logoblog

Cari

Identitas sasak dalam diskursus Indonesia pasca-kolonial

Identitas sasak dalam diskursus Indonesia pasca-kolonial

Sekedar melempar isu oleh: saudara Miftah Rido Identitas sasak dalam diskursus Indonesia pasca-kolonial tersusun dari elemen-elemen yang unik dan berbeda dengan kebanyakan identitas

Opini/Artikel

agus dedi putrawan
Oleh agus dedi putrawan
04 Juni, 2015 01:27:10
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 10884 Kali

Sekedar melempar isu oleh: saudara Miftah Rido

Identitas sasak dalam diskursus Indonesia pasca-kolonial tersusun dari elemen-elemen yang unik dan berbeda dengan kebanyakan identitas etnik lainnya di Nusantara.

(Sejarah Ringkas Konsep Sasak)

(ceritakan kerusunan etno-religious beberapa tahun terakhir secara ringkas)

Pada setting pulau Lombok, Islam adalah agama mayoritas yang terepresentasi dalam berbagai tradisi dan norma sosial yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat sasak. kemudian pada pekembangan beberapa tahun terakhir ini terusik oleh ekspansi dakwah Tuan Guru ke dalam kancah perpolitikan di ‘Pulau Seribu Masjid’. Penetrasi Dakwah Tuan Guru, dalam berbagai cara telah menyemarakkan simbol-simbol Islam pada ruang publik yang sejatinya harus netral. Konsekuensinya, Islam sasak yang pada awalnya mampu mengakomodir sederet kearifan lokal pada masyarakat sasak, secara perlahan, bertransoformasi menjadi gagasan Islam sebagai ‘semacam’ ideologi radikal yang dapat mengancam keharmonisan hubungan antar-agama, suku, etnis yang baru seumur jagung.

Masyarakat sasak, terutama kalangan tidak terdidik yang terkonsentrasi di seluruh pedesaan-pedesaan di Pulau Lombok, dengan demikian, rentan untuk terjebak pada pola beragama yang ekslusif dan cenderung tidak toleran terhadap kehadiran pemeluk agama-agama lain, termasuk terhadap penganut aliran-aliran kepercayaan lain di luar institusi Tuan Guru.

Sasaran dakwah para Tuan Guru dapat dengan mudah beralih status menjadi korban indoktrinasi secara kurang bertanggung jawab. Masyarakat sasak tidak terdidik pada berbagai wilayah pedesaan akan menginterpretasi pertarungan politik Tuan Guru pada level trans-lokal menjadi bentuk-bentuk relasi intoleran yang practical sesuai dengan konteks sosial yang mereka hadapi.

Kemunculan gubuk Selam dan gubuk Jero atau gubuk Bali di seantero wilayah Pulau Lombok membuktikan hal tersebut dengan sangat baik. Kelompok minoritas yang telah teropresi selama betahun-tahun pada orde lama dan orde baru, saat ini, mendapati diri mereka dalam jurang diskriminasi yang lebih dalam, lebih pahit, dan lebih menyakitkan. Penindasan oleh Islam sebagai sebuah struktur yang beroperasi pada domain public tentu saja didukung oleh institusi Tuan Guru dengan gagasan simbolisasi Islam yang telah didakwahkan sejak paruh kedua abad ke-18.

Nasib kelompok minoritas di Pulau Seribu Masjid, baik dalam arti agama, etnis dan kepercayaan, berada di ujung tanduk. Nada-nada sumbang tentang ‘harmony in diversity’ yang berasal dari masjid-masjid tersebut tampaknya masih akan terus terdengar dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, bukan hal yang berlebihan untuk kuatir jika nada-nada sumbang tersebut dalam waktu yang tidak lama akan berubah menjadi seruan terbuka untuk memusuhi semua kelompok minoritas di luar institusi sasak yang Islam, dimulai dari serangan simbolik terhadap etnis ‘bali’ yang ‘Hindu’.

 

Baca Juga :


(….)

Konfrensi akan mengumpulkan para cendekiawan dari berbagai elemen masyarakat sasak di Pulau Lombok dan para pemerhati masalah masyarakat Sasak untuk membincang masa depan kehidupan sosial dan religius di Pulau Seribu Masjid.

This conference will bring together scholars from many element of sasak civil society in Lombok and those whose concerns relate to the study of sasak related issues to discuss the future of social and religious harmony in ‘the Island of Thousand Mosques’.

Tren-tren mutakhir yang berkembang dalam wacana sasak studies di kalangan akademisi muda yang berasal dari pulau lombok menunjukkan adanya geliat untuk membangun format baru  integrasi kelompok minoritas dalam bingkai masyarakat sasak yang inklusif dan toleran. Gejala ini dapat dilihat sebagai upaya-upaya strategis untuk menjamin berlangsungnya kehidupan harmonis yang sempat porak poranda beberapa tahun yang lalu sekaligus untuk meminimalisir dampak-dampak negative dari religious proseltytizing yang seringkali bercorak immature.

Latest trends emerging from discussions about sasak studies among young scholars from Lombok indicate a growing demand for  new forms of integration for minorities into inclusive and tolerant sasak society. These trends can also be interpreted strategic efforts to ensure the existence of harmony that has had fallen just few years ago. These also play a significant role in minimizing the impacts of religious proselityzing which is likely to take an immature form. [] - 05

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan