logoblog

Cari

Tutup Iklan

Indonesia Dalam Era Krisis Pemimpin

Indonesia Dalam Era Krisis Pemimpin

Dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqrah ayat 30 Allah SWT Berfirman yang Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak

Opini/Artikel

KM. Mutiara
Oleh KM. Mutiara
25 Desember, 2014 13:26:53
Opini/Artikel
Komentar: 1
Dibaca: 4431 Kali

Dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqrah ayat 30 Allah SWT Berfirman yang Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

SAAT ini krisis kepemimpinan menjadi salah satu persoalan mendasar Bangsa Indonesia. Kurang lebih Satu dekade, mayoritas pemimpin Yang tampil Ke permukaan Gagal merepresentasikan cita-cita reformasi. Berbagai indikasi seperti minimnya Visi Kebangsaan, pudarnya rasa tanggung Jawab, maraknya kasus pelanggaran Hukum jadi Parts Bukti tak terbantahkan. Krisis kepemimpinan nasional bahkan sampai ke daerah terkait transisi era reformasi selayaknya diakhiri dengan konsolidasi. Alasannya, periode 15 tahun sudah cukup dalam uji coba menemukan sosok pemimpin dengan segala dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Fenomena nihil hampir merata di Semua tingkat kepemimpinan mulai Pusat hingga daerah, Bahkan pemimpin Yang mengusung Serta lahir Bahasa Dari rahim reformasi pun mengalami Nasib serupa. Masih Segar di ingatan kita bersama sejumlah politisi pendidikan nasional bahkan aparat penegak hukum terjerat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme baik berlatar Partai Nasionalis maupun Religius-Islamis.

Para pemimpin di Negara ini mengalami krisis integritas secara berjamaah! Padahal, pesan Nabi Muhammad (Revolusioer Dunia) di awal tulisan ini, seorang pemimpin idealnya adalah laksana perisai, tempat masyarakat atau rakyat berlindung di belakangnya.

Jika para pemimpin tidak amanah, tidak dapat dipercaya, akibatnya masyarakat ibarat ayam kehilangan induk. Bagaimana tidak, pemimpin lembaga kepolisian ditangkap karena menjadi bandar narkoba atau memeras terdakwa; pemimpin lembaga dakwah justru menginjak-injak nilai-nilai luhur agama; pemimpin lembaga yudikatif ditangkap KPK karena suap; pemimpin dari jajaran legislatif dan eksekutif ramai-ramai melacurkan jabatan demi menumpuk materi melalui korupsi. Presiden dan wapres pun hanya pintar mengobral janji dan rajin menjaga citra, tapi gagal menebar kesejahteraan dan menjaga kepercayaan rakyat. Maka, kepada siapa lagi rakyat harus berlindung atau menggantungkan harapan? ke kita kah?

Pertanyaan ini tentu belum mampu kita jawab brsama karena tidak hanya mereka pemimpin kita, tetapi kita sebagai calon pemimpin pun demikian. Dari sekarang kita mulai menjadi Koruptor kecil dengan menodongkan tangan kesana-kemari, lantas apakah kemudian kita pantas mengatakan diri sebagai tempat berlindung kaum kota pinggiran yang terinjak-injak oleh kebijakan bahkan tubuh dan pikiran kotor kita. Allahualam Bissawaf

Melihat realita ini, maka sangat ironis saat kita memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, kenyataan yang kita hadapi justru kian mendekatkan bangsa kita ke jurang kebangkrutan nasional. Dan salah satu sebabnya yang signifikan adalah karena kita sekarang ini mengalami krisis pemimpin dan kepemimpinan bangsa. Dan, inilah krisis warisan rezim Orde Baru yang dampaknya paling fatal, sebab negara dan masyarakat sekarang ini seperti berjalan tanpa pemimpin, lembaga-lembaga negara menjadi institusi lemah, dan situasi sosial carut-marut seolah tiada lagi ketertiban dan otoritas yang bisa dijadikan panutan. Bahkan Mahasiswa yag menjadi salah satu pelopor reformasi malah menjadi bayangan akan runtuhnya negara ini. Lantas siapa yang harus disalahkan?

Krisis yang Merata

Krisis pemimpin dan kepemimpinan ini merata, menyentuh hampir semua level dan lembaga negara, bahkan juga lembaga-lembaga masyarakat yang relatif otonom terhadap negara. Jadi tidak hanya menyangkut lembaga kepresidenan. Indikasinya, kita kesulitan menemukan sosok pemimpin yang berkarakter ideal: efektif, dapat dipercaya, dan bisa menjadi sosok yang patut diteladani (uswatun hasanah). Dengan kata lain, nyaris semua pemimpin di semua lini hanya mengedepankan cara berpikir rasional subyektif atau rasional instrumental. Dikatakan demikian, karena rata-rata mereka hanya mengedepankan kepentingan pribadinya atau sekadar menjadi alat dari hasrat subyektifnya sendiri, keluarga, atau kelompoknya.

Padahal, sosok pemimpin mestinya mengedepankan kepentingan mereka yang dipimpin; berwatak altruistik, dengan menempatkan kepentingan diri, keluarga, atau kelompoknya di bawah kepentingan publik yang lebih luas. Pemimpin harusnya bukan berdiri di atas rakyat atau sejajar dengan rakyat, tetapi mestinya mengabdikan diri di bawah kepentingan rakyat.

Mengapa bisa demikian? Inilah salah satu dampak kekuasaan panjang rezim Orde Baru yang telah memberangus iklim yang kondusif bagi munculnya pemimpin dengan karakter yang ideal. Seperti kita tahu, rezim modernisasi atau pembangunan ekonomi yang amat materialistis dan bertumpu pada aspek pertumbuhan semata, telah menciptakan lahirnya generasi bangsa yang individualistis, hedonistis, pragmatis, materialistis, dan egoistis. Nilai-nilai sesaat seperti kesuksesan karir pribadi, kekayaan pribadi, menjadi amat penting bagi generasi ini. Bahkan, tak jarang tujuan dapat menghalalkan cara demi mencapai kesuksesan atau kekayaan pribadi tersebut.

Akibatnya, posisi pemimpin atau jabatan publik pun kerap diincar sekadar sebagai batu loncatan untuk kaya dan berkuasa. Walhasil, lembaga-lembaga negara atau publik yang potensial dijadikan lahan korupsi justru dianggap sebagai “lahan basah”? yang diperebutkan banyak orang. Sosok pemimpin amanah dan sederhana seperti Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Sjahrir, Natsir, atau Tan Malaka, menjadi makhluk yang amat langka di negeri kita sekarang ini. Kekayaan dan kemewahan serta keserakahan seolah menjadi seragam wajib bagi para pemimpin masa kini. Sementara pada saat yang sama, rakyat seolah sah-sah saja dibiarkan menjadi makhluk yang sengsara dan melarat sepanjang masa.

 

Baca Juga :


Kenyataan di Atas menunjukkan bahwa Realitas kepemimpinan pendidikan nasional belum sepenuhnya berubah Bahasa Dari POTRET Buram Orde Baru. Pemimpin Tetap bermental Korup Dan lebih mendahulukan kepentingan Pribadi. Lingkaran kepentingan terangkum secara laten Dalam, Tiga istilah: Harta, tahta, Dan Wanita. Term Yang sudah lama kenal kitd Suami SeolAh-Olah abadi Sepanjang Masa.

Padahal semestinya, diterapkannya SISTEM Demokrasi langsung, kemungkinan lahirnya pemimpin Berkualitas Ulasan Sangat Besar. Rakyat Bisa kecepatan memerlukan, expandabilas Calon pemimpin Sesuai yang dikehendaki. Tak Peduli keturunan raja atau rakyat jelata, terkait masih berlangsung Warga Negara Punya hak untuk kecepatan memerlukan, expandabilas Dan dipilih. Kekuatan sekaligus kelebihan Demokrasi langsung terletak PADA kehendak rakyat Dalam, suatu Ikatan kontraktual.

Namun demikian, sebagai SISTEM Yang mengedepankan kehendak rakyat, Demokrasi regular tidak Bisa berjalan begitu Saja. Keberadaannya Perlu dikawal agar regular tidak terciderai praktik-praktik non-Demokrasi. Praktik Politik seperti penyalahgunaan kekuasaan, pembajakan instrumen Hukum, politik uang, intimidasi hak Pemilih, termasuk pembodohan Pemilih Artikel Baru embel-embel tertentu harus dieleminasi.

Selain merugikan Demokrasi, praktik semacam itu potensial melahirkan pemimpin di Luar idealitas Bersama. Yakni, pemimpin Yang dipilih Bukan karena pandangan visioner atau Integritas, melainkan karena Lihai propaganda memainkan Serta Punya kekuatan modal membeli Suara. Pemimpin Model Suami lebih tepat disebut "pemimpin massa".

Tipologi pemimpin massa regular tidak Punya Visi Kebangsaan Yang mengakar. Suara rakyat dianggap hanya bungkusan Produk murahan belaka. Prinsipnya, Penghasilan kena Suara Dibeli Maka regular tidak ada assets apapun Yang harus diperjuangkan. Terminologi "rakyat" digeser Ke Posisi "massa" untuk melegitimasi kekuasaan. Sedangkan massa regular tidak berbaring adalah sekumpulan orangutan Yang sengaja dikondisikan Tanpa kebajikan Murni Berjangka Panjang.

Nabi Muhammad SAW., merupakan indikator maupun contoh teladan sosok pemimpin yang berkarakter negarawan, baik dalam konteks keluarga, masyarakat, agama, maupun negara. Hal tersebut menjadi landasan yang fundamen bagi generasi muda bangsa Indonesia, khusus kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan organisasi kader yang meleburkan antara nilai-nilai islam aswaja, intelektual, dan kearifan lokal bangsa Indonesia sebagai pijakan dalam berpikir, berucap, dan bergerak untuk memberikan angin segar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia menjadi pionir untuk melahirkan kader-kader yang berkarakter pemimpin negarawan.

PMII adalah organisasi kemahasiswaan yang mempunyai karakteristik nilai–nilai keislaman seperti kemerdekaan (Al Hurriyah), persamaan (Al Musawa’), keadilan (Al Adhalah), toleran (Tasamuh), damai (Al Shulh) dan lain sebagainya. Adapun warna ke Indonesiaan (keragaman suku, ras, agama, beribu–ribu pulau, persilangan budaya) dengan kerangka pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah, mendorong serta mengexplore potensi tiap individu mahasiswa (kader).

Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, islam mendasari dan memberi spirit dan base vital pergerakan yang meliputi cakupan iman (aspek aqidah), islam (aspek syari’ah) dan ihsan (aspek etika, akhlaq dan tasawwuf) dalam upaya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia akhirat (Sa’adah Ad Dadain). Dan juga sebagai wujud kongkrit melenyapkan keterbatasan berfikir mahasiswa (kader) serta mengokohkan idealisme PMII. Adapun Keindonesiaan memberi area berpijak bagi mahasiswa (kader), bergerak dan memperkaya proses aktualisasi dan dinamika organisasi, salah satunya sebagai wujud independensi gerakan.

Terakhir dari rangkaian kata ini adalah terletak kepada kegalauan dan kegundahan saya, kami sebagai geneasi penerus bangsa ini. Konsep gerakan  yang slama ini tercerminkan dari sosok seorang pemimpin adalah hanya terletak untuk membesarkan diri semata. Teori dengan begitu gagah tetapi Naif dalam pelaksanaan, begitulah POTRET sistem hari ini. Tetapi harapan besar kami dengan acara ini muncul dan lahir Pemimpin-pemimpin Idealis yang selalu di dambakan oleh rakyat Indonesia bukan malah menjadi beban bagi setiap orang. Semoga..!! [] - 05



 
KM. Mutiara

KM. Mutiara

Baca yang seharusnya diBaca Fikir yang seharusnya diFikirkan Kerja yang seharusnya diKerjakan Kampung Medianya PMII admin @Yas Arman Al Yho Baca-Fikir-Kerja

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    26 Desember, 2014

    jika berbicara soal kebobrokan pemimpin, maka masalahnya adalah bukan dipemimpin itu saja tapi lebih kepada kita yang memilih pemimpin itu sendiri.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan