logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mutiara Terpendam di Bumi Bayan

Mutiara Terpendam di Bumi Bayan

Konsep Dasar Islam Waktu Telu KM. Sukamulia – Lombok Utara atau yang sering disebut dengan istilah Dayan Gunung identik dengan tradisi adat

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
21 Mei, 2015 12:42:45
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 30504 Kali

Konsep Dasar Islam Waktu Telu

KM. Sukamulia – Lombok Utara atau yang sering disebut dengan istilah Dayan Gunung identik dengan tradisi adat dan budaya yang dimilikinya. Jika kita mendengar nama Lombok Utara/Dayan Gunung maka yang paling pertama teringat adalah Bayan sebab Bayan merupakan kota budaya terbesar di wilayah kabupaten tersebut. Orang pintar berkata Lombok Barat adalah Kota Pemerintahan, Lombok Tengah adalah Kota Ekonomi dan Wisata, Lombok Timur adalah Kota Agama dan Lombok Utara adalah Kota Budaya. Kota budaya Lombok Utara adalah Bayan dan banyak tokoh yang berkata bahwa “di bumi Bayan terdapat mutiara terpendam”.

Yang dimaksud dengan “Mutiara Terpendam” adalah kekayaan sejarah dan budaya Bayan yang tiada habis-habisnya untuk dikaji dan terus dipelajari oleh peneliti dan pemerhati budaya yang berasal dari berbagai belahan dunia. Berbicara mengenai Bayan maka hal yang pertama terlintas dalam pemikiran kita adalah tradisi adat budaya masyarakat Waktu Telu Bayan. Banyak peneliti yang telah mengkaji dan membukukan masalah sejarah dan makna faham Waktu Telu yang berkembang pada kehidupan social budaya masyarakat Bayan, namun demikian belum ada tulisan yang betul-betul valid terkait dengan masalah itu. Hal ini disebabkan oleh konsep dasar Waktu Telu yang sengaja dirahasiakan oleh masyarakat Bayan.

Sesunggunya Waktu Telu bukanlah cara pelaksanaan ibadah shalat yang dilakukan oleh masyarakat Bayan, dimana banyak tulisan yang telah mempublikasikan bahwa masyarakat Bayan adalah penganut Islam Waktu Telu yang hanya mengerjakan tiga waktu shalat dan berpuasa hanya pada awal, pertengahan dan ahir bulan Ramadhan. Banyak pula penulis/peneliti yang menginterpretasikan dan mengambil kesimpulan bahwa penganut Islam Waktu Telu Bayan hanya menlaksanakan tiga waktu shalat, yaitu shalat hari raya (idul fitri dan adha), shalat mayat dan shalat Jum’at pada saat dilaksanakannya Tradisi Lohoran yang dilaksanakan sekali dalam satu tahun. Banyak lagi konsep-konsep lain yang dituliskan oleh para pengkaji/peneliti masalah ini, hanya saja konsep-konsep tersebut masih simpang siur dan belum mendapat persetujuan dari masyarakat Bayan.

Kesimpang siuran konsep Islam Waktu Telu Bayan terus mengundang penasaran dari para peneliti dan pengkaji budaya/antropoloh yang berasal dari berbagai belahan dunia. Namun hingga saat ini konsep asli Islam Waktu Telu Bayan masih dirahasikan oleh masyarakat setempat. Itulah sebabnya dikenal istilah “Petung Bayan” (sebutan masyarakat Bayan) dan Bilok Buntu (sebutan masyarakat Sembalun). Petung Bayan/Bilok Buntu inilah yang merupakan Mutiara Terpendam yang sesunggunya sebab di dalam Petung Bayan/Bilok Buntu itu tersimpan berjuta rahasia kekayaan sejarah dan adat budaya masyarakat Bayan dan sekitarnya.

Perlu diketahui bahwa yang disebut dengan masyarakat Bayan bukanlah orang-orang yang tinggal di wilayah administrative Desa Bayan atau Kecamatan Bayan saat ini. Namun yang disebut dengan masyarakat Bayan adalah mereka yang dulunya berada di bawah naungan administrative adat Bayan. Pada awalnya, wilayah administrative Bayan mencakup seluruh wilayah Kecamatan Bayan hingga seluruh wilayah Kecamatan Gangga pada saat ini. Di bagian timur, wilayah administrative Bayan mencakup seluruh wilayah Kecamatan Sembalun, sepertiga wilayah Kecamatan Sambalia dan sepertiga dari wilayah Kecamatan Suela saat ini.Untuk lebih jelasnya masalah ini, penulis menyajikan sejarah singkat wiayah administrative Nusa Tenggara Barat. 

Budiwanti dalam bukunya yang berjudul “Islam Waktu Teku Versus Waktu Lima” menjelaskan bahwa Nusa Tenggara Barat terbentuk pada tanggal 14 Agustus 1958. Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa kemudian digabungkan menjadi satu yang pada akhirnya masuk menjadi Provinsi Nusa Tenggara Barat, dimana pada saat itu Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi provinsi sendiri-sendiri. Secara geografis, Provinsi Bali, NTB dan NTT yang sebelumnya tergabung dalam Provinsi Sunda Kecil. Penggabungan Lombok dan Sumbawa menjadi satu provinsi dimaksudkan untuk menyatukan tiga kelompok etnis (Sasak, Dompu, dan Bali) yang semuanya beragama Islam, tetapi memiliki perbedaan kebudayaan dan bahasa secara mendasar.

Pembagian di atas kemudian dirubah berdasarkan stb. No. 248 dan SKP Gubernur Jenderal tanggal 27 Agustus 1898 No. 19 Lombok dibagi menjadi tiga Onderafedlling masing-masing Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Lombok Barat dijadikan dua kedistrikan yaitu, 1) Kedistrikan Sasak yang meliputi wilayah kedistrikan Ampenan, kedistrikan Gerung, Kedistrikan Tanjung dan Kedistrikan Bayan dan 2) Kedistrikan Bali yang terdiri dari Cakranegara Barat, Cakranegara Timur Laut, Cakranegara Timur, Cakranegara Tengah, Cakranegara Selatan, Cakranegara Barat Daya, Pagutan, Pagesangan, Mataram, dan Pemenang (Lukman, 2006: 47-48 ). Dijelaskan pula bahwa Kedistikan Bayan terdiri meluputi wilayah Kecamatan Gangga, Kecamatan Gangga, Kecamatan Bayan, Kecamatan Sembalun, sepertiga dari wilayah Kecamatan Sambalia dan sepertiga dari wilayah Kecamatan Suel saat ini.

Sejak tahun 1962 wilayah Kedistrikan Bayan berkembang menjadi kecamatan dan terbentuklah Desa Bayan Kepala Desanya Raden Banda. Raden Banda menjabat Kepala Desa selama 9 tahun lalu pada tahun 1971 sampai tahun 1980 Kepala Desa Bayan dijabat oleh Raden Sutasari. Pada masa Raden Sutasari inilah ada beberapa dusun yang ditukarkan menjadi desa diantaranya Desa Anyar. Desa Anyar resmi berdiri pada tahun 1970 tetapi Kepala Desanya masih menjadi satu dengan Kepala Desa Bayan. Selanjutnya Bayan berkembang menjadi beberapa desa, dimana saat ini Kecamatan Bayan terdiri dari Desa Bayan, Desa Loloan, Desa Sambik Elen, Desa Anyar, Desa Karang Bajo, Desa Sukadana, Desa Akar-Akar, Desa Amor-Amor dan Desa Mumbul Sari.

Demikianlah sejarah singkat perkembangan wilayah Bayan. Mengacu dari perkembangan wilayah tersebut, maka jelaslah bahwa pada masa lalu Bayan meliputi seluruh wilayah yang disebutkan tadi. Seluruh wilayah yang termasuk dalam adminsitratif Kedistrikan Bayan memiliki satu ikatan sejarah dan kebudayaan yang hingga saat ini tetap lestari dan senantiasa dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Seluruh wilayah itu pula yang kemudian disebut sebagai penganut Islam Waktu Telu.

Pada dasarnya Waktu Telu adalah konsep keagamaan masyarakat Sasak sebab istilah Islam Waktu Telu dikenal dan dianut oleh masyarakat Sasak (Lombok) pada zaman dahulu dan bahkan hingga saat ini penganut Islam Waktu Telu masih dapat kita temukan di seluruh wilayah pulau Lombok. Hanya saja, penganut Islam Waktu Telu yang paling terkenal adalah Bayan. Terkenalnya Islam Waktu Telu Bayan tidak lepas dari pengaruh tradisi dan budaya Bayan yang hingga saat ini terus dilestarikan dan itulah yang sesungguhnya disebut sebagai “Mutiara Terpendam”.

Pada bagian ini saya hanya mengklarifikasi tentang Konsep Islam Waktu Telu dengan harapan supaya mutiara terpendam ini tidak terus-terusan menjadi polemic dalam kalangan para elit intelektual, khalayak ramai dan masyarakat setempat.

Terkait dengan masalah konsep Islam Waktu Telu, penulis berusaha menelusurinya sejak tahun 2005. Penulis sudah banyak bertemu dan berdiskusi dengan tokoh adat, tokoh agama dan tokoh budaya masyarakat Bayan, Sembalun dan Selaparang. Dari penelusuran yang penulis lakukan, banyak cerita biasa yang penulis dapatkan. Namun dari sekitan banyak keterangan yang telah penulis kumpulkan mengenai konsep Islam Waktu Telu, sebagian besar informan yang penulis wawancari memberikan keterangan bahwa konsep Islam Waktu Telu bukanlah konsep pelaksanaan waktu shalat dan puasa. Bukan pula konsep mentioq, menteloq dan menganaq. Namun konsep Islam Waktu Telu yang sesungguh adalah konsep pemahaman batin masyarakat akan ajaran agama Islam yang didasari oleh Ilmu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

 

Baca Juga :


Pengaut Islam Waktu Telu Bayan pada khusunya dan penganut Islam Waktu Telu yang ada di seluruh wilayah Lombok pada umumnya memiliki pemahaman islam yang tinggi, lebih-lebih pemahaman yang berkaitan dengan ilmu kebatinan. Atas dasar itulah, muncul konsep yang disebut dengan nama Islam Waktu Telu. Penganut Islam Waktu Telu mengetahu bahwa sholat itu ada lima waktu, rukun iman ada enam, rukun islam ada lima dan bahkan mereka lebih mengetahui tentang sifat 20 dari pada kita yang mengatakan diri sebagai penganut Islam Waktu Lima (islam ortodok). Masyarakat penganut Islam Waktu Telu Bayan pada khususnya mengakui bahwa Islam Waktu Telu dan Islam Waktu Lima adalah satu, jika sesorang belum mengetahui hakikat yang tiga maka gugurlah yang lima oleh sebab itu sesorang yang mengkui dirinya islam haruslah memahami mana hakikat yang tiga dan mana hakikat yang lima. Hakikat tiga adalah tangga untuk menuju hakikat yang lima, jika sesorang naik ke tangga yang kelima tanpa melewati tangga yang tiga maka ia akan tersesat dan jatuh ke lubang kesesatan.

Konsep hakikat tiga itu akan ditemukan apabila seseorang mengel diri, mengkaji diri dan kemudian menyembah diri (sembahulun). Diri yang dimaksud dalam perkataan tadi adalah tuhan (Allah Aza Wajalla). Beberapa orang tokoh Islam Waktu Telu (tidak mau disebutkan namanya) juga menjelaskan bahwa konsep Waktu Telu itu adalah hakikat oleh sebab itu mereka sengaja menyebunyikannya sebab ilmu hakikat itu tidak boleh dipublikasikan dengan sembarangan, soalnya tidak semua orang yang mampu berpikir dan menerima konsep hakikat. Jika konsep hakikat disebar luaskan tanpa memandang siapa dan dimana konsep itu diterangkan/diajarkan maka ditakutkan konsep hakikat itu akan membuat keimanan seseorang luntur. Alasan inilah yang kemudian meWaktu Telu mebuat tetua dan tokoh-tokoh Islam Waktu Telu merahasiakan ilmu hakikat itu dan hanya memberkannya kepada siapa saja yang dianggap mampu menerimanya.

Alasan itu pula yang membuat tetua dan tokoh-tokoh Islam Waktu Telu memberikan informasi yang beragam kepada para peneliti, termasuk masalah pelaksanaan waktu shalat, konsep kosmologi, konsep wilayah adat dan sebagainya. Setelah penulis telusuri secara mendalam, ternyata tetua dan tokoh yang disebut-sebut sebagai penganut Islam Waktu Telu sengaja merahasiakan konsep dasara paham Waktu Telu yang mereka jadikan sebagai landasan hidup beragama. Mereka takut menyebarkan/mempublikasikan konsep dasar itu  sebab mutiara hikmah yang terkandung di dalam konsep dasar Waktu Telu sangatlah mulia karena konsep dasar tersebut terkait dengan ilmu kebatinan yang tidak semua manusia mampu mengkonsumsinya.

Menurut pengakuan (Amaq Jun/Tokoh Adat Masyarakat Dasan Bilok), konsep dasar Islam Waktu Telu adalah Syriat, Tarikat, dan Hakikat untuk mendapatkan Ma’rifat. a) Syariat merupakan aturan yang menjadi acuan bagi manusia untuk bertingkah laku di dalam kehidupannya, itulah yang kemudian diwujudkan sebagai aturan adat yang didasari oleh hukum-hukum islam, demikianlah nenek moyang kami menciantai Islam sehingga mereka membuat aturan adat dengan mengacu kepada hukum islam.  b) Tarikat merupakan jalan untuk mendapatkan hakikat ketakwaan dengan melaksanakan amalan soleh, baik secara lahiriah ataupun batiniah. c) Hakikat adalah konsep kepercayaan sejati kepada Allah SWT dan dengan konsep ini maka seseorang akan merasa bahwa dirinya mendengar, melihat dan merasakan serta mampu mengerjakan segala sesuatu atas kekuasaan Allah semata.

Ketiga konsep itulah yang dikembangkan oleh nenkmoyang kami yang kemudian di sebut sebagai penganut Islam Waktu Telu sebab mereka melaksanakan peribadatan dengan secara berhati-hati untuk menghindari perilaku riak (pamer) dan sombong. Selanjutnya ma’rifat adalah pengenalan diri terhadap hakikat Allah yang Maha Esa dan tiada kekuatan selain dari-Nya. Konsep hakikat ini merupakan perpaduan dari syariat, tarikat dan hakikat. Oleh sebab itu penganut Islam Waktu telu percaya bahwa untuk mencapai kenikmatan di dunia dan ahirat diperlukan tiga konsep tersebut, yaitu syariat, tarikat dan hakikat. Syariat kemudian diwujudkan dalam atura-aturan adat yang bersumber dari hukum islam, hakikat diwujudkan dalam bentuk pengkajian diri melalui ilmu kebathinan dan hakikat diwujudkan dalam seganap perlakuan/tingkah laku yang terbebas dari prilaku sombong dan angkuh sebab semua manusia adalah sama dan mereka bisa hidup dan berlaku atas dasar kuasa Allah Aza Wajalla. Selanjutnya, ma’rifat adalah ilmu yang rahasia untuk menemukan pengetahuan yang paling tinggi yaitu kesatuan antara manusia dengan Allah atau disebut dengan ilmu HAK. Jadi intinya konsep Waktu Telu itu adalah konsep ilmu islam yang lima yaitu, syariat, tarikat, hakikat, ma’rifat dan ana al-haq. Tiga konsep diajarkan secara nyata (syariat, tarekat, dan hakikat) sedangkan dua konsep dirahasiakan (ma’rifat dan ana al-haq) sebab kedua konsep itu adalah urusan kebatinan masing-masing orang dan ia akan mendapatkan kedua ilmu itu dengan perenungan, tegas tokoh Adat Bilok Petung yang berusia 52 tahun ini.

Amaq Darwinggih (62 tahun) menjelaskan bahwa konsep dasar Islam Waktu Telu adalah mutiara terpendam yang tidak boleh dibahas oleh semua orang sebab itulah kami sengaja merahasiakannya sebab kami takut konsep yang kami anut ini akan meracuni jiwa orang-orang yang belum mampu mempelajari dan menimbang akal pikirannya. Pada konsep Islam Waktu Telu yang muncul dan sisebar luaskan itu berasal  orang-orang yang salah paham atas konsep dasar Islam yang kami kembangkan. Sesungguhnya kami tidak rela dikatakan sebagai penganut Islam yang hanya melakukan tiga waktu shalat atu tiga jenis peribadatan sebab kami juga melaksanakan shalat lima waktu dan segenap rukun islam yang mampu kami laksanakan.

Amaq Lokak Bilok Petung ini menegaskan, saya secara pribadi selalu menolak pengertian Islam Waktu Telu yang dikemukakan di dalam berbagai judul buku dan tulisan-tulisan lainnya sebab paham Islma Waktu Telu adalah ilmu kebatinan yang kami warisi dari nenek moyang kami dan bahkan ilmu kebatinan ini berlaku pada seluruh masyarakat suku Sasak pada masa lampau. Konsep Dasar Islam Waktu Telu adalah syariat, tarikat dan hakikat (ilmu nyata) dan yang kami sebut sebagai waktu lima adalah orang-orang yang sudah mampu mengetahui ilmu ma’rifat dan ana al-haq (keatuan antara Allah dan makhluknya).

Keterangan yang sama juga penulis dapatkan dari beberapa tokoh adat dan budaya masyarakat adat Sambik Elen, Loloan, Bayan dan Karang Bajo. Keterangan-keterangan itulah yang memberi penulis kesimpulan bahwa konsep Islam Waktu Telu bukanlah konsep waktu pelaksanaan sahalat atau peribadatan, namun konsep Islam Waktu Telu yang sesungguhnya adalah konsep ajaran kebatinan masyarakat suku Sasak yang didasarkan atas pengkajian ilmu syariat, tarikat, dan hakikat demi mendapatkan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat dengan merenungi dua ilmu yang sangat rahasia dan tidak boleh disebarluaskan ke halayak ramai sebab ditakutkan itu akan melunturkan keimanan para penerimanya, layaknya lunturnya iman para pengikut Syeh Siti Jenar yang menyebarkan islam dengan mengajarkan ilmu ma’rifat dan ana al-haq kepada siapa saja.

Dengan demikian, konsep Islam Waktu Telu Bayan pada khususnya dan masyarakat Sasak pada umumnya bukanlah konsep yang salah, melainkan itu adalah konsep yang mulia yang kemudian diwujudkan dalam pelaksanaan tradisi-tradisi adat dan budaya mereka sebagai bentuk kecintaan dan penghargaan mereka terhadap ilmu yang mereka terima dari nenekmoyang mereka. Konsep ilmu agama penganut Islam Waktu Telu Bayan dengan segenap tradisi budayanya inilah yang disebut sebagai mutiara terpendam yang nilainya tiada sebanding dengan gelimangan harta benda dan kemuliaan dunia.

Ahirnya saya berharap semoga artikel ini dapat memberikan suluk bagi kita semua sehingga kita tidak selalu berperasangkan tidak baik terhadap masyarakat Bayan dan sekitarnya serta masyarakat Sasak lainnya yang kita sebut sebagai penganut Islam Waktu Telu. Semoga dengan ini kita bisa menghargai betapa luhur ilmu islam dan ilmu kebatian nenek moyang kita (suku Sasak) yang hingga saat ini dilestarikan oleh masyarakat Bayan dan sekitarnya dengan berbagai tradisi budaya luhur yang mereka laksanakan. Semoga pula kita dapat merenungi hakikat kita sebagai manusia sehingga kita dapat menemukan mutiara terpendam yang akan membawa kita menemukan kebahagian dunia dan akhirat. () -01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan