logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kopi Pahlawan: Keresahan Berbuah Harapan (bag. 1)

Kopi Pahlawan: Keresahan Berbuah Harapan (bag. 1)

Assalamualaikum semeton ku, rindu rasanya menulis kembali di Kampung Media (KM) yang kita cintai ini. Ini adalah kali kedua saya menulis

Opini/Artikel

Rio Lagoa
Oleh Rio Lagoa
19 Januari, 2015 13:29:37
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 8598 Kali

Assalamualaikum semeton ku, rindu rasanya menulis kembali di Kampung Media (KM) yang kita cintai ini. Ini adalah kali kedua saya menulis di KM setelah sebelumnya saya menulis “Kenapa saya ada di Lombok”. Baiklah, izinkan saya bercerita mengenai perjalanan saya ke Desa Sembalun bersama rekan-rekan saya, untuk memproduksi film dokumenter pendek tentang proses lahirnya Kopi Pahlawan dan kehidupan petani di sana, serta yang tidak kalah penting adalah, visi Baraka Nusantara. Cerita ini saya bagi dalam beberapa bagian. Silaq dinikmati.

Berawal dari mencicipi kopi disebuah cafe di kawasan wisata Senggigi, saya berinisiatif untuk menggali informasi tentang komoditas kopi Lombok melalui jalur dunia maya. Setelah beberapa menit berselancar akhirnya saya membaca sebuah artikel di sebuah website pencinta kopi. Artikel tersebut menceritakan tentang inisiatif seorang peneliti hukum dari Jakarta yang juga memiliki pengalaman dalam penelitian dan pendampingan petani di beberapa desa terkait kedaulatan pangan melalui jalur hukum dan kebijakan. Namanya Maryam Rodja.

Saya merasa tidak puas dengan informasi yang saya dapatkan, akhirnya pencarian pun berlanjut hingga akhirnya saya menemukan posting tweet dari sahabat saya, Andra Fembriarto. Andra adalah seorang sutradara yang jarang terdengar namanya di industri film nasional, namun karya-karyanya sungguh nyata dan sudah mendunia. Salah satu karya Andra yang digemari anak-anak muda yang gemar bertualang adalah web series “Jalan-Jalan Men” masih banyak lagi karya Andra yang patut diacungi jempol. Ingin tahu karyanya? Cek saja akun youtube-nya ya.

Kembali ke laptop! Saat membaca tweet Andra, seketika itu pula saya merasakan gejolak untuk segera berbuat untuk membantu mengembangkan potensi kopi di Sembalun. Melalui cara apa? Ya, melalui cara yang saya bisa tentunya. Saya dan Andra terlibat perbincangan yang cukup panjang melalui whatsapp.

Hari Minggu (14/12) Andra tiba di Lombok. Saya pun langsung bergegas menuju airport, setelah sebelumnya saya bersama tim melakukan produksi film pendek tentang Desa Mas-Mas, ditemani oleh Bapak Habiburahman dan Bapak Kepala Desa Mas-Mas. Mohon doanya agar film ini bisa selesai dan hasilnya bisa kita nikmati bersama.

 

Ket Foto: Screen Capture tweet Andra Fembriarto

Sembalun Yang Ramah

 

Baca Juga :


Hari Senin (15/12) pukul 17.00 WITA saya dan teman saya, Husdinata, memacu kendaraan dari Meninting menuju Sembalun melalui jalur Pusuk – Tanjung – Bayan, Lombok Utara. Perjalanan saya tempuh selama dua jam dengan roda empat. Jalur yang ekstreem, kelolosan, salah belok, radiator mobil rusak, adalah kombinasi dari sebuah kondisi perjalanan yang saya alami pada saat itu. Tapi menarik buat saya.

Setibanya di rumah Pak Wathan yang berada tepat di depan Kantor Kecamatan Sembalun, saya disambut oleh rekan-rekan saya yang sudah lebih dulu tiba. Ada Mba Maryam, Andra, Puyul, dan Edison. Jika diizinkan saya akan perkenalkan secara singkat siapa mereka. Kecuali Maryam dan Andra, karena sudah saya perkenalkan di awal paragrap.

Pak Wathan dan Edison adalah tokoh penggerak petani di Sembalun. Keduanya sangat vokal dalam upaya menghidupkan kembali potensi kopi yang selama ini mati suri karena dianggap tidak menguntungkan. Petani di Sembalun kerap mengalami kebuntuan untuk menjual komoditi kopi tersebut. Namun kebuntuan ini menghasilkan embrio lahirnya sebuah harapan yang tidak ilusif. Sebelum saya lanjutkan, ada satu teman lagi yang belum saya kenalkan. Yaitu, Puyul. Sejak pertama saya berkenalan dengan wanita kreatif ini, saya sempat bingung tentang perannya di Sembalun. Puyul berprofesi sebagai arsitek di sebuah perusahaan properti berskala internasional. Ke-esokan harinya saya baru tahu, bahwa nanti, Puyul yang akan mendesain bangunan untuk rumah belajar Sankabira.

Ket Foto: Sejuknya Kabut Pagi Sembalun

Udara pada malam itu sangat sejuk, namun kami tetap melingkar dalam kehangatan sambil menikmati secangkir kopi pahlawan. Selain merasakan energi positif, saya juga mendapatkan definisi kebersamaan yang sebenarnya dan filosofi hidup baru yang saya adopsi dari filosofi hidup masyarakat lokal, yakni “Hidup bagai lombok buaq, berprilaku sasak sankabira” yang artinya “Hidup lurus seperti pohon pinang, berprilaku bersatu saling tolong menolong”. Satu lagi alasan saya betah hidup di Lombok!

(Bersambung ke bagian dua)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan