logoblog

Cari

Tutup Iklan

Belajar Dari Teman-Teman Bima (Menulis Dalam Air)

Belajar Dari Teman-Teman Bima (Menulis Dalam Air)

Seminggu bahkan lebih setiap hari saya menyibukkan diri dengan buku-buku yang berkisah tetntang kerajaan bima yang di tulis seorang teman kelahiran

Opini/Artikel

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
22 Januari, 2017 21:18:29
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 7382 Kali

Seminggu bahkan lebih setiap hari saya menyibukkan diri dengan buku-buku yang berkisah tetntang kerajaan bima yang di tulis seorang teman kelahiran jawa dengan judul tambora 1815, mulai adari epic yang menantang hingga ending yang membuat tegang cukup membuat saya terhibur terlebih lagi gaya penulisannya yang lumayan religious dengan pendekatan islam cultural seolah-olah kita berada begitu dekat dengan papekat yang hilang itu.

Belum kering rasanya lahar muntahan gunung tambora yang memanggang seluruh kerajaan disekitarnya dengan jumlah material yang berkubik-kubik itu, belum kering juga ingatan saya tentang jumlah penyusutan penduduknya setiap tahun, tentang kerugian materi yang tak terbayang, tentang binatang ternak dan pohon-pohon yang hancur lebur dan semuanya telah berlalu hingga 300 tahun silam.

Saya kehilangan banyak momen untuk membuka laptop dan membuka lembaran webs dan situs sistus, sebuah email nyasar tiba-tiba melekat pada template saya kemudian meminta untuk ikut serta bersama berdonasi untuk masyarakat bima. Ditambah rasa penasaran yang terus merayu saya untuk ingin mengetahui maksud tersebut saya ikuti saja setiap permintaannya. Hingga akhirnya saya berkesimpulan bima juga butuh banyuan moril.

Mengenai buku yang berkisah tentang bima 300 tahun silam dan email nyasar yang bercerita tentang bima 3 minggu yang lalu keduanya memiliki beberapa persamaan dimana kesepakan antara buku dengan email sama-sama mengajak kita untuk mengasah jiwa dan kemanusiaan kita.

 

Baca Juga :


Saya membayangkan kota bima sebagaimana cerita di tambora 1815 itu seumpama seorang raksasa yang sedang menyelam di tengah laut yang kemudian sembulannya bocor dan muncrat hingga ummat manusia harus menelan pil tidur panjang hingga hamper mendekati angka 5000 jiwa selama 3 tahun berturut-turut. dan membaca email nyasar itu saya membayangkan bima seumpama raksaya yang ingin berendam lebih dalam lagi beruntunglah informasi terakhir tidak ada korban jiwa,

Namun hikmah dibalik kejadian di tahun 1815 dan 2017 sama-sama mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat bima mudah-mudahan bima tidak terkena musibah lagi, salut kepada teman-teman media di bima tetap menulis dalam rendaman banjir selama 3 hari seperti di tambora 1815 itu hujan debu terjadi dari tanggal 13-15 hari [] - 03



 
Chairil Anwar

Chairil Anwar

Menjadi tua adalah sebuah kebiasaan, sedangkan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, dari KMKrens untuk NTB yang berdaya saing. HP 087763256047

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan