logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bagaimana Menulis Puisi

Bagaimana Menulis Puisi

ada puluhan teori tentang puisi, mulai dari bagaimana puisi sejak angkatan 45 ataupun balai pustaka. Namun kemudian dalam perjalanannya, A teww

Opini/Artikel

KM Pancor Sanggeng
Oleh KM Pancor Sanggeng
10 Januari, 2015 06:31:20
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 12562 Kali

ada puluhan teori tentang puisi, mulai dari bagaimana puisi sejak angkatan 45 ataupun balai pustaka. Namun kemudian dalam perjalanannya, A teww dalam buku "renda-renda puis" seolah memecah kebuntuan dengan menuliskan sebuah puisi (maaf judul lupa) yang di sandingkan dengan sebuah cerpen. kesimpulan pembacaan saat itu adalah: hampir berbedaan puisi dengan cerpen sangat tipis.

hari ini saya membuka akun kampung media.com dengan login menuju akun yang saya kelola. Pada bagian paling atas saya temukan komen pada salah satu puisi berjudul "sila", entah dia lelaki atau bagaimana, karena saya belum membuka akun miliknya. akan tetapi dalam tulisan ini saya ingin mempokuskan tulisan kepada bagaimana menulis sebuah puisi.

mungkin sangat tidak biasa bahkan tidak bijak jika saya menuliskan apa yang dimaksudkan dengan istilah puisi, sebab saya percaya. sebagian besar orang yang suka membaca atau bahkan menulis puisi, pasti mengenal apa itu puisi. Yang jelas, bagi saya adalah: puisi bukanlah 1). "curhat", 2) ia juga bukan "orasi sebuah partai atau orasi pergerakan massa", 3) ia bukan "khutbah" dan 4) ia bukan "luapan emosi" penuh nafsu. Akan tetapi 1) ia memiliki bahasa sendiri, dan 2) memiliki selubung kabut.

puisi, bukanlah sebuah tulisan yang satu kali baca kemudian habis (pembaca menemukan) makna. maka, jika ada yang beranggapan demikian. sesungguhnya dia sedang tidak membaca puisi, melainkan membaca cerpen. sebab memang demikianlah puisi di lahirkan oleh penulis, penuh teka-teki yang butuh waktu khusus untuk membacanya.

beberapa saat saya membuka tulisan berjudul "banteng raksasa" kemudian membaca segala hal termasuk komen pembaca dalam tulisan tersebut.

"siapa yang pintar membual bahasa? sungguh pandai engkau membual bahasa engkau rangkai kata untuk menyerang siapa jangan jadikan nafsu menguasai jiwa karena kalah bintang bersudut tiga dari banteng yang menguasai telaga suara siapa yang kau maksud sibuta jangan jangan orang yang aku bangga....... kamu takpatut menghinanya karena kamu bukan siapa-siapa" (ihromil islam, 23 april 2014)

Dan kemudian secara bijak penulisnya menjawab

 

Baca Juga :


"mantab sobat... puisi ini bukanlah suatu karya yang saya buat untuk menyerang siapapun, tapi saya membuat ini hanya sebagai gambaran dan refleksi kehidupan elit politik negeri ini. Saya bukan pencinta partai apapun dan saya adalah orang yang netral dalam dunia perpolitikan. Jika sobat merasa tersinggung atau apapun namanya atas bahasa-bahasa yang saya tuangkan pada bait puisi ini maka dengan penuh kerendhan hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekali lagi saya katakan bahwa puisi ini sy buat bukan untuk tujuan menyerang orang lain atau anda. Salam dari kampung." (KM. Suka mulia. 8 Juni 2014)

Demikianlah, mungkin komen yang akan terjadi jika sebuah puisi tertulis tanpa "selubung kabut" yang di maksudkan bahwa puisi "bukanlah orasi massa".

sebagian besar orang memberikan semangat kepada penulis pemula dengan kata "tulis saja, prihal bagus atau tidak itu nanti dulu" dengan maksud agar ia tidak patah semangat dalam menulis. Hal ini tentu menjadi sebuah permasalah, apabila tulisan (puisi) tersebut di publish dan dibaca oleh orang-orang panatik.

tentu kita tidak bisa menyalahkan orang-orang panatik, sebab demikianlah jika cinta telah di "butakan" akan tetapi. Seorang penyair adalah ia yang dengan bijak membicarakan segala hal, memilih kata-kata dan merangkainya dalam sebuah "selubung kabut", ini bukan dimaksudkan untuk membuat bingung pembaca. Akan tetapi, puisi adalah jelas sangat berbeda dengan cerpen. Walaupun keduanya memiliki ciri yang sama.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan