logoblog

Cari

Membangun Indonesia Dari Desa

Membangun Indonesia Dari Desa

Hampir ratusan ribu bahkan jutaan caleg,   cabup cawabup bahkan capres menjadikan isu desa sebagai isu utama dalam membangun kepercayaan masyarakat,  dalam

Opini/Artikel

Muhammad Syairi
Oleh Muhammad Syairi
21 Februari, 2015 22:50:34
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 14946 Kali

Hampir ratusan ribu bahkan jutaan caleg, cabup cawabup bahkan capres menjadikan isu desa sebagai isu utama dalam membangun kepercayaan masyarakat,  dalam meyakini pilihan masyarakat untuk memilih mereka yang menyebut desa sebagai komoditas politik mereka.  Namun fakta menunjukan bahwa itu hanya sebagai komuditas politik untuk memenuhi libido merebut kekuasaan dari rakyat. Sampai hari ini tidak ada politisi yang serius menjalankan janji politik merek tentang DESA.

Kita tidak tau apa alasan mendasar mereka terhadap sudut pandang politik terhadap entitas desa, padahal sudah sangat jelas bahwa desa dalam dasawarsa perjuangan terbentuknya republik ini semua gerakan di mulai dari desa.Tapi seiring nya waktu,  desa dalam entitas politik menjadi kian samar dalam kebijakan anggaran,entah apa yang terjadi di kepala para politisi negeri ini, selalu menempatkan desa dalam konteks kebijakan sebagai ruang yang sangat sempit.

 Sementara dalam kontestasi demokrasi,  desa di jadikan komoditas unggulan untuk meraup suara,saya telah membandingkan upaya upaya dari pihak pihak yang mencoba mengangkat harkat dan martabat desa lewat program baik NGO maupun lembaga lembaga nirlaba non pemerintahan, baik dari institusi pemerintahan itu sendiri.

Bahwa kita  melihat belum ada perilaku nyata dalam memikirkan perkembangan wilayah pedesaan baik secara sosial maupun ekonomi, selalu dianggap bahwa desa bukanlah hal yang utama dalam perjalanan kebijakan pembangunan negara ini, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintahan setingkat daerah sekalipun. Bahkan terjadi penyempitan ruang dan hak bagi pemerintah desa dalam mengelola dan anggaran yang bersumber dari pendapatan asli desa itu sendiri, terlihat dari beberapa regulasi yang dibuat masih terjadi timpang tindah dalam berbicara hak hak konstitusional desa,

dalam Undang Undang Dasar,  Negara kita sudah sangat gamblang menjelaskan dalam pasal 18b UUD 1945,  ditegaskan bahwa desa adalah entitas penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta dijelaskan hak hak secara konstitusional desa. Namun sangat disayangkan kitab undang undang kita selalu diabaikan oleh pemerintah kita didalam membangun desa.

Dalam Undang Undang terbaru tentang Desa UU NO 6 Tahun 2014 juga terdapat upaya mengesklusifkan identitas atau bahkan akan menghilangkan kekhasan  warna dan budaya serta identitas masyaraat pedesaan.kita semua tau bahwa masyarakat desa dengan pola hidup yang sangat hitoregen dalam perspekstif sosial kemasyarakatan dengan beragam identitas budaya,  suku,  ras dan agama,  yang bertumpu di dalam kehidupan masyarakat pedesaan.

Paradigma orang orang elit selalu memandang desa adalah sekumpulan orang udik kampungan, padahal khasanah jati diri indonesia itu bersal 99% dari desa. Sementara Anggaran  Pendapatan dan Belanja Daeraah/APBD hampir mayoritas bersumber dari desa,  seperti perusahaan tambang emas nikel timah, kelapa,  pisang,  dan sumber daya,alam lainnya yang seratus persen bersumber dari desa itu sendiri.  Namun ironi, pemangku kebijakan hanya memanfaatkan sumberdaya alam masyarakat desa,  namun kebijakan politik anggaran hanya diberikan secuil dari pendapatan yang didapatkan, ini telah terjadi diskriminasi negara kepada desa.

Kita  merasakan dampak itu langsung sebagai masyarakat pedesaan yang sehari hari berjibaku dengan kompleksitas problem masyarakat pedesaan,  sementara pembangunan pedesaan terkesan melamban dan tidak pasti.

 

Baca Juga :


Namun asa kembali muncul ditengah rasa pesimisme saya selama ini terhadap perkembangan dan kemajuan desa, adalah Al-Azhar Peduli Umat melalui program Indonesia gemilang dengan selogan “Membangun Indonesia dari Desa”.

Awalnya penulis berfikir,  ahh sama saja nantinya juga sama dengan yang lain hanya sekedar wacana saja tanpa implementasi yang jelas dan tidak akan pernah sampai tujuan, tetapi setelah penulis  mulai mengikuti program ini saya melihat pola gerakan yang dilakukan adalah menyentuh akar rumput permasalahan di tingkat masyarakat itu sendiri,  melalui pendampingan maupun program secara nyata serta komprehensif dalam membangun kembali pondasi desa yang hampir rapuh.

Dalam pendangan  penulis, “Al-Azhar Peduli Umat”  melalui program Indonesia Gemilang telah mampu mengubah budaya dan perilaku masyarakat serta memberikan solusi bagi permasalahan yang dirasakan masyarakat itu sendiri.

Program ini bagi saya adalah program yang mengandalkan skill dan potensi masyarakat pedesaan itu sendiri melalui pendampingan pendidikan dan membentuk budaya kerja masyarakat agar tidak hanya menunggu dan mencari lapagan pekerjaan, melainkan telah bisa  membangun lapagan pekerjaan melalui program program yang di telurkan.
Program hemat masyarakat adalah upaya mengembalikan perilaku masyarakat desa melalui program pemanfaatan lahan pekarangan,penekanan angka konsumtif pasar merupakan tradisi lama yang coba di aktualisasi melalui program keluarga hijau dapur hidup,artianya bahwa khitah Desa sebagai penyuplai makanan yang bersumber dari sumberdaya alam pedesaan.

Program simpan pinjam lewat gerakan ekonomi syariah, merupakan cirri dan kahasanah budaya desa yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur kita didesa didalam istilah orang Lombok ngegendu sambil menyeleng. Duduk ngobrol sambil menabung.esensinya adalah budaya duduk bersama didalam masyarakat pedasaan saat ini sudah mulai punah seiring perkembangan jaman yang mulai serba canggih menggunakan alat telekomunikasi telpon internet dll. Sehingga dalam upaya tabungan gemah rimpah ini tidak hanya mengajarkan masyarakat untuk berhemat semata melainkan mengembalikan jati diri desa dengan konsep bergotongroyong duduk rembuk bersama dan meghasilkan karya dalam membangun desa.

Program Indonesia Gemilang merupakan karya yang besar dengan hasil kerja yang sangat besar pula, .disaat pemerintah hanya selalu berwacana dan pesimisme menyemlimuti masyarakat pedesaan  Al azhar hadir ditengah masyarakat dan telah membuat langkah dan lompatan besar  dan nyata dalam membangun Indonesia dari Desa. [] - 03



 
Muhammad Syairi

Muhammad Syairi

Penulis adalah pengelola Radio Komunitas Primadona FM yang berdiri pada tahun 2002 di Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Email: rakomprimadona@gmail.com, ariprimadona@gmail.com. Hp. 081917760145

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan