logoblog

Cari

Tutup Iklan

Me(MERDEKA)kan Kemiskinan

Me(MERDEKA)kan Kemiskinan

Indonesia itu lahir dan merdeka karena konsensus suku-suku bangsa. Lahir dari ide, gagasan dan perjuangan orang kampung, orang desa atau orang

Opini/Artikel

Kampung Media
Oleh Kampung Media
09 Agustus, 2017 10:06:44
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2142 Kali

Indonesia itu lahir dan merdeka karena konsensus suku-suku bangsa. Lahir dari ide, gagasan dan perjuangan orang kampung, orang desa atau orang nagari bahkan orang dusun. Adalah suatu pemahaman yang keliru bila hari ini, Indonesia sebagai negara melupakan akarnya. Tapi kemiskinan itu ada di desa, di kampung, di daerah 3T 

bahkan warga pinggiran kota itu pun dikatakan miskin 
karena mereka adalah orang desa 
‘korban’ istilah urbanisasi.
 
Dua Identitas Penjajahan : Kemiskinan dan Kebodohan
Di manapun intervensi penjajahan pasti melanggengkan kemiskinan dan kebodohan. Di jaman penjajahan Belanda para pribumi hanya dijadikan tenaga kerja (manpower) dalam sistem kerja paksa rodi dan Romusha di Jaman Penjajahan Jepang. Potensi alam kampung, dusun, desa, nagari di belahan nusantara ini dikuasai penjajah. Dan dengan kekuasaan dan senjata mereka bisa berbuat apa saja. Bukan hanya tanah, air dan alam yang mereka jajah. Hak azasi pun mereka rampas. Tidak jarang pribumi ‘penjilat  dan penghianat’ menjadi kaki tangannya. Mereka makan darah daging saudaranya sendiri. Intervensi kemiskinan ini pun tidak berhenti. Para pemuda pribumi tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pandai. Kalaupun ada hanyalah kalangan bangsawan yang boleh bersekolah. Baru di penghujung penjajahannya dimulai dalam pergerakan pemuda di tahun 1926, ide, gagasan dan pemikiran menuju bangsa berdaulat mulai nyata dirasakan, mengkristal menjadi kesamaan nasib yang harus diperjuangkan menuju kemerdekaan Indonesia. Kemiskinan dan kebodohan adalah “mata rantai syaitan” yang seolah tiada ujungnya. Bahkan sampai kita merdeka pun keduanya menjadi musuh bersama yang sangat sulit untuk dientaskan.
Otonomi Desa di Jaman Belanda, 
lahir kembali dengan UU Nomor 6 Tahun 2014
Walau penjajahan Belanda begitu lamanya. Di tambah dengan Jepang. Tidak banyak orang yang tahu ternyata ‘kampung, desa, nagari’ justru pada zaman penjajahan Belanda telah diakui otonominya. Secara regulasi entitas desa/nagari menjadi daerah otonom diakui dan diatur. Tentu tujuannya untuk kepentingan dan kebutuhan penjajah. Namun, Hindia Belanda sebagai suatu negara telah mengatur tatanan tata negaranya sedemikian rupa. Setelah, Indonesia Merdeka, Orde Lama, Orde Baru bahkan awal Orde Reformasi, Desa tidak diatur dalam undang-undang tersendiri. Walaupun Tata Pemerintahan Indonesia sampai pada Daerah Tingkat III yaitu Desa, namun Desa tidak memiliki regulasi sendiri. Desa digabungkan dalam undang-undang otonomi daerah atau pemerintahan daerah.  
Dari sinilah bermula, kenapa orang desa ingin urbanisasi ? karena disparitas antara kota dengan desa sangat signifikan. Dominasi pembangunan di pusat kota bukan di desa. Karena segala pusat ada di Jawa maka provinsi dan kabupaten/kota lainnya di bagian barat, tengah apalagi timur Indonesia menjadi daerah tertinggal. Indonesia menjadi negara miskin padahal sumber daya alamnya melimpah dan luar biasa. Desa di Indonesia tidak akan pernah keluar dari kantong-kantong kemiskinan apabila pembangunan ini tidak dimulai dari desa. Urbanisasi pasti akan terus terjadi dan warga miskin kota akan semakin menumpuk jika desa tidak punya daya tarik bagi penduduknya. Andai saja Undang-undang Desa itu terlahir semenjak Indonesia merdeka, bisa jadi kemiskinan kita tidak merajalela. Kalau bangsa ini miskin dan bodoh             di Jaman Belanda, itu adalah kewajaran yang biasa. Iya..karena kita sedang tidak berdaulat, karena kita sedang di jajah. Tapi kalau kemiskinan itu ada di negara yang berdaulat ? maka siapa yang menjilat siapa? Siapa yang berkhianat pada bangsa ini? Siapa yang menjadi pecundang dan mempecundangi pada Pahlawan Pejuang Bangsa ?
 
Bangsa ini tidak boleh ‘miskin kemerdekaan’
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 bisa menjadi tonggak berdaulatnya orang kampung, orang desa dan nagari di Indonesia. Tapi layaknya orang kampung, mereka lugu dan apa adanya. Mereka perlu dibina dan dibimbing. Diajari cara akuntansi pemerintah mengelola dana desanya. Diajari tata cara akuntabilitasnya. Cara melayani publiknya. Cara terbaik memberikan informasi pada rakyatnya. Karena baru saja dua tahun, desa diberikan ‘kuasa’ mengelola dirinya, setelah berpuluh-puluh tahun Indonesia Merdeka. Sebagai manusia, para kepala desa dan perangkatnya mudah juga khilaf dan salah dan itu hanya segelintir. Para aparat penegak hukum dan pemeriksa keuangan dan pembangunan harus memilih jalan preventive dan persuasif jikalau ada keliru dalam pengelolaan dana yang diamanahkan negara dan rakyat padanya. Jangan langsung refresif dan seolah ‘vonis’. Otonomi desa ini baru saja tumbuh. Otonomi desa ini adalah masa depan kita dan cara terbaik kita mengawali perang kita terhadap kemiskinan dan kebodohan. 
Bangsa ini sudah miskin. Tapi bukan berarti kita harus ‘miskin kemerdekaan’. Apa itu miskin kemerdekaan? Jika bangsa ini, warganya miskin saling peduli, miskin saling membantu, miskin saling mengayomi, miskin saling menasihati, miskin saling menolong, miskin tidak bisa merasakan penderitaan sesama warga bangsa, dan miskin-miskin emosionalitas lainnya. Bukankah bangsa ini lahir dari ‘kaya’nya perilaku teladan para Pejuang, ‘kaya’nya tekad dan cita-cita luhur The Founding Father kita? ‘kaya’nya orang-orang kampung, orang dari desa dan nagari? ‘kaya’ saling percaya dan mendukung, ‘kaya’ saling menguatkan dan menasihati ? Bahkan kayanya harta dan doa ummat yang membantu Indonesia Merdeka? Cukuplah kita menjadi miskin di 72 Tahun Indonesia Merdeka. Mari Perjuangkan Desa menjadi lokomotif kejayaan Indonesia. Desa Berdaya, Indonesia pasti Berjaya. Dirgahayu Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita. Merdeka !!! (An11).

Najamuddin Amy, S.Sos.,MM
(Wakil Ketua Komisi Informasi NTB, Founder Actioner IndonesiaMahasiswa Doktoral PSDM Universitas Airlangga Surabaya)


 

Baca Juga :


 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan