logoblog

Cari

Memaksimalkan Rasa Persatuan dan Kasih Sayang

Memaksimalkan Rasa Persatuan dan Kasih Sayang

Kota Bima. Kita harus menyadari, bahwa seseorang tidak akan melepaskan identitasnya, namun harus disadari pula, bahwa identitas nasional harus dijadikan patokan

Opini/Artikel

Drs H Anwar Hasnun
Oleh Drs H Anwar Hasnun
03 September, 2016 23:17:02
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 11635 Kali

Kota Bima. Kita harus menyadari, bahwa seseorang tidak akan melepaskan identitasnya, namun harus disadari pula, bahwa identitas nasional harus dijadikan patokan bersama. Kita boleh mengagungkan orang Bima, orang Lombok atau orang  Jawa, tetapi jangan lupa sebagai rakyat Indonesia. Dalam konteks memaknai hal di atas, kesukuan kita, atau daerah, lebih tinggi dari identitas nasional. Hal ini sesuai dengan makna Bhineka Tunggal Ika, persatuan bukan penawaran, tetapi harga mati.

Rasa persatuan sebenarnya telah mendarah daging pada diri bangsa Indonesia yang diamanatkan oleh leluhur kita. Perkelahian, pertikaian, percecokan tabu untuk dilakukan,  sebab itu musuh kesejahteraan dan kedamian. Musuh persatuan dan rasa saling menghargai.

Bhineka Tunggal Ika perwujudannya adalah kebersamaan, satu untuk semua, semua untuk satu. Jiwa Bhineka Tunggal Ika adalah gotong royong. Dalam gotong royong itu tertanam nilai- nilai kasih sayang, saling menolong, sangat membenci sifat serakah, rakus, ego, gotong royong.

Persoalannya adalah,  masih adakah sifat tulus dan ikhlas terhadap teman atau orang lain yang membutuhkan ?  Nilai gotong royong harus kita akui pada beberapa daerah hampir hilang, dan sudah dilupakan, disisihkan oleh kepentingan tertentu dan materi. Sekarang yang Nampak,  nilai gotong royong diperagakan dalam bentuk perkelahian, tawuran, pembunuhan, perampokan, pembakaran. Sebagian orang dan kelompok orang seakan- akan tidak memiliki nilai kemanusiaan. Rumah orang dibakar, orang dibunuh seperti membunuh tikus. Dimana rasa kemanusiaa, dimana hati nurani. Dimana solidarita, dimana kesetiakawanan. Semuanya pupus, semuanya sirnah karena,  hati diselimuti amarah dan nafsu.

Dimana- mana ribut. Dimana- mana perkelahian, hal sepele yang dapat diselesaikan, berubah menjadi peerkelahian, pembunuhan. Jati diri bangsa hilang, jati diri bangsa yang menjunjung tinggi rasa saling menghargai,  hilang dan diinjak- injak. Lalu muncullah kekuatan, sifat menang sendiri, sifat anarkis, hancurlah persatuan, lunturlah saling menghargai. Tidak ada orang tua, tidak ada yang dituakan. Masyarakat Indonesia akhir- akhir ini yang nampak hanyalah kekuatan pysik, kekuatan otot. Pandai bicara, pandai menyalahkan, tidak arif dalam memecahkan persoalan. Kipas yang mereka pakai,  sebagian bukan untuk menyejukan, tetapi memanasi.

Kebhinekaan  kita bukan melalui mulut dan kekuatan pysik, tetapi kekuatan moral dan nurani. Sepanjang kita memandang orang lain sebagai musuh sepanjang itu pula Negara ini tidak damai dan tidak sejahtera. Sebab, kedamaian dan kesejahteraan terbentuk dari adanya rasa dan saling memaafkan, menghargai serta memandang sama. Memperhatikan gejolak sosial yang terjadi dimana- mana, sebagai indicator,  kerapuhan sosial yang berdampak pada melaratnya kehidupan warga yang dikenal musibah. Rumah dibakar, harta hangus, beras tidak ada, jadilah dia peminta- minta menunggu,  belas kasihan orang yang membantunya.

Kenapa kita tidak arif memandang persoalan melalui otak dan hati, bukan otak dan emosi. Indikator perpecahan, perkelahian,  sesungguhnya muncul akibat ketidakstabilan emosi karena dirasuki oleh dangkalnya kasih sayang dan rasa kekeluargaan. Sumber jati diri bangsa adalah nilai kehidupan yang diperagakan dalam bentuk aktifitas.  Dan nilai itu sendiri tertanam pada setiap orang yang bersumber dari agama, budaya, adat istiadat, filsafat dan pandangan hidup. Rasa persatuan dituangkan dalam syariat  agama, budaya, adat istiadat dan filsafat hidup. Kita ingat “Bersatu teguh, bercerai runtuh”. Ini amanat leluhur yang perlu diimplementasikan dalam setiap aktifitas. Tidak ada pekerjaan berat, kalau kompak, bersatu. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan,  kalau bersatu dan bersama- sama.

Konflik di tempat- tempat tertentu akibat ego dan sentiment yang dihasut oleh sekelompok orang,  akibat kurangnya pembinaan. Atau boleh jadi, kurang mau menerima bila diingatkan atau dinasehati. Dan memang kenyataannya, akhir- akhir ini orang tua enggan mengingatkan pada anak, si anak kurang mau menerima nasehat orang tua.

 

Baca Juga :


Harus kita akui era sekarang adalah krisis contoh, krisis keteladanan, sebab orang cendrung berorientasi materi. Bukan moral, bukan kasih sayang, sehingga tidak heran cinta sesaat, simpati sesaat, penghargaan sesaat, bahkan kasih sayangpun sesaat. Dalam pengertian, semuanya berorientasimateri dan kepentingan tertentu. Dampaknya adalah,  merosot prinsip, melemahnya komitmen, tanggung jawab dan amanah,  tidak dilaksanakan dengan baik.

Kasih sayang dan persatuan butuh implementasi, butuh ketulusan dan keikhlasan. Bagaimana anak mencintai dan menghargai orang tua, dia sendiri tidak menghargai dirinya. Meralarang si anak nakal, dia sendiri melebihi anak- anak. Menyuruh anak sholat, dia sendiri tidak sholat, menyuruh anak belajar ngaji, dia sendiri tidak pernah menyentuh Qur’an, kalau sudah demikian, sumber penyakit, orang tua atau anak. Ibarat penyakit, tidak ada obat yang mujarab untuk menyembuhkannya.

Dalam konteks penerapan dan pemahaman nilai jati diri,  merupakan kualitas dan integritas pribadi yang mencerminkan harkat dan martabat. Oleh sebab itu, jati diri seseorang bukan diukur status, jabatan, kedudukan dan materi, tetapi kualitas hidupnya dalam mengimplementasikan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial serta kemampuan dan kesadaran menjalankan syariat agama dengan baik dan benar. Bahasa sederhananya, dia dicontohi, diteladani, bermoral, berakhlak mulia, memiliki komitmen hidup, selalu menjunjung tinggi nilai- nilai kebenaran.

Jati diri seseorang diukur dalam skala implementasi hati, bukan rasa, bukan raga. Sebab, hati tidak pernah bohong. Dia hanya berbicara dua kata, ya atau tidak. Orang yang ya lalu tiba- tiba tidak, itulah orang yang merosot jati dirinya. Itulah sumber penyakit, sebab apa yang dia katakan tidak bisa disesuaikan dengan perbuatan.    

(Urgensi Nilai Karakter Dalam Pembangunan Moral Bangsa oleh Drs. H. Anwar Hasnun). - 01



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan