wakil beliau. Kenapa harus memilih TGB?

Pertanyaan ini tentu ada di setiap benak kita semua, mengingat begitu banyaknya sederetan nama tokoh-tokoh nasional yang mulai bermunculan ingin maju mencalonkan dirinya sebagai orang nomor satu dan dua di RI ini. Namun sepengamatan penulis, sederetan tokoh yang muncul hari ini masih pada deretan politisi, bukan apa-apa namun sederetan nama yang masuk bursa calon semuanya rata-rata masih dalam rentetan sederet kasus-kasus  korupsi di negara ini. Isu yang berkembang saat ini, selain Indonesia di hadapkan dengan isu Agama (sara) isu korupsi merupakan isu yang sangat krusial. Saat ini, jika kita melihat kasus-kasus besar korupsi di negara kita, masih berkutik pada lingkar politisi. Tentu masyarakat Indonesia ingin negara ini terbebas dari itu, maka tentu di perlukan sosok yang bebas dalam lingkar itu pula, dan tentu bukan politisi pilihannya.

Selain pilihan politisi, pilihan lain yang dapat menjadi solusi adalah dari ulama, namun sampai saat sekarang ini, hanya TGB lah yang muncul pada deretan ini, jika kemudian mengkaitkan dengan tokoh ulama’ pada organisasi islam terbesar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah sampai detik ini juga belom muncul satu sosok yang pas dan mau maju menjadi RI.

Jadi apakah ini mimpi? Banyak dari kita yang selalu mengkaitkan pilpres dengan harus memiliki partai politik sebagai wadah, kemudian banyak juga yang pesimis karena mengatakan bahwa NTB hanya sekian koma persen dari seluruh rakyat NTB, namun harus di ingat kembali, presiden Joko Widodo menjadi presiden dengan memenangkan pilpres 2014 beliau tidak memiliki partai, kemudian kota solo juga hanya sekian koma persen penduduknya namun bisa mencuri perhatian rakyat Indonesia. Maka Ikhtiar TGB menuju RI bukan sekedar mimpi namun harus kita jadikan sebagai obsesi bersama, bahwa ulama’ dari NTB juga mampu menjadi pemimpin di negara ini. amin []



 
KM. Mutiara

KM. Mutiara

Baca yang seharusnya diBaca Fikir yang seharusnya diFikirkan Kerja yang seharusnya diKerjakan Kampung Medianya PMII admin @Yas Arman Al Yho Baca-Fikir-Kerja

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan