logoblog

Cari

Tutup Iklan

‘Seninya’ Tertawa Bersama Keluarga

 ‘Seninya’ Tertawa Bersama Keluarga

Letih, penat, dan ancaman stres menjadi ‘momok’ dalam keseharian bagi setiap orang ketika penuh sesak dengan segala aktifitas. Pekerjaan yang menghadirkan

Opini/Artikel

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
17 Juni, 2016 17:50:42
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 10072 Kali

Letih, penat, dan ancaman stres menjadi ‘momok’ dalam keseharian bagi setiap orang ketika penuh sesak dengan segala aktifitas. Pekerjaan yang menghadirkan kesibukan baik dalam konteks memenuhi tuntutan profesional, mengais rejeki, belajar untuk menggali ilmu, dan lain sebagainya telah menyita banyak waktu dalam kehidupan kita dan terpisah dengan keluarga. Betapa pikiran benar-benar dituntut fokus, melupakan keberadaan keluarga, keseriusan melingkupi pikiran dan perilaku ketika menjalaninya. Emosi, tidak jarang meluap menghias setiap aktifitas yang dilakukan. Berbagai persoalan muncul dan terkadang menumpuk menuntut untuk segera diselesaikan. Pemandangan akan kesibukan seperti itu tampak dan semakin terasa dewasa ini, terlebih bagi mereka yang hidup di kota-kota besar. Dari pagi saat matahari masih malu untuk menampakkan diri, orang sudah berkeliaran berlalu-lalang dalam misi perburuan untuk kebutuhan hidup. Panjang waktu berlalu, aktifitas itu seolah tidak kunjung usai bahkan hingga matahari tenggelam meninggalkan guratan senja di ufuk barat. Peluh, lusuh, menggambarkan lelah yang digapai sepanjang hari menjadi ekspresi tersirat ketika kembali menghampiri tempat bernaung, keluarga. Kembali dalam ruang yang telah menstimulasi hadirnya perjuangan hidup. Orang tua, anak, ataupun saudara, seakan kembali berjumpa hendak melepas kerinduan setelah seharian terpisah oleh masing-masing kesibukan. Kembali berkumpul dengan angan hendak melepas segala kepenatan hidup, melepaskan letih, dan melupakan sejenak kesibukan hidup. Namun nyatanya tidak sepenuhnya hal itu dapat terwujud. Letih yang menjadi rupa ekspresi ketika kembali-pulang-terkadang menyulut emosi. Menstimulasi amarah atas segala tekanan dan tuntutan hidup, hingga pertengkaran tidak lagi dapat dihindari. Menjadi ‘semakin’ wajar percekcokan dalam keluarga, ketika kesibukan benar mengkonstruk jenuh. Dan hal itu seringkali terjadi oleh karena ketidak sadaran orang atas keberadaannya dalam keluarga untuk meninggalkan sejenak kesibukannya di luar. tidak semestinya mereka mencampur-adukkan persoalan kesibukan itu ketika kembali berkumpul bersama keluarga. Baik bagi seorang suami kepada istri atau sebaliknya, orang tua kepada ank-anaknya, dan dengan semua bagian anggota keluarga di dalam rumah. Sejatinya rumah dianggap menjadi ‘surga’ dalam ruang kesadaran untuk melepas penat dalam berjibaku dengan kehidupan. Berjibaku dengan segala ambisi memenuhi kebutuhan hidup. Seperti halnya kembali menyaksikan anak-anak bagi orang tua, atau keberadaan orang tua bagi anak-anaknya. Tidak kemudian terasa layaknya ‘neraka’ ketika harmoni tidak lagi terwujud. Berbagai persoalan bercampur aduk, menuang perbedaan bahkan konflik yang kemudian kembali menambah permasalahan dalam hidup. Hal demikian telah banyak dicontohkan oleh para pemimpin di bentang Nusantara ini. Bagaimana keluarga benar menjadi ‘surga’ untuk kembali menyegarkan pikiran. Sebut saja sosok presiden Indonesia ke-3 yang kisahnya sempat difilmkan B.J. Habibie, walikota Bandung Ridwan Kamil yang selalu menjadikan keluarganya sebagai inpirasi dalam mendedikasikan diri kepada masyarakatnya, termasuk juga Presiden di negeri ini yang akrab dengan sapaan Jokowi. Tidak hanya ketiga orang itu, banyak tokoh dunia yang turut mengumbar pentingnya peran keluarga dalam kehidupan seperti halnya Presiden Amerika Barack Obama, musisi seperti Addie MS, musisi legendaris dunia Jhon Bon Jovi, dan masih banyak lagi. Pentingnya Ruang Kebersamaan Berkumpul bersama pada satu waktu, menjadi penting demi tetap terjalinnya komunikasi dalam suatu keluarga. Menurut Kandani (2010) momen berkualitas bagi keluarga merupakan momen kebersamaan. Berkumpul bersama antara orang tua dengan anak-anaknya, dapat menjadi satu solusi untuk melepas kepenatan. Selain itu ruang tersebut dapat juga menuangkan inspirasi bagi kita dalam berkontemplasi. Menyaksikan anak-anak yang tumbuh dewasa dengan mengenang apa yang tertinggal di masa lalu misalnya, sedikit banyak menghadirkan perasaan syukur atas kesempatan untuk menikmati waktu. Bagi seorang anak ruang ini mampu menjadi satu tempat untuk menyamakan persepsi, memahami keinginan dan maksud orang tua, atau hanya sekedar untuk lebih menguatkan ikatan dalam keluarga semata. Untuk mewujudkan ruang itu tampak perlu adanya suatu kesepakatan dalam keluarga. Mencari satu waktu yang cukup memungkinkan bagi seluruh anggota keluarga berkumpul. Biasanya pada saat malam tiba, usai menjalani berbagai aktifitas di luar. Berkumpul barang hanya beberapa menit atau beberapa jam untuk saling berkomunikasi. Berbincang mengutarakan maksud dan harapan, berbagi pengalaman, dan menyamakan persepsi dalam menjalani hidup berkeluarga. Akan lebih menarik jika dalam berkumpul itu tidak hanya membicarakan hal-hal serius saja, melainkan juga penting untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya hanya omong kosong belaka. Saling melempar canda untuk mencairkan suasana, dan tertawa bersama seluruh anggota keluarga. Berkhayal atau bermimpi bersama tentang masa mendatang, dan berbagai hal yang pada intinya dapat mempererat ikatan dalam keluarga. Keberadaan ruang semacam ini tentu akan menjadi hal yang selalu dirindukan orang. Sedikit banyak hal itu dapat menjadi motivasi diri dalam beraktifitas. Paling tidak bayang indah sepulang beraktifitas menjadi pemicu diri untuk lebih giat dalam menjalani suatu profesi di luar. Tidak sedikit dewasa ini dalam kehidupan bermasyarakat kita menyaksikan jarak yang muncul dalam suatu keluarga. Baik orang tua ataupun anak terkadang merasa canggung dalam berkomunikasi. Jangankan untuk saling melempar canda, hanya sekedar untuk berbicara saja mungkin akan terasa begitu sulit. Banyak maksud dan keinginan anak yang tidak dapat tersampaikan, bahkan seringkali berbenturan dengan harapan orang tua. Perbedaan semacam itu sering memunculkan persepsi ‘pemaksaan’ kehendak orang tua kepada anak. Terkadang juga hal demikian berbuah kekecewaan, seperti halnya terputusnya asa dalam upaya mencapai cita seperti apa yang diimpikan. Oleh karena jalinan komunikasi yang buruk, keinginan itu tidak tersampaikan. Kasus semacam ini banyak terjadi pada diri anak terhadap orang tuanya. Di sisi lain, orang tua juga akan kesulitan untuk menyampaikan keingannya atau citanya terhadap anak ketika tidak ada ruang komunikasi yang mumpuni. Segala maksud tujuannya akan tetap terpendam, dan ujungnya harapan-harapan yang disimpan urung diwujudkan. Meski pada dasarnya menentukan jalan hidup menjadi hak atas anak-anak mereka, akan tetapi tidak salah kemudian jika harapannya juga menjadi bagian dari cita anak mereka. Dipadu-padankan dengan keinginan anak, sehingga keduanya menuai hasil baik dalam memenuhi harapan. Tertawa, Me-reka Harmoni Bahagia Keluarga Salah satu anugerah indah yang murah diberikan kepada manusia, adalah tertawa. Perilaku sederhana yang cenderung mengekspresikan kebahagiaan ini seringkali dianggap remeh oleh orang. Padahal jelas begitu banyak manfaat yang diperoleh bagi seseorang dengan tertawa seperti di antaranya mencegah berkembangnya stres, sarana pelepasan emosional, mengubah perspektif negatif menjadi positif, dan lain sebagainya. Tidak hanya bagi diri, tertawa pun ternyata dapat mempengaruhi orang lain terutama orang-orang yang berada di sekitarnya oleh karena tertawa dinilai cenderung menular. Dengan tertular untuk turut serta tertawa, paling tidak hal itu membantu menurunkan tingkat stres orang lain yang berada di sekitarnya. Tertawa bersama keluarga, dapat menciptakan suatu atmosfer positif dalam konteks berkomunikasi. Dengan tertawa segala sesuatu akan lebih mudah diutarakan dan ditangkap atau diterima. Karena ketika ‘tertawa’ menjadi jalan dalam menyampaikan suatu pesan, hal yang muncul akan cenderung dipersepsikan sebagai hal positif. Pun demikian halnya dengan upaya sikap dalam menanggapi hal tersebut. Dengan tertawa akan tercipta harmoni pada jalinan komunikasi dalam suatu keluarga. Bahagia menjadi jalan kemudian untuk semakin menguatkan jalinan dan peranan masing-masing orang dalam keluarga. Brian Tracy (1993) menyebut tertawa bersama menjadi salah satu indikator kebahagiaan suatu keluarga. Semakin banyak tertawa bersama keluarga akan semakin mempererat hubungan terjalin. Meski banyak kondisi buruk mungkin terjadi, dengan tertawa bersama sedikir banyak akan mengurangi beban hidup dalam keluarga. Bahagia menjadi rupa dalam menjalani hidup bersama keluarga. Selain itu komunikasi tidak lagi ada jarak antara orang tua dengan anak, sehingga semua maksud dan tujuan dapat tersampaikan. Keterbukaan dalam menyampaikan gagasan akan meminimalisir terjadinya kegagalan paham antara orang tua dengan anak ataupun sebaliknya. Melalui wacana ini tentu saya berharap akan semakin tumbuhnya ruang kesadaran dalam berkeluarga. Melalui satu istilah yang cukup awam ini, ‘tertawa’ paling tidak dapat memberikan solusi dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Dengan demikian bukan hal mustahil jika pandangan sederhana ini dipraktikan oleh banyak keluarga di bentang Nusantara akan dapat menjadikan Indonesia menjadi negara yang sejahtera. Karena dengan semakin banyak orang tertawa bersama dengan keluarga, tentu akan semakin tumbuh pula keluarga-keluarga bahagia. Keluarga-keluarga dengan pemikiran-pemikiran positif untuk mencapai cita-cita bersama. Maka “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. () -03

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan