logoblog

Cari

Tutup Iklan

Simanjuntak (Kembali) Berteriak

Simanjuntak (Kembali) Berteriak

“Bangun Pemudi Pemuda Indonesia Tangan Bajumu Singsingkan Untuk Negara Masa Yang Akan Datang Kewajibanmulah Menjadi Tanggunganmu Terhadap Nusa” Pemuda generasi bangsa yang menjadi penentu atas

Opini/Artikel

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
29 Oktober, 2015 19:45:13
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 7110 Kali

“Bangun Pemudi Pemuda Indonesia Tangan Bajumu Singsingkan Untuk Negara Masa Yang Akan Datang Kewajibanmulah Menjadi Tanggunganmu Terhadap Nusa” Pemuda generasi bangsa yang menjadi penentu atas masa depan Indonesia. Hal ini tersirat dalam sepenggal bait syair lagu Bangun Pemudi Pemuda karya A. Simanjuntak. Di pundaknya perjalanan bangsa dan negara ini dipercayakan oleh para pendiri bangsa. Perannya cukup krusial dalam bentang perjalaan Indonesia. Berbagai kisah sejarah perubahan bangsa nyatanya tidak terlepas dari campur tangan pemuda. Dimulai dari perjuangan dalam meraih dan mewujudkan kemerdekaan hingga transisi Orde Baru menuju Reformasi. Namun tidak hanya sekedar “pemuda” yang dibutuhkan untuk hadir dalam warna perubahan. Entitasnya seringkali hadir dengan berbagai rupa kontemplasi dan gagasan cerdasnya, yang kemudian ditengarai sebagai cendikia. Pada baris kedua dari lirik lagu tersebut tengah mengisyaratkan tentang bagaimana ‘pemuda seharusnya’. Bergegas dan cerdas, ungkapan itu salah satunya dapat mewakili tafsir atas makna pesan yang ingin disampaikan. Di dalam konteks membangun bangsa, pemuda memiliki peran krusial. Kecepatan dan ketangkasan yang ada pada sosok pemuda menjadi sebuah modal penting dalam upaya mewujudkan cita bangsa. Hal lain yang tentu tidak dapat dilupakan adalah kecerdasan berfikir dan bersikap sosok muda dalam merealisasikan berbagai ide yang dimiliki dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan. Lantang suara pemuda salah satunya menjadi titik awal dalam menapakan langkah sejarah baru kehidupan bangsa. Pada tahun 1908, pemuda menginisiasi sebuah pergerakan dalam naungan organisasi Budi Utomo. Melalui hal itu, langkah pasti dalam mempersatukan Nusantara diwujudkan. Puncaknya adalah pada bulan Oktober 1928, di mana pemuda Indonesia menyatukan rasa dan asa melalui sedikit persamaan. Melalui jalan itu perbedaan rupa dalam bingkai Indonesia dikikis untuk mewujudkan satu cita yang sama. Melalui ikrar Sumpah Pemuda, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan berbagai Pulau di bentang Nusantara melebur menyatu dalam naungan merah-putih untuk satu tujuan, yaitu merdeka. Bermodal kesadaran atas sedikit persamaan, pemuda menyatukan asa bergandeng tangan melawan penjajahan. Kesamaan Bahasa, cukup menjadi alasan untuk mengubur kebhinekaan dan menjadikan pemuda mengaku bertanah air dan bertumpah darah satu yakni Indonesia. Melalui kesadaran itu pada kenyataannya cita bangsa dapat terwujud. Tentu tidak sekedar entitas yang kini wajib dipahami oleh generasi bangsa dalam memahami realitas Konggres Sumpah Pemuda, dengan menghadirkannya hanya dalam ruang ceremonial semata. Esensi dari perjalanan sumpah pemuda perlu dipahami dan menjadi sebuah perenungan untuk kemudian direfleksikan dalam kehidupan berbangsa. Pasca Konggres Sumpah Pemuda, langkah perjuangan tiada lagi mengatas-namakan Raja, Suku, ataupun Agama, melainkan sebuah nama yang turut menjadi cita yaitu Indonesia. Cita untuk hidup bersama dalam satu konstruksi negara mengobarkan semangat untuk menghapus kolonialisme di bumi Pertiwi. Perlu dipahami kemudian bahwa ikrar yang tertuang dalam sejarah bukanlah janji, melainkan wujud komitmen pemuda dalam kebersamaan menatap masa depan kala itu. Tentu hal itu tersirat makna secara eksplisit bahwa ruang kebersamaan dalam kerangka mewujudkan Indonesia merdeka adalah berdasar atas kesadaran. Bukan keterpaksaan melainkan kerelaan untuk melepaskan Ibu Pertiwi dari belenggu kesengsaraan. Reformasi (Bukan) Bunuh Diri Lebih dari satu dekade silam, dalam era transisi pemuda kembali menampakkan taji. Semangat menggebu dalam tujuan yang satu menyeru menghentikan laju Orde Baru. Transisipun terjadi dengan menghadirkan era baru bertajuk Reformasi, yang juga kemudian dimaknai sebagai masa lepas dan terbebas dari belenggu tirani. Chaos terjadi di berbagai daerah, oleh karena pergerakan dan krisis ekonomi terjadi. Keberhasilan didapati dengan ditengarai mundurnya Suharto dari tampuk kekuasaan. Hal ini mendulang harapan dan mimpi baru bagi penghuni Bumi Pertiwi. Perjalanan reformasi, nampaknya tak sedahsyat teriak pemuda di tahun 1998. Apa yang didapati selama perjalanannya ‘mungkin’ jauh dari ekspektasi. Lihat saja bagaimana banyak atribut seperti poster, stiker, kaos, dan lain sebagainya yang mengusung ikon pemerintahan Orde Baru. Berbagai pose wajah Suharto lengkap dengan tulisan bernada sindiran marak ditemukan. “Piye kabare bro, ijik penak jamanku to?” (Bagaimana kabarnya bro, masih enak jamanku kan?), salah satunya ungkapan yang tertuang dan dapat dijumpai dalam berbagai atribut tersebut. Seakan merepresentasikan kekecewaan masyarakat atas perubahan yang terjadi. Hal itu bukan sebuah indikasi ketidak-setujuan ataupun kebencian masyarakat atas bergulirnya era reformasi. Melainkan sebuah sikap atas realitas yang tengah terjadi, di mana reformasi tidak berjalan semestinya. Banyak hal yang melenceng dari bangunan cita pembaharuan. Melalui gagasan dan ide reformasi masyarakat berharap adanya perbaikan menuju kehidupan lebih baik. Namun nyatanya hal itu urung terwujud, bahkan ‘dirasa’ lebih buruk dari masa sebelumnya. Meski hal itu tidak mutlak benar, akan tetapi penting kemudian menjadi bahan perenungan bagi bangsa ini dalam menyongsong masa depan. Agar kemudian tidak bergulir persepsi bahwa reformasi merupakan jalan ‘bunuh diri’. Melainkan benar bahwa reformasi adalah pintu menuju Indonesia yang lebih maju, makmur, dan sejahtera. Pemuda (Riwayatmu) Kini? Banyak tokoh muda yang dewasa ini mampu merepresentasikan harapan A. Simanjuntak, hadir sebagai sosok pemimpin. Sebut saja beberapa di antaranya yang sering muncul di media nasional seperti Ridwan Kamil, Trirismaharani, Anies Baswedan, dan lain sebagainya. Di dalam mengemban tugas dan amanah mereka cenderung bekerja lebih efektif dan efisien. Melalui kinerja yang maksimal mereka mampu membawa institusi yang dinaunginya menjadi semakin baik. Hal ini bukan berarti mendiskreditkan sosok pemimpin lainnya, melainkan hanya sebuah gambaran bagaimana rupa pemuda dalam membawa suatu bangsa. Kehadiran Jokowi sebagai presiden, kembali menegaskan kepada bangsa ini bahwa pemuda tengah mendapat simpati. Kemenangannya dalam kontestasi demokrasi kala itu tidak terlepas dari rasa puas masyarakat atas gambaran sosoknya yang coba disuarakan media. Tidak dapat dipungkiri bahwa kiprahnya sebagai walikota Solo dan gubernur DKI pada kenyataannya me-reka harapan dan mimpi masyarakat Indonesia. Hal itu tentu saja termuat harapan di dalamnya atas ‘percepatan perwujudan’ kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia. Senayanpun tidak pernah sepi dari kehadiran pemuda di era reformasi. Banyak pemuda hadir mengusung amanah konstituen dalam ruang legislasi. Hal ini menjadi penanda bagaimana sosok ‘muda’ di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Namun sayangnya kehadiran pemuda ‘dirasa’ tidak memberikan perubahan signifikan. Malah justru dalam bentang waktu itu, beberapa kasus korupsi tampak mencoreng keberadaan pemuda Indonesia. Besarnya ambisi untuk memperkaya diri menjadi faktor utama atas tidak dijalankannya amanah diberikan. Implikasinya cita kehidupan berbangsa sejenak harus tertunda selain kerugian yang ditanggung negara. Perjalanan panjang pemuda dalam mengawal negeri saat ini tengah diuji untuk tetap mendapat ruang dan simpati. Syair Alfred Simanjuntak, tentu dapat menjadi satu ruang untuk kembali menggelorakan semangat pemuda Bumi Pertiwi. Untuk kemudian direfleksikan dalam kerangka tulus membangun dan mewujudkan cita kehidupan berbangsa menuju ruang sejahtera. Dan pada akhirnya, seluruh pemuda di negeri ini harus kembali mempertanyakan pada diri masing-masing atas bangunan komitmen di masa silam dalam momentum serupa, yakni Sumpah Pemuda. () -01

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan