logoblog

Cari

Tutup Iklan

Situs Sejarah Kesultanan Taliwang di Anggaraksa

Situs Sejarah Kesultanan Taliwang di Anggaraksa

KM. Sukamulia – Taliwang dan Selaparang memiliki ikatan kesejarahan yang cukup kuat sejak Kerajaan Selaparang dipinpin oleh Perabu Panji Anom. Eratnya

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
15 April, 2017 12:53:49
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 49448 Kali

KM. Sukamulia – Taliwang dan Selaparang memiliki ikatan kesejarahan yang cukup kuat sejak Kerajaan Selaparang dipinpin oleh Perabu Panji Anom. Eratnya hubungan kesejarahan Taliwang dan Selaparang terbukti dengan adanya Peninggalan Sejarah Kesulatanan Taliwang di Bumi Selaparang. Peninggalan Sejarah dimaksud adalah Makam Anggaraksa yang ada di Dusun Anggaraksa Desa Anggaraksa Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur.

Makam Anggaraksa merupakan komplek pemakaman Patih Kesultanan Taliwang beserta perajurit tangguhnya yang gugur saat bertempur melawan pasukan Kedatuan Munjung yang dipinpin oleh Patih Genep. Keberadaan makam ini menjadi petunjuk untuk mengungkap hubungan erat antara Kesultanan Taliwang Sumbawa dengan Kerajaan Selaparang Lombok. Kisah mengenai pertempuran tersebut diceritakan dalam Babad Munjung.

Rusliruddin menceritakan bahwa di dalam Babad Munjung diceritakan mengenai sebab terjadinya pertempuran antara pasukan Kesultanan Taliwang dengan pasukan Kedatuan Munjung yang menyebabkan gugurnya Patih Kesultanan Taliwang beserta sebagian pasukannya. Peristiwa itu terjadi pada sekitaran tahun 1636. Pasukannya yang selamat menetap di Lombok dan menjadi cikal bakal penghuni Desa Korleko, Desa Kembang Kerang, Desa Rempung, Desa Rumbuk Siren dan Desa Jantuk.

Patih dan Pasukan Kesultanan Taliwang yang gugur dalam pertempuran itu dimakamkan di Kedatuan Munjung yang pada saat itu merupakan wilayah bagian dari Kerajaan Selaparang, tepatnya di sebelah timur pusat Kedatuan Munjung. Komplek makam bersejarah itu kemudian disebut dengan nama Makam Anggaraksa. Di Komplek makam bersejarah itu terdapat 50-an makam dan diantara makam-makam itu hanya Makam Patih Genep yang bukan merupakan orang Taliwang Sumbawa. Dengan demikian jelaslah bahwa Komplek Makam Anggaraksa betul-betul merupakan peninggalan yang sangat bersejarah bagi Kesultanan Taliwang, ungkap laki-laki yang akrab dipanggil Ustad Rusli itu.

Perlu diketahui bahwa pada awalnya, komplek pemakaman ini hanya berisi Makam Patih Kesultanan Taliwang beserta pasukannya dan sebagai penghormatan atas hubungan baik Kesultanan Taliwang dan Kerajaan Selaparang maka Patih Genep dimakamkan di sebelah Makam Patih Kesultanan Taliwang sehingga kedua kesatri (ponggawa) dua pulau itu bersanding layaknya kesatria yang tidak pernah bermusuhan dan saling mendendam.

Ustad Rusli dan Andi Odang juga mengisahkan asal usul mengapa komplek makam bersejarah itu disebut dengan nama Makam Anggaraksa. Berikut kami akan memaparkan informasi mengenai asal usul nama Anggaraksa yang kami dapatkan dari kedua tokoh Desa Anggaraksa tersebut.

Anggaraksa berasal dari dua suku kata, yaitu Angga dan Raksa Anggaraksa yang berasal dari Bahasa Sansekerta; Angga berarti pendatang atau sekelompok orang dan Raksa berarti orang yang ditahan. Jadi Anggaraksa berarti sekelompok pendatang yang ditahan dan diperiksa oleh seorang ponggawa pengawal raja atau seorang patih bersama-sama dengan ponggawa kerjaan yang ada di Munjung atau Mudung. Yang dimaksud dengan pendatang adalah patih beserta perajurit Kesultanan Taliwang atas perintah Sultan Sumbawa Taliwang dengan tujuan datang ke Kedatuan Munjung guna mencari Putera Mahkota Kerajaan Selaparang, yaitu Raden Mas Panji Tilar Negara yang pada saat itu telah menjadi menantu dari pada Sultan Taliwang.

Raden Mas Panji Tilar Negara meninggalkan Kesultanan Taliwang setelah satu bulan menikahi putri Sultan Taliwang (Lala Ratna Ayu Kencana Dewi). Hingga puteranya lahir, Tilar Negara tidak jua kembali ke Taliwang sehingga Sultan Taliwang memutuskan untuk mencarinya ke Kerajaan Selaparang. Dalam pencarian itu, Sultan Taliwang membawa Ayu Kencana Dewi beserta putranya (Raden Mas Pamayan/Raden Untalan) yang pada saat itu baru berumur satu bulan. Mereka berangkat bersama Patih Kesultanan Taliwang beserta ratusan orang perajurit Taliwang.

Setelah keluar dari Gili Lawang, Sultan memutuskan untuk membagi rombongan menjadi dua dengan arah pencarian yang berbeda. Rombongan yang pertama terdiri dari sultan dan puterinya serta cucunya dengan arah pencarian ke Labu Aji (Labuhan Haji saat ini). Sementara rombongan yang kedua dipinpin oleh Patih Sultan Taliwang dengan arah pencarian ke Kedatuan Munjung.

Setelah berlayar berhari-hari, Sultan Taliwang dan rombongannya mendarat di Labu Aji. Tidak sampai satu bulan, Raden Mas Panji Tilar Negara ditemukan jua dan merekapun berkumpul di Kampung Labu Aji.

Sementara itu, Patih Kesultanan Taliwang beserta 150 orang pasukannya mendarat di Pantai Telindung. Berhari-hari pasukan itu berkemah di sekitaran Pantai Telindung. Di sana mereka beristirahat sambil mengatur strategi pencarian. Pada saat berkemah di Telindung, ada pihak yang mencoba menggoyahkan dan membelokkan tujuan kedatangan sang patih ke tanah Munjung. Mengenai hasutan itu, ada yang mengatakan bahwa Patih Kesultanan Taliwang itu dihasut oleh pihak Belanda dan ada juga versi yang mengatakan bahwa beliau dihasut oleh orang kepercayaannya yang ada dalam rombongan itu.

Ahirnya, sang patih mengajak pasukannya keluar dari Telindung dengan tujuan menaklukkan Kedatuan Munjung, beliau tak lagi memegang tujuan untuk mencari Raden Mas Panji Tilar Negara. Dari Pantai Telindung, rombongan patih berjalan menuju pusat Kedatuan Munjung. Dalam perjalannya, sang patih menemukan sebuah goa di sebelah selatan pusat Kedatuan Munjung. Sekitar 50 orang perajurit yang membawa anak dan istrinya disarankan untuk bersembunyi di dalam sebuah goa tersebut dan 100 orang lainnya ikut melakukan pencarian bersama Patih Kesultanan Taliwang, mereka memasuki wilayah Munjung melalui Batu Pelawangan (Gerbang Kedatuan Munjung).

Sesampai di Gerbang Kuri Kedatuan Munjung, sang patih ditahan oleh petugas penjaga gerbang dan salah seorang diutus untuk menghadap raja guna melaporkan kedatangan rombongan asing itu. Singkat cerita, Pemban Mas Ilang Mudung mengutus Patih Genep untuk mengurus kedatangan rombongan tersebut. Sesampai di gerbang, Patih Genep langsung mencari pinpinan rombongan asing tersebut dan mengurusnya sesuai prosedur.

 

Baca Juga :


Seperti biasa, Patih Genep menanyakan tujuan kedatangan orang asing yang memasuki daerahnya. Ketika dintanya, Patih Kesultanan Taliwang menjawab, “saya patih dari Kesultanan Talwang atau Taliwang datang ke mari atas perintah sultan Taliwang untuk menundukkan wilayah Pemban Mas Ilang Mudung sebagai bagian dari kekusaan Sultan Taliwang”. Maka berkatalah Patih Genep kepada salah seorang perajuritnya untuk melaporkan kepada raja tentang kedatangan utusan tersebut dengan maksud dan tujuan kedatangannya.

Mendengar laporan tersebut, Pemban Mas Ilang Mudung berkata kepada perajurit tersebut supaya  melakukan penahanan kepada patih dan perajurit dan sekaligus memberikan perlawanan terhadap mereka yang berkeinginan menaklukkan Kedatuan Munjung. Setelah mengeluarkan perintah itu, Pemban Mas Ilang Mudung berangkat ke Selaparang dengan dikwal oleh Patih Belo untuk melaporkan keadaan yang terjadi di Munjung. Sesampai di Selaparang, Pemban Mas Ilang Mudung beserta patihnya tidak menemukan saudaranya (Raden Mas Pakel/Raja Selaparang), mereka menerima informasi bahwa Raden Mas Pakel (Pemekel) pergi mencari saudaranya (Raden Mas Panji Tilar Negara) ke Labu Aji karena beliau telah menerima informasi/wangsit mengenai Raden Mas Panji yang masih hidup dan sudah berada di Labu Aji (Labuhan Haji sekarang).

Sementara itu, Patih Genep dan pasukannya melakukan perlawanan terhadap Patih Kesultanan Taliwang dan pasukannya. Pertempuran itu cukup sengit sebab pasukan Taliwang cukuplah tangguh. Pertempuran itu terjadi di sekitaran Bukit Anggaraksa saat ini. Pertempuran itu memakan banyak korban, termasuk Patih Kesultanan Taliwang. Terbunuhnya pinpinan perang Taliwang menyebabkan pasukannya yang masih hidup harus menyerahkan diri kepada pihak Kedatuan Munjung. Mereka yang selamat meminta kebijakan Patih Genep supaya Patih dan kawan-kawannya yang gugur dalam pertempuran itu dimakamkan dengan layak dalam satu komplek dan Pihak Kedatuan Munjung pun mengabulkan permohonan itu dengan syarat semua pasukan yang selamat harus mengabdikan diri kepada Kedatuan Munjung dan Kerajaan Selaparang dan taat dengan aturan yang berlaku.

Patih dan 50-an orang pasukan Taliwang yang gugur dalam pertempuran itu dimakamkan dengan layak di Komplek Makam Anggaraksa yang kita temukan saat ini. Pasukan yang selamat menyerahkan diri kepada pihak Kedatuan Munjung dan siap melaksanakan aturan yang diberlakukan untuk mereka. Sementara itu, pasukan yang disembunyikan di dalam goa diburon oleh pasukan Munjung. Pasukan itu berada dalam ketakutan sehingga  mereka melarikan diri ke berbagai arah. Ada yang berlari ke dalam hutan sebelah utara Aikmel dan membuka pemukiman di sana (Kembang Kerang sekarang), sebagian melarikan diri ke Rempung, sebagian mengungsi ke selatan Munjung dan membuat pemukiman baru yang dikenal dengan nama Korleko sekarang dan sisanya ke Rumbuk Siren serta Jantuk.

Warga dan pencinta Kampung Media yang kami banggakan, mengacu dari cerita di atas maka jelaslah bahwa nama Anggaraksa bermula dari peristiwa kedatangan Patih Kesultanan Taliwang yang tujuan awalnya adalah untuk mencari Raden Mas Panji Tilar Negara atas perintah Sultan Taliwang, namun setelah mereka sampai Munjung, sang patih beserta pasukannya berubah niat karena adanya hasutan dari pihak luar. Hal itu menyebabkan Pemban Mas Ilang Mudung marah dan mengutus patihnya untuk menahan dan mengurus Patih Kesultanan Taliwang beserta rombongannya, pristiwa inilah yang kemudian diabadikan dengan sebutan Anggaraksa dan kata Anggaraksa itulah yang kemudian digunakan untuk menyebut nama Desa Pemekaran dari Desa Kerumut, yaitu Desa Anggaraksa sehingga Peninggalan Bersejarah berupa Komplek Pemakaman Pasukan Taliwang dan Goa tempat bersembunyi sebagian pasukan Taliwang itu disebut dengan nama Makam Anggaraksa dan Goa Anggaraksa.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Komplek Makam Anggaraksa merupakan Benda Cagar Budaya yang sangat penting artinya bagi pihak Kesultanan Taliwang dan Kerajaan Selaparang. Benda Cagar Budaya ini sangatlah patut untuk dijaga sebeb itu bisa memberikan kita informasi mengenai keberadaan Kedatuan Munjung, Kesultanan Taliwang dan hubungannya dengan Kerajaan Selaparang.

Sebagai penguat, perlu juga kami sampaikan bahwa makam bersejarah ini sudah tiga kali dikunjungi oleh pihak Balai Arkeologi Bali, Datulong (Terah Kesultanan Seran) dan Terah Kerajaan Selaparang. Tim Arkeologi dari BALAR sudah melakukan tiga kali kunjungan dan mengakui kebenaran situs bersejarah itu. Kunjungan pertama pada tanggal 29 Juli 2016, kunjungan ke dua pada tanggal 26 Desember 2016 dan kunjungan ke tiga dari ketua BALAR pada tanggal 16 Februari 2017. Kunjungan keluarga dari Kesultanan Taliwang (Drs. A. Hadiputra Datulong, M. Si, MBA/Presiden Direktur PT. Keleang Sakti Pengelola Kapal Cepat Datu Seran Ekpress) beserta rombongan pada tanggal 29 Januari 2017 dan beliau mengakui bahwa itu memang makam leluhurnya.

Ahirnya, kami berharap semoga kedua belah pihak (keturuanan/terah Kesultanan Taliwang dan Kerajaan Selaparang) yang masih ada hingga saat ini bisa melakukan kerjasama untuk menjaga keberadaan Benda Cagar Budaya tersebut, supaya bukti sejarah kerajaan besar NTB dimasa lampau dapat memberi kisah kepada anak cucu kita di masa mendatang. Demikian juga dengan pihak pemerintah provinsi NTB dan pihak-pihak yang memiliki wewenang atas perlindungan Benda Cagar Budaya, sangat diperlukan perhatiannya sebab saat ini komplek makam bersejarah itu tidak terurus karena jarangnya pihak yang mengetahui sejarah keberadaannya. Semoga dengan informasi ini, para pencinta sejarah NTB dan pihak-pihak lain punya rasa perduli untuk melakukan pemugaran terhadap are komplek makam tersebut.

Warga dan pencinta Kampung Media yang kami banggakan, demikianlah segelumit cerita yang dapat kami kisahkan pada artikel kali ini. Semoga informasi ini bermanfaat bagi siapa saja yang sempat membacanya. Kami juga sangat mengharapkan masukan atas isi artikel ini sebab tidak menutup kemungkinan ada diantara pembaca yang mengetahui cerita yang belum kami ketahui mengenai Makam Anggaraksa tersebut. Mohon maaf jika ada kekeliruan, terimakasih atas kunjungan dan kritik serta sarannya, SALAM DARI KAMPUNG.

_By. Asri The Gila_ [] - 01



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan