logoblog

Cari

Tutup Iklan

Perahu Berpijar

Perahu Berpijar

Malam yang begitu kelam, udara di sekitar sangat dingin. Utung saja sebuah jaket yang berbahan kulit domba berperan menutupi sekujub tubuh,

Opini/Artikel

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
25 Januari, 2015 22:25:59
Opini/Artikel
Komentar: 10
Dibaca: 12300 Kali

Malam yang begitu kelam, udara di sekitar sangat dingin. Utung saja sebuah jaket yang berbahan kulit domba berperan menutupi sekujub tubuh, sehingga udara dingin yang dihasilkan dari proses hembusan angin yang mengalir di atas gelombang laut ke tepi pantai labuhan haji-lombok timur, tak sanggup menembus ke dalam tubuh. Seorang anak kampung media yang rela membiarkan dirinya larut dalam kesendirian di tengah kesunyian. Ia pun duduk di atas pasir sambil melepaskan pandangan ke sebuah cakrawala gulita.

Jong Celebes sebuah nama anak kampung media-Nusa Tenggara Barat yang berdomisili di selong-Lombok timur, telah menampilkan beberapa tulisannya di kampung-media.com dalam berbagai tema. Kali ini, ia pun sangat terobsesi tentang sebuah panorama malam di atas lautan lepas yang terhias oleh kilauan cahaya lampu pijar yang berkelap-kelip dari atraksi perahu-perahu nelayan yang sibuk dengan jejaring yang dilempar di atas permukaan air laut.

Kilauan cahaya lampu pijar yang saling berpapasan nan menimbulkan kelap-kelip pada alam gulita di wilayah perairan labuhan haji-lombok timur, membuka pintu pikiran KM. Jong Celebes untuk mencari hubungan antara catatan pikiran yang bersumber dari beberapa informasi nelayan yang ada di tanjung luar dan labuhan haji dengan sebuah perubahan sosial yang kini terjadi pada kehidupan masyarakat nelayan yang ada di sekitar pinggir kota selong. Sebuah perubahan masyarakat nelayan menjadi satu irisan pengkajian sosial oleh Km. Jong Celebes, adalah eksistensi lampu pijar di atas perahu nelayan.

Sebelumnya, Km Jong Celebes menjelaskan bahwa perubahan sosial merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, yang mana dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran masyarakat itu sendiri, dan juga sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, Prof. Dr. M. Tahir Kasnawi, yang merupakan salah seorang dosen dari Km. Jong Celebes pada program pasca sarjana universitas negeri makassar di jurusan sosiolgi mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan suatu proses perubahan, modifikasi, atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai budaya, pola perilaku kelompok masyarakat, hubungan-hubungan sosial ekonomi, serta kelembagaan-kelembagaan masyarakat, baik dalam aspek kehidupan material maupun nonmateri.

Terkait dengan pengertian perubahan sosial di atas, khususnya tentang penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, dimana masyarakat nelayan yang ada di wilayah pesisir pantai Lombok timur mampu merubah pola hidupnya dengan mengikuti perkembangan zaman atau teknolgi modern. Pola hidup masyarakat nelayan yang dipengaruhi oleh perubahan sosial budaya, seperti dengan mempergunakan fasilitas melaut mempengaruhi pula tingkat perekonomian mereka. Salah satu fasiltas alat pendukung dalam melangsungkan aktifitas kerja mereka di laut adalah dengan mempergunakan alat pemanggil ikan yang sekaligus sebagai alat penerang di atas perahu pada waktu malam gulita.

Seorang nelayan dari Tanjung Luar Lombok timur yang bernama Marruf (27 tahun) telah bercerita pada KM. Jong Celebes tentang perubahan sosial nelayan di sebuah pantai yang ada di pinggir kota selong. Marruf yang juga pernah menjadi mahasiswa KM. Jong Celebes pada sebuah perguruan tinggi swasta yang ada di Lombok timur pada jurusan sosiologi, telah banyak memberikan ulasan tentang kehidupan masyarakat nelayan di saat pertemuan itu berlangsung di tepi pantai. Berikut KM. Jong Celebes akan bercerita tentang hasil liputan yang telah diperoleh dari marruf, dan dipadukan dengan konsep tentang perubahan sosial dari KM. Jong Celebes, serta informasi-informasi lain dari beberapa nelayan yang telat tercatat dalam pemikiran KM.Jong Celebes.

Dahulu ketika pola pemikiran masyarakat masih sangat tradisional, para nelayan mencari ikan di tengah laut dengan mempergunkan obor sebagai alat penerang. Cahaya api yang bersumber dari alat penerang yang berupa obor, sanggup memberikan respon pada ikan-ikan untuk mendekat pada cahaya yang masuk ke dalam laut.Dapt dipahami bahwa ikan itu sangan sensitifisme terhadap cahaya.

Hanya saja bahwa kekuatan cahaya yang berasal dari obor tersebut memilki jangkauan yang rendah, yaitu berkisar 2 sampai 3 meter ke dalam laut, namun sejumlah ikan pun tetap dapat terjaring oleh nelayan. Begitu pun juga resiko mempergunakan obor sebagai pemanggil ikan di laut sangat tinggi. Terkadang jika angin datang, akan tertiup pada api obor tersebut hingga padam. Belum lagi jika ombak deras datang, air ombak pun dapat menyiram api obor tersibut.

Seiring dengan perkembangan zaman, pemikiran manusia pun telah berkembang. Obor yang yang merupakan alat penerang pada nelayan di malam hari, telah tergeser kedudukannya oleh lampu ketinting. Lampu ketinting merupakan lampu tradisonal yang mempergunakan minyak tanah. Api yang yang keluar dari sumbu pada tangki bagian bawah tertutup dan dilindungi oleh dinding kaca, sehingga resiko dari lampu ketinting ini tidak terlalu berat. Pada bagian atas dari jenis lampu ini tertutup oleh lingkaran besi tipis yang telah dirancang bagai topi.

Jangkauan cahaya pada lampu ketinting ini lebih rendah dibandingkan dengan cahaya api dari obor bambu, namun nelayan-nelayan dengan alat pemanggil ikan seperti ini, tetap dapat membuahkan hasil. Suatu alasan bahwa apabila hanya memepergunakan cahaya yang jangkauan kedalamannya di bawah laut terlalu pendek dan kurang melebar, itu kecil kemungkinan untuk mendapatkan ikan yang berlimpah.

 

Baca Juga :


Perkembangan pemikiran manusia yang tidak pernah berhenti untuk menghasilkan sesuatu yang baru, sehingga alat pemanggil ikan yang berupa ketinting mengalami perubahan. Lampu ketinting tradisional yang cukup banyak membantu nelayan dalam meraih hasil yang cukup banyak dari dalam laut, namun tergantikan posisinya oleh sebuah hasil budaya baru yaitu lampu gas atau biasa disebut lampu strongking. Mungkin anda masih ingat sebuah lampu yang marak dipergunakan oleh masyarakat pada umumnya ketika belum berkembangnya penggunaan listrik.

Lampu gas mempergunakan minyak tanah dan memilki alat pompa pada salah satu sisi di bagian tangki minyak tanahnya. Untuk menghidupkan jenis lampu ini harus memeprgunakan zat cair yang berupa spirtus, agar balon gas yang berada dalam ruang lampu ini dapat mengeluarkan cahaya. Cahaya yang dikeluarkan oleh lampu gas ini sangat terang dan mampu menembus kedalaman air dengan sekitar 7 sampai 8 meter. Lebar cahaya pun dari lampu gas ini cukup luas, sehingga para nelayan yang memeprgunakan jenis lampu ini dapat membuahkan hasil yang lebih banyak dibanding dengan alat penerang sebelumnya.

Hanya saja bahwa dengan mempergunakan jenis lampu ini memilki resiko di tengah laut. Ketika angin kencang datang lampu ini muda untuk padam. Air ombak yang begitu tinggi, sangat muda untuk memadamkan cahaya lampu ini. Resiko kebakaran pun juga kerap terjadi pada nelayan yang memepergunakan jenis lampu seperti ini.

Dari penggunaan lampu gas atau lampu strongking, kini masyarakat nelayan sudah masuk pada penggunaan navigasi eletronik. Pada masyarakat nelayan yang ada di tenggaron, kalimantan, sosialisasi tentang navigasi eletronik dengan memepergunakan lacuda (lampu celup dalam air) sebagai alat pemanggil ikan telah dilaksanakan. Lacuda (lampu celup di bawah laut) dengan lampu yang berkekuatan 500 wat, mampu merangsang sejumlah besar ikan untuk mendekat pada perahu dengan mengikuti cahaya lampu pijar, sehingga nelayan dapat meraih keuntungan yang berlimpah-limpah.

Nelayan yang mendiam di daerah peisisir lombok timur, seperti yang ada di labuhan haji, tanjung luar, yang mana dalam meningkatkan taraf pengahsilannya, mereka pun juga memperguanakan lampu eletronik dengan mempergunakan lampu pijar di atas perahu. Mereka pun belum bisa mempergunakan lacuda (lampu celup di bawa laut), karena harga lacuda ini cukup mahal.Tapi sebuah deretan lampu pijar yang tergabung dalam perakitan tertentu oleh nelayan,  yang menyala di atas perahu, dan sumber listriknya dari mesin ganset yang telah tersedia di atas perahu, cukup mampu merangsang sejumlah ekor ikan untuk mendekat pada perahu dengan mengikuti sumber cahaya, sehingga nelayan pun juga mampu meraih keuntungan yang berlimpah.

Marruf mengatakan bahwa, walau pun belum mempergunakan Lacuda (Lampu celup di bawah air) dan hanya mempergunakan lampu pijar, namun ia mengakuinya kalau penghasilannya jauh lebih banayak ketika masih mempergunakan lampu gas. Penggunaan lampu pijar ini pun juga hadir pada masyarakat nelayan tanjung luar pada sekita setahun yang lalu. Inilah hasil inovatif dari nelayan di sini dengan mempergunakan alat pemanggil ikan yang masih bisa dijangkau harganya. “Kecuali kalau pemerintah akan memberikan bantuan berupa lacuda (lampu celup di bawa laut) itu labih bagus lagi,”ujar marruf pada saat itu di sebuah pantai yang ada di pinggir kota selong.

Dari gambaran di atas, yaitu ketika masyarakat nelayan bermula memepergunakan obor sebagai alat penerang dan juga sebagai pemanggil ikan, hingga berubah menjadi lampu ketinting, lalu kemudian berubah lagi dengan mempergunakan lampu gas atau biasa disebut lampu strongking, dan terakhir dengan mempergunakan lampu pijar adalah suatu bentuk perubahan sosial budaya dari pada masyarakat nelayan yang sangat berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat dan peningkatan ekonomi masyarakat.. [] - 05



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

10 KOMENTAR

  1. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    29 Januari, 2015

    modem itu sangat lelet.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    penulis dan pembaca adalah orang pintar bukan orang bodoh.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    pembaca di kampung media 100% orang berpendidikan, tentu dapat memahami berbagai gaya menulis orang dan dapat menterjemahkan karya seseorang.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    gaya apapun yang dipergunakan oleh penulis yang penting nyambung.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    gaya menulis dalam menyampaikan suatu informasi adalah pencerminan jiwa dan karakter seseorang.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    NH Dini dan Sayekty Pyrbaningtyas (psikolog) memilki gaya menulis yang diawali gaya sastra


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    masing-masing penulis punya gaya atau karakter tersendiri dalam menyampaikan informasi.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    dalam tulisan-tulisan pada majalah wesata alam sering kita temukan tulisan yang berkombinasi sastara dan kajian sosial.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    gaya menulis saya pada perahu berpijar sering dilakukan oleh penulis ternama....


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    26 Januari, 2015

    banyak gaya dalam penulisan....gaya saya enulis perahu berpijar memang beda dengan yang lain. Yang penting dipahami maksudnya.


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan