logoblog

Cari

Tutup Iklan

RINJANI (yang) IKONIK

RINJANI (yang) IKONIK

Siapa tak kenal Rinjani? Satu gunung kebanggaan orang Sasak, begitu termahsyur di antara nafas masyarakat Nusantara. Gagah tegak menjulang, satu-satunya gunung

Opini/Artikel

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
25 Juni, 2016 21:39:51
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 8177 Kali


Siapa tak kenal Rinjani? Satu gunung kebanggaan orang Sasak, begitu termahsyur di antara nafas masyarakat Nusantara. Gagah tegak menjulang, satu-satunya gunung berapi di tanah Bumi Gora. Dari namanya saja, terlukis akan kecantikannya, anggun, dan menawan. Tanpa hadir menyaksikannya, Rinjani mampu menstimulasi ruang 'imaji', berkhayal tentang surga di Pulau Seribu Masjid. Pun itu setimpal dengan realitas di dalamnya, Rinjani memang benar menampakkan rupa megah untuk dinikmati. Berbondong-bondong orang sudi datang untuk membuktikan Rinjani yang menawan. 

Sebagai tanah tertinggi ketiga di bentang Nusantara setelah Puncak Jaya dan Kerinci, Rinjani pantas bersuara untuk dunia. Tidak hanya karena ketinggian, tetapi juga eksotisme alam yang dijanjikan. Kisah tentang semburat percik orange jingga terbitnya sang surya, bentang sabana yang begitu luas, 'landscape' khas Bumi Gora, dan uniknya Segara Anak menjadikan orang senantiasa terbayang untuk mencumbu indahnya. Berdiri melangkah di jalur pendakian demi hadir di titik tertinggi bentang Rinjani menghias mimpi para penikmat alam karya Tuhan. 

Di balik megah tegak gunung berdiri, nyatanya tidak hanya alam saja yang pantas disuguhkan. Realitas kehidupan masyarakat sekitar beserta nilai-nilai kehidupan di baliknya, seakan melengkapi butir pengalaman hadir di tanah Rinjani. Masyarakat agraris yang lekat dengan alam dalam 'penghidupan' menjadi pemandangan berbeda dari fakta kehidupan dewasa ini. Begitu tenteram dan damai, jauh dari perangai konflik dan absurdnya rupa citra 'pelik' hidup berbangsa seperti halnya kebanyakan yang diberitakan media. Masyarakat begitu damai menghadirkan nafasnya, menyatu dengan alam dalam balut simbiosis mutualis. Tanah subur diberikan Rinjani sebagai tawaran untuk merawatnya tetap lestari. 

Keterjagaan 'Desa Adat' di sekitar tanah Rinjani, pun menawarkan pengalaman bagi pengunjung untuk menyaksikan 'nafas' Sasak sebenarnya. Menyaksikan realitas asli masyarakat yang masih terbungkus oleh adat dan tradisi. Para pilar penyangga kelestarian nilai dan kearifan lokal masih kukuh berdiri di sana untuk banyak berkisah tentang Lombok di bingkai sejarah dan perkembangannya. Betapa kaya Lombok hanya dengan Rinjani-nya, seakan menawarkan banyak rupa pengalaman yang menjadikan orang enggan untuk hengkang. Hanya dari 'sekedar' Rinjani, banyak hal yang dapat diceritakan dan dipahami. Banyak pengalaman dan pengetahuan untuk diabadikan dalam ruang kenangan kala berkunjung di satu-satunya gunung milik Orang Sasak.

 

Baca Juga :


Rinjani, tidak hanya menjadi anugerah alam bagi bumi Lombok. Ia pun menjadi kebanggaan yang tak tergantikan. Tidak hanya petani dan masyarakat adat yang ada di sekitarnya, seluruh masyarakat Lombok tampak merasa memiliki. Seluruhnya bangga, dan semua merasakan hadirnya ada. Dalam perjalanannya, layak kemudian masyarakat menjadikan Rinjani sebagai 'ikon identitas' atas tanah kelahirannya. Menjadi salah satu simbol yang mewakili 'Sasak' pada ruang interaksi global. Rinjani  salah satu simbol eksistensi masyarakat Lombok, yang kemudian menjadi wacana utama kala memperkenalkan Lombok pada khalayak luas.

Menjadikannya sebagai ikon dan satu simbol kebanggaan masyarakat Sasak, tampaknya tidak cukup hanya sekedar mewacanakan keberadaannya semata. Banyak hal yang harus dilakukan masyarakat, agar simbol itu tetap terjaga. Tentu saja membangun ruang kesadaran bersama untuk menjaga gunung ini tetap berdiri dan lestari menjadi salah satu hal penting untuk dilakukan. Menjaga dengan tidak melakukan eksploitasi berlebihan, dan tetap menghadirkan pemikiran jangka panjang pada ruang keterjagaan menjadi satu sikap yang wajib untuk ditanamkan dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya. Saling mengingatkan kala berjumpa fenomena yang mampu merusak kecantikan Rinjani pun patut diimplementasikan dalam konteks serupa. Misalnya saling mengingatkan untuk tidak mengotori tanah Rinjani dengan sampah, perlu dilakukan dengan mengusung ruang kesadaran. () -03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan