logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sejarah Berdirinya Desa Sembahulun

Sejarah Berdirinya Desa Sembahulun

Desa Sembahulun disebut juga Desa Sembalun. Sembahulun berarti Suku Sasak yang pertama mengenal dan diajarkan tauhid lewat meditasi penyatuan diri dengan

Opini/Artikel

KM. Sajang Bawak Nao
Oleh KM. Sajang Bawak Nao
18 Desember, 2014 22:31:31
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 11741 Kali

Desa Sembahulun disebut juga Desa Sembalun. Sembahulun berarti Suku Sasak yang pertama mengenal dan diajarkan tauhid lewat meditasi penyatuan diri dengan Alam Raya, sebagai konsekuesinya bahwa seorang  hamba harus patuh dan taat kepada Tuhannya,saling menghormati dengan kehidupan lainnya. Jadi, kata sembahulun berarti menyembah  kepada Tuhan Yang Maha Esa  Desa Sembahulun pada masa Pradesa didiami oleh tujuh pasang suami istri yang tinggal dan hidup secara primitip tanpa mengenal peradaban dalam mengatur kehidupan dan penghidupan kelompoknya.Keadaan alam Desa Sembalun pada masa Pradesa ini merupakan tanah Rawa – rawa yang sulit dimanfaatkan untuk sumber penghidupan penduduknya , apalagi penduduknya masih dalam alam tanpa peradaban yaitu belum mengenal cara berpakain / berbusana,bertani dan memasak makanan.

Pada masa Pradesa penduduk  yang terdiri dari 7 pasang suami istri itu tidak pernah mengalami pertambahan penduduk atau tidak pernah terjadi regenerasi penduduk.Keadaan kestatisan kependudukkan ini berlangsung berpuluh – puluh tahun tanpa ada perubahan , baik dari jumlah penduduk maupun tingkat kehidupan dan penghidupannya.Dalam keadaan kestatisan penduduk ini datang dua  pendatang yang membawa perubahan  bagi  7 pasang suami istri itu. Kedua pendatang tersebut bernama Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya.Asal dari kedua pendatang tersebut dan tahun berapa kedatangan mereka,belum ada catatan sejarah dan angka tahun yang tertulis , tetapi yang jelas bahwa kedua pendatang tersebut datang pertama kali di sekitar lokasi Lendang Guar Desa Sembalun Lawang sekarang ini. Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya mendatangi tujuh pasangan suami istri itu ketika mereka membuat gundukan tanah di atas tanah Rawa- rawa.Pembuatan gundukan tanah itu hanya dikerjakan dengan tangan sendiri  (primitip) tanpa menggunakan peralatan pertanian sebagai mana mestinya.Ketika Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya melihat dari dekat apa yang sedang dikerjakan oleh penduduk tersebut , maka Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya memanggil mereka semua untuk berkumpul guna diberikan pelajaran sebagai bekal kehidupanya di alam.Pelajaran – pelajaran yang diberikan oleh Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya di awali dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut :

“ Hai manusia : maukah kalian menjadi manusia yang beradab dengan mengenakan pakaian /busana,maukah kalian hidup di atas tanahmu ini sebagai manusia selanyaknya,dan maukah kalian menjadi manusia yang mau menyembah Tuhan sebagai penciptamu?”

Dengan serentak  7  pasangan suami istri itu menjawab sebagai tanda kesedianya menerima pelajaran yang berguna bagi diri mereka,tetapi dibalik kesedianya itu mereka masih menyangsikan kemampuan dirinya karna merasa dirinya belum pernah mengetahui peradaban manusia sebenarnya.

     Kemudian Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya melanjutkan ajarannya dengan memberikan  4 macam pegangan hidup yaitu sebagai berikut  :

  1. Kuberikan kamu adat dan agama (Islam) sebagai pegangan hidupmu
  2. Kuberikan kamu kitab ( Al-Qur’an ) sebagai pedoman adat agamamu
  3. Kuberikan kami padi ( satu ikat padi merah) sebagai makananmu
  4. Kuberikan kamu senjata untuk bertani dan membela dirimu

Selesai memberikan pelajaran tersebut ,selanjutnya Raden Harya Mangun Jaya menyiapkan tanah persawahan sebagai tempat menanam padi bagi 7 pasangan suami istri itu.Dikisahkan bahwa tanah tersebut dibuat oleh Raden Haria Mangun Jaya dengan syarat jungkatnya diputar – putarkan ke tanah( diatas tanah) ,dengan izin dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa,maka tanah sawah ini terhampar dan membentang dari Sembalun Lawang sampai  Sembalun Bumbung sekarang.Pada kesempatan itu juga ketujuh pasangan suami istri itu diberikan nama panggilan masing – masing,antara lain yang dapat disebutkan adalah Nek Islamin,Nek Ketanegara,Nek Bagia dan Nek Ratani.Dengan selesainya keempat pelajaran yang dilengkapi dengan tanah sawah luas ,Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya memberikan wejangan dan peringatan kepada 7 pasangan suami istri,yang mana wejangan / peringatan itu disampaikan oleh Raden Harya Pati yaitu sebagai berikut :

  1. Mulai saat ini tanah tempat kalian hidup ini kuberi nama SEMBAHULUN atau tanah Sembalun
  2. Kalian harus ingat dan waspada bahwa untuk waktu yang akan datang kalian pasti akan menhadapi peperangan,tetapi dalam menghadapi peperangan nanti kalian pasti mendapat bantuan atau pertolongan.

2.SEMBALUN DALAM MASA PEPERANGAN

Sebagai mana telah diingatkan oleh Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya  kepada 7 pasangan suami istri itu tentang datangnya peperangan ,maka 7 pasangan suami istri yang pada saat berikutnya sudah mengalami perkembangan jumlah penduduk (pertambahan penduduk),menghadapi 3 kali peperangan berturut – turut  yaitu sebagai berikut :

2.1 Perang Ketupat Yaitu Perang Melawan Iblis(Jin Jahat)

Dalam peperangan melawan iblis ini, penduduk tanah Sembahulun berperang mati – matian mempertahankan dirinya denga sekuat tenaga,tetapi lawan perang yang dihadapi ini adalah tentara iblis dan jin jahat yang kuat dan sukar dihancurkan.Tentara iblis itu tidak bisa dilawan dengan senjata tajam seperti parang atau pedang karena setiap kali iblis itu tertebas parang/ pedang menjadi dua atau tiga potong, maka potongan-potongannya itu akan berubah menjadi iblis-iblis yang baru dan menyerang semakin ganas lagi.

Jadi, semakin lama bergolak peperangan ini semakin berkurang jumlah penduduk tanah Sembahulun,sebaliknya jumlah tentar a iblis semakin bertambah banyak ,ini berarti bahwa penduduk tanah Sembahulun akan mengalami kepunahan.Dalam keadaan kritis ini dan sebagai janji/pesan Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya tentang akan adanya bantuan ,penduduk tanah sembahulun dibantu oleh tiga pendatang yaitu Raden Ketip Muda,Raden Sayyid  Hamzah dan Raden Patih jorong.

Ketiga penolong tersebut dengan mudah mengalahkan tentara iblis yang garang dengan bersenjatakan ketupat yang mana ketupat – ketupat yang digunakan sebagai senjata dari ketiga  penolong ini digunakan dengancara melemparkan ketupat kearah tentara iblis sebanyak 3 lemparan yaitu sebagai berikut:

-lemparan pertama pada tanggal 5 , dengan mengucapkan tanggal  5

-lemparan kedua pada tanggal 15, dengan mengucapkan tanggal 15

-lemparan ketiga pada tanggal 25, dengan mengucapkan tanggal 25

Ketika pada lemparan ketiga dilakukan ,iblis itu habis dan hilang tanpa bekas kemana perginya atau iblis itu hilang lenyap seketika itu juga.Setelah selesai peperangan Raden Ketip Muda,Raden Sayid Hamzah dan Raden Patih jorong berpesan kepada  penduduk tanah Sembahulun yang masih tersisa yaitu sebagai berikut:

-   kamu harus mengambil air setiap kali penurunan bibit /panen padi sebagai tanda kemenanganmu pada perang melawan iblis.

-   setiap tiga tahun sekali kamu harus memotong kerbau sebagai rasa syukur atas kemenanganmu menghadapi peperangan.

Kedua pesan diatas dilaksanakan dalam upacara peringatan perang ketupat yang diperingati tiga tahun sekali oleh masyarakat Desa Sembalun Lawan dan Desa Sembalun Bumbung sampai saat sekarang ini sebagai upacara adat yang dikenal dengan Upacara Adat Ngayu – Ayu.

2.2 Perang Panah Racun

Perang ketupat yang bisa diatasai oleh penduduk tanah Sembahulun atas bantuan Raden Ketip Muda,Raden Sayyid Hamzah dan Raden Patih Jorong menyebabkan hancurnya tentara iblis dan kekalahan iblis itu menyebakan balas dendam tentara iblis pada peran g berikutnya yaitu pada Perang Panah Racun.Perang Panah Racun merupakan perang pembalasan iblis atas kekalahannya  pada perang ketupat , yang mana dalam perang ini tentara iblis melancarkan serangannya dari jarak jauh karena secara langsung atau perang tanding tentara iblis sudah tidak berani lagi,karena takut menginjakkan kakinya di tanah atau Gumi Sembahulun.

Perang Panah Racun ini menyerang tanaman pertanian penduduk tanah Sembahulun ,dalam serangan itu penduduk tidak tahu apa yang haru dikerjakann karena dalam peperangan ini pihak musuh tidak menampakkan dirinya tetapi yang tampak adalah serangannya berupa racun atau hama tanaman yang di tiupkan dari jarak jauh dan dapat memusnahkan seluruh tanaman di sawah.

Dalam kesulitan menghadapi serangan racun atau hama tanaman ini , penduduk hampir berputus asa karena segala cara dan usaha tidak membawa hasil yang diharapkan malah sebaliknya penduduk mengalami krisis pangan karena hasil sawahnya tidak mendapatkan hasil sama sekali.Pada suasana sulit seperti inilah datangnya bantuan/pertolongan dari Raden Patra Guru (masih dalam kelompok  penolong sebelumnya).Raden Patra Guru memberikan petunjuk kepada penduduk tanah Sembahulun tentang bagaimana cara menghadapi serangan perang panah racun yang merusak tanaman di sawah.Petunjuk yang di berikan yaitu  dengan menggunakan obat penawar racun yang berupa air yang diperoleh dari air Timba Bau.perang panah racun bisa diatasi oleh penduduk tanah sembahulun dan secara berangsur – angsur tanaman di sawah penduduk kembali baik seperti sediakala, dan untuk memperingati kemengan ini diadakan upacara Bija Tawar.

2.3 Perang Bala

 

Baca Juga :


Perang demi perang dapat diatasi oleh penduduk tanah Sembahulun dengan gigih dan susah payah seperti Perang Ketupat yang hampir memusnahkan penduduk dan Perang Panah Racun merusak habis tanaman  penduduk tanah Sembahulun.Kemenangan   pada peperangan tersebut di bantu oleh Raden Ketip Muda,Raden Sayid Hamzah,Raden Patih Jorong dan Raden Patra Guru yang mana keempat Raden ini adalah penolong yang sama seperti Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya.Dalam Perang Bala ini ,penduduk tanah Sembahulun mengahadapi serangan wabah penyakit yang diderita oleh seluruh penduduk dan itu berarti bahwa seluruh penduduk tidak bisa melakukan segala kegiatan sehari – harinya terutama dalam mengolah sawahnya.

Perang ini merupakakan perang terberat yang dihadapi oleh penduduk karena penduduk tidak bisa saling tolong – menolong satu sama lain.Apabila perang melawan Bala ini berkepanjangan,dapat dipastikan bahwa kehidupan dan penghidupan akan kembali seperti keadaan semula yaitu hilangnya tata kehidupan penduduk dan hancurnya sumber penghidupan penduduk.Sudah menjadi urutan sejarah penduduk tanah Sembahulun harus mengalami waktu atau masa yang pahit dalam perjuangan hidupnya,dan begitu pula dengan keberhasilannya saat menghadapi perang Bala ini karena dalam perang ini penduduk tanah Sembahulun di jenguk  oleh Raden Harya Pati , Raden Harya Mangun jaya,Raden Ketip Muda,Raden Sayyid Hamzah,Raden Patih Jorong dan Raden Patra Guru.Bantuan dari  keenam Raden tersebut dapat menormalkan keadaan penduduk tanah Sembahulun dari ancaman wabah penyakit. Keenam Raden itu memberikan petunjuk, bagaimana caranya melawan perang wabah penyakit kepada setiap penduduk dengan senjata ampuh yang disebut senjata Tolak Bala yaitu berupa kalimat asma Allah : Lailahhaillah Muhammadarasulloh /Hingsun Hame Muji Hanebut Nama Ning Allah Kang Murah Hing Dunia Reko Ingkang Asih Ring Akhirat Lan Muhammad Satu Hune Utusan Allah(tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah).

Akhirnya perang melawan Bala dengan kemenangan di pihak penduduk tanah Sembahulun,maka berakhirlah tiga peperangan yang menjadi halangan,rintangan dan sekalig us menjadi ujian berat untuk menuju keberhasilan dan ketentraman lahir batin.Untuk memelihara keamanan dan ketentraman penduduk tanah Sembahulun, keenam  Raden  tersebut diatas mengajak penduduk untuk menetapkan siapa – siapa yang mampu menjaga dam memelihara keamanan dan ketentraman tanah sembahulun sesuai bidang tugasnya masing – masing.

Sebagai hasil keputusan dan atas restu Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangun Jaya maka ditunjuklah empat  dari ketujuh pasangan suami istri itu yaitu:

1.  Nek Kertanegara sebagai Prabekel yaitu pimpinan atau ketua adat yang bertugas memperhatikan dan mendengarkan kepentingan penduduk.

2.  Nek Islamin sebagai Kyai yaitu melakukan pembinaan mental sepiritual atau mengurus bidang keagamaan penduduk.

3.  Nek Bagia sebagai Pemangkku adat atau Krama desa.

4.  Nek Ratani sebagai Pande yaitu orang yang mampu memberikan pelajaran atau pengetahuan kepada penduduk ,menyiapkan atau membuat peralatan rumah tangga , pertanian dan senjata untuk perang.

Dengan selesainya pembentukan pimpinan ketua adat maka Raden Harya Pati atas nama keenam  Raden tersebut menetapkan tanah Sembahulun sebagai Desa Sembahulun yang akhirnya menjadi Desa Sembalun.Raden Haria Pati beserta kelima orang rekannya melanjutkan perjalanan kearah selatan dari Lendang Luar dan perjalanan mereka menuju ke selatan ini diikuti oleh seluruh penduduk desa yang ada pada saat itu.Selanjutnya mereka menuju ke desa tua yang sekarang disebut Desa Belek.Perjalanan mereka berakhir pada sebuah tempat yaitu sebelah selatan masjid Nurul Palah Sembalun Bumbung sekarang.

Setibanya ditempat terakhir itu (tempat berakhir perjalanan mereka ) maka dengan seketika keenam Raden ini hilang lenyap tampa meninggalkan jejak kemana mereka pergi yang menyebabkan penduduk yang mengikutinya pada saat itu heran mengalami keajaiban tersebut dan sebagai peringatan untuk mengenang tempat hilangnya keenam  Raden selaku penolong maka dibangunlah sebuah langgar yang berlokasi  tepat disebelah selatan Masjid Nurul Palah. Bangunan langgar itu sudah tidak ada karena dimusnahkan oleh bencana kebakaran kurang lebih  45 tahun yang lalu.Setelah keadaan Desa Sembalun berkembang secara wajar dibawah pimpinan empat Nek tersebut diatas (kata Nek berarti orang yang dianggap tua)maka tiga  Nek yang lain turun kedaerah bawah untuk mengembangkan generasinya antara lain  ke Banjar Getas  (wanasaba), Selaparang,Praya dan desa – desa lain di pulau Lombok.

3.Terbentuknya Pemerintahan Desa Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang

Dari sejarah berdirinya desan Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang yang dimulai dari istilah tanah Sembahulun sebagai masa terakhir adanya suatu bentuk pemerintahan desa yang masih sederhana yaitu berupa Prabekel ,Kyai,Pemangku dan Pande di perkirakan berdirinya  pada tahun 1428 dengan susunan pemerintahannya sebagai berikut:

-    Nek Kertanegara menjabat sebagai Prabekel yaitu jabatan setingkat dengan Ketua Adat / Pimpinan Adat atau Kepala Desa pada saat itu Prabekel dibantu oleh perangkat – prangkatnya yaitu Kyai/Penghulu,pemangku dan Pande.

-    Nek islamin menjabat sebagai Kyai/Penghulu atau Pemuka Agama /Pimpinan Bidang Agama

-    Nek Bagia menjabat sebagai Pemangku yaitu menjaga dan memelihara keamanan ,ketentraman , kesejahteraan dan kemakmuran desa.

-    Nek Ratani  menjabat sebagai Pande yaitu menyiapkan atau membuat  peralatan rumah tangga ,peralatan pertanian seperti pacul,alat baja dan ala/senjata untuk membela diri seperti pedang ,parang dan sebagainya.

Maka masa pemerintahan ini berlangsung ratusan tahun( di hitung dari sejak berdirinya pada  tahun 1428) atau secara regenerasi dari pada bentuk pemerintahan ini berlangsung sampai dengan  4 generasi atau generasi keempat. Setelah regenerasi pemerintahan sampai pada generasi keempat  maka lahirlah pemerintahan Desa sembalun bumbung yang lebih sempurna  dari bentuk pemerintahan sebelumnya dan pemerintahan Desa Sembalun Bumbung  diperkirakan berdirinya  pada tahun 1855.

Sejak berdirinya pemerintahan Desa Sembalun Bumbung pada tahun 1855 sampai sekarang  sudah terjadi 13 (Tiga Belas) kali pergantian Kepala Desa Sembalun Bumbung yaitu sebagai berikut

  1. Pe Darmasih                                    : Tahun 1855 – 1858
  2. Pe Sumenep                                     : Tahun 1858 – 1888
  3. Pe Sairah                                          : Tahun 1888 – 1915
  4. Pe Darwisah                                     : Tahun 1915 – 1925
  5. Pe Darmenep                                   : Tahun 1925 – 1954
  6. Pe Darmeti                                      : Tahun 1954 – 1959
  7. Pe Maringgih                                   : Tahun 1959 – 1961
  8. Pe Rumedi                                       : Tahun 1961 – 1965
  9. Pe Seriaksa (H.Nurahsan )               : Tahun 1965 – 1968
  10. Seriaksa                                           : Tahun 1968 – 1974
  11. H.Rumedi Surnipa                            : Tahun 1974 – 1997
  12. H.Muh.Kartip SH,                             : Tahun 1997 – 2005
  13. Supdi                                                : Tahun 2005 – sampai sekarang

Sedangkan pemerintahan Desa Sembalun Lawang  yaitu sebagai berikut:

  1. Pe Nawinih
  2. Pe Milamsyah
  3. Pe Nawirih
  4. H.Mustiadi NH,
  5. Ust.ABD.Rahman
  6. H.Idris

Sedangkan pemerintahan desa sajang adalah sebagai berikut:

  1. Pe Rumihin
  2. Pe Indrajati
  3. A.Nil
  4. H.Tarmizi
  5. Srimawan.
  6. H. L. Kanahan

Sedangkan pemerintah Desa Bilok Petung Sebagai berikut :

  1. Jadi Wrdian, S. Pd.

_ By_ Hajrul Azmi ( Azmi Bolang Rinjari )  01



 
KM. Sajang Bawak Nao

KM. Sajang Bawak Nao

Nama: Hajrul Azmi TTL : Bawak Nao, 12 Desember 1991 Alamat: Bawak Nao Desa Sajang Kecamatan Sembalun Pekerjaan : Swasta Tempat Kerja: SMK NW Kokok Putik No HP. 083129302602 087763391798

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan