logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sandikala

Sandikala

KM. Sukamulia – “Sandikala”, demikianlah nenekmoyang suku Sasak menyebut waktu yang berkisar pada ahir waktu shalat ashar atau menjelang datang-nya waktu

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
05 April, 2015 23:41:58
Opini/Artikel
Komentar: 3
Dibaca: 96402 Kali

KM. Sukamulia – “Sandikala”, demikianlah nenek moyang suku Sasak menyebut waktu yang berkisar pada ahir waktu shalat ashar atau menjelang datang-nya waktu magrib. Sandikala berasal dari dua suku kata, yaitu SANDIK yang berarti bahaya dan KALA yang berarti waktu. Dengan demikian SANDIKALA berarti waktu yang berbahaya.

Sesunggunya semua waktu adalah sama namun pemikiran religius sebuah komunitas mempercayai bahwa pada waktu-waktu tertentu terdapat hal-hal yang tidak baik atau berbahaya bagi mereka. Demikian pula halnya dengan nenekmoyang suku Sasak yang mempercayai adanya waktu yang dapat membahayakan keselamatan mereka. Waktu itulah yang disebut dengan istilah Sandikala, waktu berahirnya sahalat Ashar (sekitar jam 5.30 sore hari) hingga dikumandangkannya adzan shalat Magrib.

Nenekmoyang suku Sasak mewarisakan local genius itu kepada anak cucu-nya sehingga sampai saat ini pemahaman tersebut tetap tertanam pada benak sebagian besar masyarakat suku Sasak, terutama mereka yang tinggal di wilayah pedesaan, pegunungan dan mereka yang tinggal di wilayah pesisir pantai.

Pada waktu Sandikala, orang tua akan melarang anak-anaknya bermain-main ke tempat yang jauh dari lingkungan rumah/kediaman-nya sebab mereka percaya bahwa pada waktu Sandikala, golongan jin dan siluman sedang bergentayangan dan pada waktu itu juga ahli-ahli sihir melakukan aksinya melepas sihir yang bisa saja mengenai siapa saja yang ia niatkan untuk diganggu atau bahkan bisa pula mengenai seseorang yang bukan merupakan sasarannya, terutama anak-anak kecil yang memang belum mengerti akan hal-hal sepeti itu dan umumnya belum memiliki ketahanan akan serangan sihir dan gangguan makhluk halus (jin dan iblis).

Pada waktu itu juga tidak jarang orang muda ataupun orang dewasa yang terkena gangguan jin dan terkena oleh sihir yang dikirimkan oleh ahli sihir yang disuruh untuk menyakitinya oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya. Menurut kepercayaan masyarakat suku Sasak, pada waktu Sandikala, sihir yang dikirmkan oleh para ahli sihir bergentayangan diudara, layaknya peluru yang mencari musuh-musuhnya. Kadang peluru itu tepat mendarat pada tubuh musuh yang ditujunya dan kadang pula meleset atau nyasar dan mengenai tubuh orang yang bukan menjadi tujuannya. Jika seseorang terkena dengan sihir nyasar, maka ia akan sakit dan itulah yang kemudian disebut dengan nama kebabas.

Pemahaman semacam ini mungkin bukan hanya dimiliki oleh masyarakat suku Sasak, hanya saja kemungkinan istilah penyebutannya yang berbeda. Mistis memang tidak bisa terpisah dari kehidupan manusia sebab manusia di balik alam manusia ada alam gaib (alam jin) yang juga harus kita percayai. Pada awalnya penulis juga tidak percaya dengan hal-hal semacam ini, namun pengalaman dan kenyataan yang terjadi dan sering dialami oleh masyarakat di kampong halaman penulis kemudian mengharuskan penulis sadar bahwa kepercayaan pendahulu kami tentang Sandikala memang benar adanya.

Marilah kita berlindung hanya kepada Allah, supaya kita terhindar dari berbuat sihir dan atau terhindar dari sasaran sihir. Kita boleh percaya tentang keberadaan sihir sebab di dalam Al-Quran, Allah telah menjelaskan bagaimana persekutuan manusia dengan setan dalam melakukan sihir. Mengenai hal ini terdapat beberapa ayat Al-Quran yang menjelaskannya. Dengan demikian maka patutlah kita berlindung hanya kepada Allah supaya kita terhindar dari serangan sihir dan tidak pula melakukan sihir sebab melakukan sihir merupakan bagian dari kesirikan.

 

Baca Juga :


Ada dua hal yang menjadi larangan pada waktu Sandikala, anak-anak kecil tidak diperbolehkan bermain-main di tempat-tempat yang sepi dan tidak diperbolehkan untuk tidur pada waktu Sandikala (ahir ashar hingga magrib). Menurut pemahaman masyarakat suku Sasak, jika kita tidur pada waktu Sandikala maka kita akan mudah sakit/terkena sihir dan dirasuki oleh jin/setan/iblis.

Selain waktu Sandikal, masyarakat suku Sasak juga mempercayai bahwa pada malam hari para ahli sihir juga melancarkan serangannya, mulai sejak berakhirnya waktu shlat Isa hingga jam 12 malam. Untuk itulah, kita disunnahkan untuk membaca surat Al-Falaq pada rakaat kedua shalat Isa dengan tujuan supaya kita terhindar dan mendapatkan perlindungan Allah agar kita tidak terkena sihir para ahli sihir yang terkutuk.

Ahirnya kami berharap, semoga kita sekalian terhindar dari gangguan setan yang terkutuk, terhindar pula dari gangguan sihir yang dilakukan oleh manusia-manusia yang bersekutu dengan iblis. Semoga tulisan ini dapat menambah khazanah pengetahuan kita semua. Semoga kita senantiasa berada di dalam rahmat dan hidayah Allah SWT, amin ya robbal alaminnnnn.

(By. Asri The Gila) 02



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

3 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    06 April, 2015

    Gimana menurut anda dan pembaca lainnya, bahwa Sandikala berasal dari Sandi dan Kala. Sandi, berarti tanda atau Kode sementara kala berarti bahaya, karena kata kala itu merupakan potongan dari kata sengkala atau sengkale yang berarti halangan atau rintangan atau bahaya. kata Abu Macel, "Kalau percaya Syukur, kalau tidak percaya tidak apa". sekedar ikut menyemarakkan saja.


    1. Pangkat Ali

      Pangkat Ali

      21 Juni, 2018

      Mitos!


    2. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      06 April, 2015

      Apa yg pelungguh katakan memang benar sanak Habib,,, namun org tua di kampung tg mengartikan sandik dgn bahaya dan kala itu waktu,,,, tapi kykx lebih apdol kalau qt pake sandi n kala dimana sandi bererti tanda n kala itu bahaya,,, jd sandikala berarti tanda bahaya.... Okehhhh makasi atas kritik n masukannya... jaya terus kampung media...


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan