logoblog

Cari

Mahasiswa di Era Krisis Pemikiran dan Krisis Keterkaitan

Mahasiswa di Era Krisis Pemikiran dan Krisis Keterkaitan

Berbicara tentang mahasiswa mungkin identik dengan aksi demonstrasi, kampus, sarjana dan pendidikan. Kalangan satu ini adalah kalangan yang memang banyak dibicarakan

Opini/Artikel

Yas Arman Al Yhok
Oleh Yas Arman Al Yhok
02 September, 2016 18:14:53
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 45593 Kali

Berbicara tentang mahasiswa mungkin identik dengan aksi demonstrasi, kampus, sarjana dan pendidikan. Kalangan satu ini adalah kalangan yang memang banyak dibicarakan di artikel-artikel dan jurnal-jurnal. Keunikan yang ada pada diri merekalah yang membuat mahasiswa menjadi isu hangat untuk tetap menjadi perbincangan. Membincangkan mahasiswa memang harus, ini menyangkut dengan masa depan bangsa. Sejarah bangsa Indonesia dimasa depan akan menjadi seperti apa disebut-sebut ada ditangan mahasiswa.

Mahasiswa, kaum inilah yang menggagas Indonesia saat sekarang ini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjalanan sejarah menorehkan kaum intelektual  inilah yang menjadi kunci lahirnya pemikiran-pemikiran untuk merdeka pada saat ketika masih dijajah. Dimulai dari tahun 1908, lahirnya organisasi pertama di Indonesia yang digagas oleh kaum-kaum intelektual pelajar kita, meskipun masih dalam strata sosial kaum priyai saja yang boleh masuk didalamya. Kemudian di tahun 1928 para kaum Intelektual pelajar kita mendeklarasikan Sumpah Pemuda yang merupakan hasil dari pemikiran-pemikiran pada kongres pemuda pada waktu itu. Kemudian lahirnya kemerdekaan yang diproklamirkan oleh tokoh-tokoh proklamasi merupakan hasil-hasil dari pemikiran para kaum Intelektual mahasiswa. Tidak sampai disitu, mahasiswa di Indonesia tetap mengawal jalannya pemerintahan di Indonesia, dengan terus menyumbangkan Ide gagasan mereka dengan kritis dan analisis yang sangat tajam. Puncaknya di tahun 1998 ketika melihat kesengsaraan rakyat produk ordebaru yang mengsengsarakan rakyat para mahasiswa dengan gagah melawan dan menggulirkan ordebaru. Produk yang dihasilkan kemudian di tahun yang bersamaan adalah masa Reformasi.

Jika melihat sejarahnya mahasiswa ini tentu kita berfikir luar biasa bukan. Tetapi sebenarnya apa definisi dari mahasiswa ini? Mahasiswa adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang memeliki identitas diri. Identitas ini terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan akademis, insan sosial dan insan mandiri. Sedangkan dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab IV bagian empat pasal 19 disebutkan bahwa Mahasiswa adalah sebutan akademis untuk siswa/murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya. Sedangkan menurut peraturan pemerintah RI No. 30 tahun 1990 dikatakan mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi.

Lahirnya reformasi di tahun 1998 juga melahirkan produk hukum yang lain. Ditahun ini pula di lahirkan undang-undang tentang bebas menyampaikan pendapat di muka umum. Undang-undang yang memang di tunggu-tunggu oleh para mahasiswa di Indonesia. Undang-undang yang ditunggu demi memperkuat mahasiswa dalam bebas menyampaikan pendapat dimuka umum atau berdemonstrasi. Tetapi ternyata undang-undang inipun yang menjadi kelemahan untuk mahasiswa. Kenapa demikian, dengan adanya undang-undang ini setiap warga Indonesia individu maupun kelompok memiliki hak yang sama dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Secara tidak langsung mahasiswa yang dikatakan sebagai  kaum intelektual atau kaum cendikiawan muda sama dengan masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan saja.

Hal inilah yang pada tulisan saya ini ingin saya ungkapkan, mahasiswa yang menjadi tolak ukur bagaimana bangsa Indonesia kedepan tentu harus memiliki kualitas yang baik. Jika mahasiswa di zaman dulu kemampuan intelektualnya (pemikiran)  truji kemudian tujuannya jelas untuk masyarakat yakni memperjuangkan hak-hak rakyat yang di ambil. Mahasiswa di zaman dahulu selalu ikut campur dalam menjadi pengawal kebijakan-kebijakan pemerintah. Lantas bagaimana keadaan mahasiswa kita hari ini? Pertanyaan inilah yang ingin kita jawab dalam tulisan ini.

Kita tidak bisa pungkiri, di era reformasi kita hari ini, para mahasiswa kita terbagi menjadi beberapa kotak-kotak (organisasi). Lahirnya UU bebas berpendapat diatas menjadika mahasiswa, pemuda, paguyuban untuk beramai-ramai dalam membentuk organisasinya masing-masing demi kepentingan dirinya kedepan dan kelompoknya tentunya. Kemudian masuknya mahasiswa disuatu organisasi ini, mulai di doktrin dengan ideologi organisasi masing-masing untuk bagaimana cara menguasai negara agar menguntungkan kelompoknya (organisasinya). Begitulah ciri aktivis kita hari ini, perjuangan atas nama rakyat, memperjuangkan hak-hak rakyat hanya kedok dibalik topeng, cobak perhatikan aksi-aksi demonstrasi mereka hari ini tidak jarang adalah aksi pesanan dari sekelompok orang. Belum lagi jika kita melihat mahasiswa kita yang orientasinya meraih nilai setinggi-tingginya di kelasnya. Menghalalkan segala cara, yang laki-laki mencari muka didepan dosen agar nilai baik, yang perempuan tidak jarang kemudian menjual kecantikannya di depan dosen laki-laki agar mendapat simpatik. Belum lagi jika berbicara dengan uu perguruan tinggi yang memberatkan mahasiswa untuk belajar-belajar dan belajar di dalam kampus, seolah-olah sistem ini membuat agar mahasiswa sibuk dengan mata kulyahnya agar melupakan daya keterkaitannya dengan masyarakat yang seharusnya tugas mereka. Inilah wajah mahasiswa kita hari ini, krisi dengan pemikiran (intelektual) bahkan sampai miskin keterkaitan dengan masyarakatnya.

Pemikiran mahasiswa kita hari ini terkontaminasi memang oleh beberapa isu politik yang sangat rancu. Isu pengentasan kemiskinan yang menjadi isu dan cita-cita mahasiswa dari dulu malah ditinggalkan. Disibukkan dengan isu politik dirinya berlabuh kemana setelah menjadi mahasiswa menjadikan semakin menambah kehedonismean mahasiswa kita hari ini.

 

Baca Juga :


Perkembangan era globalisasi dan era modernisasi juga disebut-sebut menjadi penyebab salah satu krisis pemikiran dan krisis keterkaitan mahasiswa kita hari ini. Perkembangan globalisasi ini mengakibatkan kerancuan dalam berfikir yang tentunya menyebabkan pemikiran mandek dalam ruang itu. Kerja berfikir seorang mahasiswa tidak lagi ditekankan mencari ide dan gagasan-gagasan baru yang akan memperluas jangkauan pandangan mereka sebagai referensi analisis.

Jika sudah seperti ini, orang akan tidak lagi mengharapkan hasil dari kampus-kampus karena orientasinya tidak lagi produktif dan inovatif. Kita bersama tentu tahu, setiap tahun para mahasiswa kita mengerjakan tugas akhirnya yang disebut skripsi. Namun apa daya, skripsi para sarjana kita bukan plagiat, karena proses membuat skripsi hari ini masih hanya sebatas mengolah pikiran saja, belom lagi tradisi copy paste menambah sudah tidak efektif lagi. Padahal dari skripsi ini diharapkan ada inofatif hasil pemikiran mahasiswa kita bisa muncul tapi malah sebaliknya.

Sebab utama bagi situasi yang digambarkan di atas dapat digali dari ketidak mampuan para mahasiswa kita untuk menemukan keterkaitan antara berbagai bidang. Kita tentu tahu hari ini mahasiswa kita yang masih aktif dalam berorganisasi sangat minim prestasi dalam bidangnya di kampus. Masuk memilih salah satu organisasi menjadikan dirinya kritis dan berwawasan luas tetapi sangat krisis dalam bidangnya sendiri. Ini kemudian permasalahan yang menghantui kita bersama sarjana kita. Yang masih peduli dengan masyarakat malah bidangnya tidak profesional tetapi yang tidak peduli dengan masyarakat malah profesional. Ini menjadi permasalahan kita setiap tahun. Contohnya para aktifis kita yang banyak tidak diwisuda, banyak di drop out atau jika wisuda tunggu istilah cuci gudang dan sebagainya.

Krisis pemikiran dan keterkaitan ini seharusnya harus di antisipasi mulai dari saat sekarang ini. Jika dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi budaya yang di anggap benar. Dan ini yang akan menjadi salah satu penghancur negara di masa yang akan datang. Mahasiswa sekarang harus sadar bahwa, tugas menjadi mahasiswa bukan hanya menuntut ilmu di kampus saja melainkan bagaimana mengasah daya kritis pemikiran (intelektual) dalam menciptakan ide-ide dan gagasan baru yang inofatif bagi negara ini. Kemudian belajar mengkaitan ilmu-ilmu yang didapatkan dengan seluruh bidang di negara ini bukan hanya bidang dirinya saja. Ingat bahwa mahasiswa dikatakan sebagai kaum intelektual kaum cendikiawan muda, maka mari buktikan akan hal itu.  () -03



 
Yas Arman Al Yhok

Yas Arman Al Yhok

Baca yang seharusnya diBaca Fikir yang seharusnya diFikirkan Kerja yang seharusnya diKerjakan Kampung Medianya PMII admin @Yas Arman Al Yho Baca-Fikir-Kerja

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan