logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kenakalan Remaja

Kenakalan Remaja

Masa remaja sering juga disebut dengan masa transisi, yakni jembatan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Banyak hal yang menandai terjadinya

Opini/Artikel

Julia Tia Saputri
Oleh Julia Tia Saputri
25 April, 2017 12:41:55
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 27025 Kali

Masa remaja sering juga disebut dengan masa transisi, yakni jembatan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Banyak hal yang menandai terjadinya masa remaja seperti perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional.

Proses biologis (biological process) yakni melibatkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi didalam tubuh individu. Adapun perubahan bilogis tersebut meliputi : gen-gen yang diwarisi orang tua, perkembangan otak, tinggi dan berat tubuh, perubahan dalam keterampilan motorik, perubahan hormonal dimasa pubertas.

Proses kognitif yakni (cognitive process) melibatkan perubahan pemikiran dan intelligensi individu. Seperti mengingat sebuah puisi, memecahkan soal-soal pelajaran seperti matematika dan lain sebagainya, membayangkan sesuatu seperti menjadi seorang bintang film.

Psoses sosio-emosional (social emosional). Yang melibatkan perubahan-perubahan dalam hal emosi, kepribadian, relasi dengan orang lain dan konteks sosial. Seperti menanggapi perkataan orang tua, bersikap agresi terhadap kawan-kawan sebaya, kegembiraan ketika lulus sekolah, dan orientasi peran gender.

Berhenti disitu mengenai pengertian remaja. Lalu apa masalah yang sering dihadapi oleh remaja? Masalah-masalah tersebut meliputi kenakalan remaja, kehamilan remaja, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, bunuh diri dan gangguan-gangguan makan (eating disorder yang meliputi anorexia dan bulimia nervosa pernah dibahas dalam artikel sebelumnya, link : http://blog.ub.ac.id/juliatia/2014/10/13/berat-badan-sudah-40-kg-mengapa-masih-ingin-kurus-juga-menyimak-diagnosa-anorexia-dan-bulimia-nervosa-pada-remaja-perempuan/ . Dalam artikel kali ini, penulis akan lebih banyak membahas mengenai kenakalan remaja, determinan-determinan serta pencegahannya.

Kenakalan remaja

Kenakalan remaja (juvenile deliquency) mengacu pada perilaku luas yang bersikap negatif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain mulai dari perilaku yang tidak bisa diterima secara sosial (seperti melawan atau memukul guru, teman-teman), melakukan pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah selama lebih dari 24 jam) hingga pada tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri, membunuh dan lain sebagainya).  kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja yang merupakan perwujudan dari ketidakterselesaikannya proses-proses perkembangan maupun koonflik yang terjadi pada masa kanak-kanak maupun masa remaja saat itu.

Kenakalan remaja (juvenile deliquency) ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak, muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anakdan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. (Kartini Kartono, 2011).

Untuk tujuan-tujuan hukum, dibuat suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (index offenses) dan pelanggaran-pelanggaran status (status offenses). Index offenses adalah tindakan kriminal, baik yang dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa. Tindakan-tindakan tersebut meliputi perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan. Status offensesialah tindakan-tindakan seperti melarikan diri dari rumah, nolos dari sekolah, minum-minuman keras yang melanggar ketentuan-ketentuan usia, pelacuran, dan ketidakmampaun diri adalah tindakan-tindakan yang tidak terlalu serius. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan oleh anak mudia dibawah usia tertentu, sehingga pelanggaran-pelanggaran itu disebut sebagai pelanggaran-pelanggaran remaja. (Santrock, 2002).

Faktor yang melatarbelakangi

Terdapat beberapa prediktor yang melatarbelakangi kenakalan remaja seperti :

1. Identitas (identitas negatif)

Kenakalan terjadi karena remaja gagal dalam mengatasi identitas peran. Dalam tahap Erikson kelima, remaja berada dalam tahap identitas versus kebingungan identitas (identity vs identitiy confusion). Dimasa ini, remaja dihadapkan pada tantangan siapakah mereka itu, apa keunikannya, dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Oleh sebab itu, remaja yang gagal dalam mengatasi identitas perannya cenderung akan berperilaku menyimpang yang menjurus pada kenakalan remaja.

2. Pengendalian diri (derajat yang rendah)

Beberapa anak dan remaja yang gagal mencapai pengendalian diri yang baik yang umumnya bisa dicapai oleh rekan-rekan mereka dalam masa pertumbuhan yang sama.

3. Usia (kenakalan telah muncul pada usia dini)

Awalnya perilaku antisosial ditandai dengan pelanggaran-pelanggaran ringan, dan menjadi pelanggaran-pelanggaran serius di kemudian hari pada masa remaja. Akan tetapi, tidak semua anak yang bertindak berlebihan berorientasi menjadi anak atau remaja nakal.

4. Jenis kelamin (dominan dilakukan oleh laki-laki)

Dalam kasus ini, remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam kasus antisosial dan tindakan-tindakan kejahatan, sedangkan remaja perempuan lebih cenderung melarikan diri dari rumah.

 

Baca Juga :


5. Harapan-harapan bagi pendidikan (harapan-harapan yang rendah, komitmen yang rendah)

Remaja yang menjadi nakal cenderung memiliki nilai rapor yang rendah, prestasi yang rendah serta harapan-harapan pendidikan yang rendah pula. Seringkali kemampuan verbal mereka juga menjadi lemah.

6. Pengaruh teman sebaya (berpengaruh berat, seperti tidak mampu menolak ajakan teman)

Remaja seringkali tidak bisa menolak ajakan teman-teman sebayanya. Bergaul dengan teman-teman sebaya yang nakal dapat menambah resiko remaja menjadi nakal pula.

7. Status sosio ekonomi yang rendah

Pelanggaran-pelanggaran hukum yang ringan maupun berat lebih banyak dilakukan oleh anak laki-laki dengan status ekonomi rendah.

8. Peran orang tua (kurangnya keletakan dan pemantauan, dukungan yang rendah, disiplin yang tidak efektif dan kualitas lingkungan (misalnya dalam lingkungan perkotaan karena tingginya kejahatan dan mobilitas)

Masyarakat seringkali mengembangbiakkan kejahatan. Tinggal di lingkungan dengan tingkat kejahatan yang tinggi, kondisi kemiskinan dan kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang remaja akan menjadi nakal. Biasanya masyarakat seperti ini memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai.

Upaya Pencegahan

Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat, orang tau, guru maupun pemerintah setempat dalam mengurangi kenakalan remaja. Upaya-upaya tersebut meliputi : pengadaan ekstrakulikuler di sekolah-sekolah, rekreasi, pelatihan kejuruan, terapi keluarga, modifikasi perilaku, kegiatan-kegiatan agama dan pembacaan kitab suci, maupun psikoterapi individu dan kelompok, dan lain sebagainya.

Karena perilaku kenakalan remaja menimbulkan kerugian yang besar

Dalam pandangannya mengenai pencegahan kenakalan, Joy Dryfoos (1990) juga menggarisbawahi apa yang belum berhasil dalam pencegahan kenakalan. Upaya-upaya yang kurang efektif tersebut meliputi simulasi kasus pencegahan konseling kelompok, intervensi farmakologi (kecuali bagi pelaku kekerasan yang ekstrim), pengalaman kerja, pendidikan kejujuran, sistem peradilan bagi anak-anak nakal dan upaya-upaya langsung yang menakutkan. Ia menambahkan, praktik-praktik sekolah terbaru yang tidak efektif mengurangi kenakalan meliputi pemberian skorsing, penahanan, pemecatan penjagaan keamanan, dan hukum badan.

Daftar Pustaka :

Santrok, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.

Santrok, John W. 2002. Life-Span Development, Edisi Kelima. Jakarta:Erlangga.

Kartono, Kartini. 2011. Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Jakarta:Rajawali Pers.

First Uploaded: http://blog.ub.ac.id/juliatia/2014/10/21/kenakalan-remaja/p



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan