logoblog

Cari

Apakah Upin dan Ipin Adalah Tontonan yang Mendidik?

Apakah Upin dan Ipin Adalah Tontonan yang Mendidik?

Upin dan Ipin : Season 5 – Belajar Lagi (Bagian I) Dewasa ini, banyak sekali anak yang suka menonton sinetron-sinetron yang memang

Opini/Artikel

Julia Tia Saputri
Oleh Julia Tia Saputri
22 April, 2017 16:11:34
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 62043 Kali

Upin dan Ipin : Season 5 – Belajar Lagi (Bagian I)

Dewasa ini, banyak sekali anak yang suka menonton sinetron-sinetron yang memang seharusnya tidak ditonton oleh anak-anak. Orang tua juga kerap kali mengajak anaknya untuk menonotn acara-acara sinetron yang menjadi kesukaan orang tuanya, mau tidak mau, anak pun menjadi suka dengan sinetron itu. Sehingga mulai menceritakan kisah-kisah yang ada dalam sinetron itu kepada teman-temannya.

Rupanya tidak semua anak gemar menonton sinetron yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa. Ada beberapa serial televisi yang gemar ditonton oleh anak-anak seperti Upin dan Ipin, Pada Zaman dahulu, Masha and The Bear, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah Upin dan Ipin. Upin dan Ipin sebagai salah satu serital televisi anak-anak yang mendidik, terlebih lagi pada usia anak pra sekolah dan TK.

Banyak Sekali materi atau Pelajaran yang dapat diambil dari cerita Upin dan Upin ini. Pelajaran-Pelajaran tersebut akan dijelaskan dalam poin berikut ini :

1. Membuat kerajinan tangan

Adegan pertama menampilkan Upin dan Ipin sedang membuat kerajinan tangan. Hal ini dapat dijadikan contoh untuk melatih kreativitas anak, dan mengajarkan anak bahwa tidak semua mainan harus dibeli, karena kalau kita mau, kita bisa membuatnya sendiri.

2. Mandiri

Upin dan Ipin mempersiapkan perlengkapan sekolahnya bersama-sama tanpa dibantu oleh Kak Ros ataupun Opa. Pun demikian ketika mereka menyemir sepatu mereka masing-masing. Orang tua dapat mengajarkan kepada anak untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa, misalnya mempersiapkan seragam sekolah, dan mencontohkan akan bagaimana cara menyemir sepatu dan meminta mereka memperagakannya sendiri.

3. Menggunakan pakaian yang masih layak pakai

Ketika Upin dan Upin meminta seragam dan sepatu yang baru. Kak Ros menjelaskan bahwasanya sepatu dan seragam tersebut masih bagus dan masih bisa dipakai. Lalu Opa menjahitkan celana tersebut untuk mereka dan Kak Ros mengajarkan kepada Upin dan Ipin untuk menyemis sepatunya.

4. Sikap tolong-menolong

Saat Opa hendak menjahitkan seragam untuk Upin dan Ipin, Opa tidak bisa memasukkan benang kedalam jarum. Upin dan Ipin sangat antusias ingin membantu. Dari penggalan cerita tersebut kita dapat mencontohkan anak bahwasanya menolong orang yang membtuhkan adalah perbuatan baik. Pun ketika menyemir sepatu, Upin dan Ipin menyemir sepatu tersebut bersama-sama.

5. Mengucapkan terimakasih setelah ditolong

Kita dapat mengajari anak untuk selalu mengucapkan terimakasih kepada orang lain yang telah menolong kita. Opa mengucapkan terimakasih kepada Kak Ros yang telah membantunya memasukkan benang kedalam jarum. Pun saat malam hari Upin dan Ipin juga memeluk Kak Ros dan mengucapkan terimakasih karena telah membantu mereka menyiapkan peralatan sekolah.

6. Semangat untuk bersekolah

 

Baca Juga :


Semangat untuk bersekolah terlihat jelas dalam serial ini. Orang tua dapat memberitahu anak bahwasanya bersekolah itu menyenangkan, bertemu dengan teman-teman baru dan membuat kita lebih pintar dari sebelumnya. Semangat bersekolah yang diperlihatkan oleh Upin dan Ipin terlihat dari awal serial ini dimulai, dimana upin dan ipin semangat untuk mempersiapkan segala peralatan sekolahnya dan malam hari ketika Kak Ros berkata akan membangunkan mereka pagi-pagi untuk berangkat sekolah.

7. Saling berbagi

Saat Kak Ros membantu mereka memasukkan alat tulis kedalam tas, Kak Ros menanyakan penghapus. Mereka hanya memiliki satu penghapus lalu Kak Ros membagi penghapus tersebut menjadi dua bagian dan memberikan kepada mereka berdua. Hal ini dapat diajarkan kepada anak untuk berbagi bersama saudara maupun temannya.

Serial televisi Upin dan Ipin ini cocok ditonton oleh anak-anak. Dengan jenjang usia prasekolah, TK dan Sekolah dasar. Sebab dalam masa ini, anak-anak lebih menyukai permainan dan menonton serial kartun. Pada usia seperi ini, anak juga senang menirukan teman atau lingkungannya karena seperti teori yang dikemukakan oleh Albert Bandura bahwasanya anak belajar langsung melalui pengalaman dan pengamatan.

Ketika menonton acara ini, anak sebaiknya didampingi oleh orang tua atau orang dewasa lainnya, yang mana orang tua nanti akan menjelaskan kepada anak mengenai perilaku-perilaku dalam serial Upin dan Ipin ini yang bisa dijadikan contoh.

Pengemasan serial televisi Upin dan Ipin ini sangat menarik dan aman untuk ditonton oleh anak-anak. Serial ini bisa dipastikan serial televisi yang mendidik untuk ditonton oleh anak, dan disampaikan dengan cara yang jelas, serta tidak mengandung unsur kekerasan.

Jika dilihat dari Tahap Perkembangan Piaget, serial televisi Upin dan Ipin ini cocok di tonton oleh anak yang berada pada tahap praoperasional. Tahap praoperasional ini berlangsung sekita usia 2 – 7 tahun, yang mana pada usia seperti ini anak sudah mampu menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar dan lukisan. Kata-kata dan gambar ini mencerminkan peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensoris dan tindakan fisik.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, adapun teori yang relevan yang berkaitan dengan serial ini adalah teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura dan Walter Mischel. Fokus awal penelitian ini adalah pengamatan-pembelajaran yang terjadi melalui pengamatan terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam pembelajaran pengamatan, orang secara kognitif mewakili perilaku orang lain dan kemudian kadang menerima perilaku ini untuk mereka sendiri.

Hal ini dapat terjadi pada anak-anak, mereka kerap kali cepat menirukan perilaku dari orang-orang terdekat mereka. Oleh sebab itu, serial televisi Upin dan Ipin ini baik untuk ditonton oleh anak-anak. Melalui cerita-cerita yang disampaikan dalam serial ini, orang tua bisa mengajarkan kepada anak-anaknya perilaku-perilaku yang dapat dijadikan contoh.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

First Uploaded: http://juliatiasaputri.blogspot.co.id/2016/02/anak-dan-media-apakah-upin-dan-ipin.html 

Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak, Edisi Kesebelas. Jakarta : Erlangga.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan