logoblog

Cari

Mengenal Arti Lambang Kerajaan/Kesultanan Bima

Mengenal Arti Lambang Kerajaan/Kesultanan Bima

KM TNC. Dalam sebuah negara atau kerajaan/kesultanan pasti memiliki lambang (logo) yang memiliki arti/makna mempengaruhi pola hidup masyarakatnya dan menjadi  pedoman

Opini/Artikel

KM. Tembe Nggoli
Oleh KM. Tembe Nggoli
09 September, 2016 23:15:07
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 85493 Kali

KM TNC. Dalam sebuah negara atau kerajaan/kesultanan pasti memiliki lambang (logo) yang memiliki arti/makna mempengaruhi pola hidup masyarakatnya dan menjadi  pedoman bagi masyarakat/rakyatnya.

Saya ingin mengupas/mengangkat arti lambang (logo) salah satu Kerajaan/Kesultanan yang pernah berjaya pada jamannya dan hingga saat ini masih berdiri kokoh yaitu Kerajaan/Kesultanan Bima NTB. Dalam waktu dekat akan menobatan Jena Teke Ke XVII tanggal 18 September 2016.

Berikut arti labang Kerajaan/Kesultanan Bima:

Bentuk:

Gambar Garuda yang menoleh ke kanan dan ke kiri di atas perisai

Warna:

Warna dasar kuning berarti bersih. 

Warna garuda biru berarti setia. 

Warna perisai merah berarti berani.

Burung Garuda

 

Baca Juga :


Gambar Garuda berkepala dua yang melambangkan menoleh ke kanan dan ke kiri, suatu pernyataan bahwa dasar pemerintahan Kerajaan Bima berasaskan Hukum  Adat dan Hukum Islam berkedudukan sama dan seimbang. 

Sayap kiri lambang Hukum Hadat.

  • Bagian luar bulu 7 helai, Majelis Tureli:
  1. Tureli Nggampo.
  2. Tureli Bolo.
  3. Tureli Woha.
  4. Tureli Belo.
  5. Tureli Sakuru.
  6. Tureli Parado.
  7. Tureli Donggo.
  • Bagian dalam bulu 5 helai, Daerah Ncuhi.
  1. Ncuhi Dara – wilayah tengah – pusat.
  2. Ncuhi Banggapupa – wilayah timur.
  3. Ncuhi Dorowoni – wilayah utara.
  4. Ncuhi Padolo – wilayah barat.
  5. Ncuhi Parewa – wilayah selatan.

Sayap kanan melambangkan Hukum Islam.

  • Bagian luar bulu 7 helai : Ilmu Fikih 7 macam
  • Bagian dalam 5 helai
  1. Ilmu Tauhid (3).
  2. Ilmu Tassauf (2).             

Kerajaan Bima menganut faham ahli sunnah wal jama’ah yang dikenal dengan “Ilmu Dua Belas”

Ekor.

  • Bagian kiri bulu 4 helai melambangkan pola masyarakat yakni Sultan (Raja), kelompok bangsawan (Tureli), Juru (Dari) dan rakyat biasa (Ada ro Ela).
  • Bagian kanan bulu 4 helai melmbangkan pelaksanaan harian Hukum Islam : Khatib Tua, Khatib Karoto, Khatib Lawili dan Khatib Toi. (Tua – kepala ; karoto = tenggorokan = leher ; lawili dada ; toi = kecil).
  • Bagian tengah bulu 2 helai melambangkan Ketua dan Wakil Ketua Hadat.
  • Tubuh Garuda. Melambangkan Sultan/Raja sebagai pemimpin tertinggi Hadat merangkap sebagai Qadi/Imam. Tubuh Garuda bulu 35 helai himpunan dari:
  1. Bulu sayap kiri kanan 2 x 12 helai = 24 helai.
  2. Bulu ekor kiri, kanan dan tengah 2 x 4 helai + 2 helai = 10 helai.
  3. Tubuh Garuda  = 1 helai.

Himpunan bulu Garuda 35 helai melambangkan keterpaduan antar unsur sara (Umara) dan unsur Islam (Ulama) yang menjelma menjadi “Sara Dana Mbojo”. Semua dirangkul menjadi satu, diperhatikan sama dan seimbang dalam mengemban pemerintahan kerajaan yang dilambangkan dengan Garuda menoleh ke kanan dan ke kiri ; dilaksanakan dengan ketulusan hati, kebersihan niat dan tujuan yang sama dilambangkan dengan Garuda berwarna biru yang didukung oleh keberanian  dan dijamin keamanannya yang dilambangkan  perisai berwarna merah. Hukum Hadat dan Hukum Islam berpadu dan berbaur menjadi satu sebgai kesepakatan guna menjapai kesejahteraan kerajaan dan rakyat. Dengan cita-cita dan tujuan itulah maka Sultan Bima dipersonifikasikan dengan “Howo Ro Ninu”.

Sumber : Sejarah Bima Dana Mbojo, Alm. H. Abdullah Tajib, BA () -03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan