logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bagaimana Pernikahan Politik Membuka Jalan Menuju Sukses?

Bagaimana Pernikahan Politik Membuka Jalan Menuju Sukses?

KM Bali 1-Joda Akbar merupakan salah satu contoh empiris bagaimana sebuah perkawinan dapat memperluas daerah kekuasaan suatu dinasti. Kisah sejarah yang

Opini/Artikel

KM. Bali 1
Oleh KM. Bali 1
05 Juli, 2015 20:33:23
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 30860 Kali

KM Bali 1-Joda Akbar merupakan salah satu contoh empiris bagaimana sebuah perkawinan dapat memperluas daerah kekuasaan suatu dinasti. Kisah sejarah yang terjadi ditanah Hindustan yang kemudian diabadikan dalam sebuah serial film dan drama ini mengajarkan betapa perkawinan dapat juga digunakan sebagai salah satu strategi Futuhat (Penaklukkan) tanpa harus mengangngkat senjata. Kita tentu dapat membayangkan keuntungan menaklukkan suatu Negara atau suatu wilayah dengan jalan menerapkan strategi ini.

Meski istilah pernikahan politik ini baru popular di era modernisasi kala ini, namun sejarah mencatat pernikahan politik sudah disadari efektifitasnya sejak jaman-jaman dahulu. Sebut saja pernikahan Samaratungga putra raja Syailendra dengan Dewi Tara Putri raja Sriwijaya yang terjadi pada masa kejayaan era Mataram Kuno. Dengan pernikahan itu, dua kekuatan besar Nusantara bergabung menjadi satu yakni Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya. Dengan kekuatan itu pada sekitar tahun 790 Syailendra berhasil menginvasi Chenla (Kamboja) dan berkuasa disana hingga beberapa tahun lamanya.

Namun perkawinan politik ini disadari atau tidak secara sederhana dapat pula diterapkan oleh seseorang pria atau wanita tanpa harus melibatkan persoalan yang lebih rumit seperti menggabungkan kekuatan dua bangsa, atau menyelamatkan sebuah Negara. Perkawinan politik disadari atau tidak secara sederhana dapat diterapkan untuk menyelamatakan hasrat egosentris, semisal meyelamatkan hidup, menyelamatkan visi hidup kita sendiri, menyelamatkan orientasi hidup atau lebih sederhana lagi menyelamatkan (memperbaiki) keturunan.

Mari ambil suatu contoh kasus yang mungkin saat ini juga sedang kita alami bersama. Anggap saja kita adalah orang yang memiliki orientasi dalam membangun sebuah bisnis dan kita ingin sukses didalamnya. Namun sayangnya kita adalah orang memiliki banyak kekurangan dalam hal tersebut. Hingga jika kita membayangkan untuk membangun sebuah bisnis kecil saja kita takut akibat banyaknya kekurangan sumber daya yang kita miliki. Tapi jangan Tanya… SDM kita meski hanya sebatas klaim egoisme kita (sekali lagi) kita adalah jagonya. Kita siap secara SDM.

Tetapi bagaimana dengan modal kita, dari mana kita akan mendapatkannya? Tentu saja untuk membangun bisnis misalnya kita butuh tempat yang strategis seperti katakan lah pinggir jalan yang ramai. Padahal kita adalah orang yang sudah terlanjur terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Jangankan punya duit untuk modal, untuk beli rokok sebatang saja kita harus mengemis lagi sama orang tua kita. Parahnya lagi, orang tua kita pun adalah orang susah pula.

Terkadang hal ini membuat kita putus harapan dan menganggap bahwa orientasi kita itu hanya dapat berkutat dalam alam pikiran kita saja tanpa dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata. Jika hal ini terjadi maka sukses hanya akan dapat menjelma dalam deskripsi-deskripsi abstrak yang tersusun oleh komponen-komponen imajiner alam bawah sadar kita (cieee…. Sok ilmiah hehehe).

Namun, bagaimana Perkawinan Politik menjadi solusi untuk memacahkan masalah kita tersebut? Singkat saja, kita perlu menikah. Bukan kah rasulullah sendiri pernah menganjurkan agar setiap pemuda untuk menikah sehingga allah akan meningkatkan harkat dan martabat hidup kita. “menikahlah maka allah akan memampukan mu” kira-kira begitulah bunyi sabda rasulullah SAW (ada juga di surat an-nur ayat 22-23).

Jika kemudian muncul persoalan bahwa pernikahan kan butuh biaya juga, bagaimana kita membiayainya? Banyak cerita. Meski masih menjadi hal tabu untuk disajikan di meja makan public, namun akan penulis ungkapkan secara singkat dengan tujuan pembelajaran untuk mencapai tujuan sukses kita. Bayak testimony yang mengungkapkan karena saking cintanya (atau lebih tepatnya tergila-gilanya) pasangan kita akan pribadi serta visi hidup kita, mereka bahkan rela berkorban baik secara moril dan yang lebih utama lagi berkorban secara materil untuk mendukung tercapainya visi hidup kita tersebut. Sehingga mereka bahkan rela mendampingi kita sehidup semati dengan bayaran mahar (mas kawin) yang minim dimata kultur tradisi ditengah masyarakat kita. Yang penting cinta dan bisa selalu bersama dengan orang yang dia “gila-gilai”. Tentu saja dalam konteks ini sebagai suami dan istri.

 

Baca Juga :


Nah, artinya hubungan kita dengan pasangan kita perlu terjalin tidak hanya sebatas romantisme seksualitas (dalam arti luas) semata. Namun juga terjalin sebagai partner dalam menempuh tantangan hidup kedepan. Soal teknis dalam membuat hubungan seperti hal di atas penulis rasa tidak akan cukup dijelaskan pada tulisan ini. Ini bergantung penuh pada kesadaran intelektualitas pribadi masing-masing.

Kembali kepada pernikahan politik, hemat saya kita perlu lah mencari pasangan yang dapat membantu kita mencapai orientasi – orientasi kita di atas. Missal, kita mau membangun bisnis. Maka kita perlu mencari pasangan yang kira-kira secara finansial dapat membantu kita membangun bisnis. Minimal, jika kendala terbesar kita dalam membangun bisnis itu adalah lokasi yang strategis, maka yang kita butuhkan adalah pasangan yang minimal memiliki lokasi yang strategis itu. Jika orientasi hidup kita katakanlah ingin menjadi wakil rakyat disuatu daerah, maka kita butuh pasangan yang kira – kira mendukung kita kearah tersebut. Misalnya dia adalah anak dari seorang tokoh yang memiliki keluarga besar juga disegani dan ditauladani dalam kehidupan sosialnya di daerah tersebut.

Catatan untuk kita semua bahwa tulisan ini tidak bermaksud membangun stereo dalam kepala kita pasangan hidup mati merupakan korban eksploitasi hastrat egosentris kita. Tetapi kembali lagi setiap niat yang kita bangun merupakan upaya menjadi hamba tuhan yang kuat dan sukses, karena tuhan sendiri menganjurkan kita untuk menjadi hamba yang sukses, baik secara finansial agar dapat memperbesar sedekah dijalan-NYA, maupun menjadi hamba yang benar-benar bermanfaat untuk umat disekitarnya. Amin…….***

***Fauzi Akbar

***Penulis adalah Jurnalis Kampung Media [] - 01



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan