logoblog

Cari

Jakarta Tidak Seindah Yang Kau Bayangkan

Jakarta Tidak Seindah Yang Kau Bayangkan

Kita semua pasti sering mendengar nama Jakarta yang merupakan ibu kota Negara Kesastuan Republik Indonesia ini. Kita juga tentunya sudah mengenal

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
22 Oktober, 2014 06:56:57
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 17033 Kali

Kita semua pasti sering mendengar nama Jakarta yang merupakan ibu kota Negara Kesastuan Republik Indonesia ini. Kita juga tentunya sudah mengenal Jakarta, terutama dari media televise dan sebagainya. Banyak orang yang bermimpi dan becita-cita untuk dating dan bahkan bertempat tinggal atau mencari penghidupan di kota Jakarta.

Sebagian besar orang menghayalkan bahwa hidup di Ibu Kota (Jakarta) sangatlah indah, hidup di kota Jakarta sangatlah nyaman, dan sebagainya. Pokok-nya banyak orang yang berpersepsi bahwa hidup di Jakarta adalah hidup yang ideal. Bagaimana tidak, setiap harinya kita dihipnotis oleh tayangan-tayangan televise yang sebagian besarnya dipokuskan di kota Jakarta. Selebritis-selebritis tersohor juga banyak terdapat di Jakarta. Belum lagi gedung-gedung tinggi menjulang yang meraut mimpi setiap orang untuk berbondong-bondong mendatangi kota ini.

Itu adalah fatamorgana kwan, memang jika dilihat dengan mata telanjang maka kita akan terhipnotis dan larut dalam hayalan indah dan nyamannya hidup di Jakarta. Namun jika diperhatikan dengan seksama dan diadakan observasi dengan seksama pula maka kelihatanlah bagaimana keadaan Jakarta yang sebenarnya.

Gedung mewah yang menjilat langit hanyalah milik orang basah, miliknya orang-orang asing yang bermodal besar, milik para konglomerat yang uangnya sudah tidak tau harus digunakan untuk apa. Sedangkan penduduk asli Jakarta sebagian besar hidup pada perkampungan yang kumuh, padat dan semerawut. Perkampungan mereka berada di antara gedung-gedung tinggi milik segelintir orang basah.

Kehidupan di Jakarta itu keras kawan kata seorang pedagang asongan yang mangkal di depan BII Tinance Center Mangga Dua Jakarta. Laki-laki setengah baya itu juga menceritakan bahwa hidup di Jakarta cukup sulit, jika kita tidak memiliki keahlian/keterampilan dan tidak mau bekerja keras maka kita akan digilas. Persaingan hidup sangatlah tinggi dan lapangan kerja sudah menyempit. Pokoknya susah mas, kalo mas pengen hidup enak di sini, mah mas harus jadi artis dulu baru bisa nikmatin yang namanya bahagia hidup di Jakarta, Pungkas Pak Sutikno.

Heheeheeee,,, ternyata emang betul kawan. Hidup di Jakarta itu susah, kenapa saya mengatakan demikian ?, ketika para peserta BINTEKS RKB APBN 2014 mulai verifikasi berkas ternyata sebagian peserta harus merevisi proposal RKB yang mereka siapin dari rumah masing-masing. Untuk mendapatkan bantuan RKB tersebut maka mereka harus memperbaiki/revisi berkas-berkas yang salah. Nah saat semua berkas sudah di revisi tinggallah pencetakan (prin out) berkas.

Wadduhhhhhhhhhhh, susahnya cari tempat ngeprin bahkan. Para peserta mulai gelagapan sebab jika berkas-berkas mereka tidak dilengkapi maka mereka tidak dapat menandatangani MOU Bansos RKB. Ahirnya para peserta berhamburan mencari tempat untuk mencetak dokumen masing-masing. Namun di sekitar Mangga Dua, tempat percetak jarang sekali ditemukan.

Kenyataan ini kemudian membuat sebagian besar peserta BINTEKS RKB APBN 2014 gelombang ke-7 mengatakan bahwa “Hidup di Jakarta Susah”. Bagaimana tidak, di daerah kita saja tempat percetakan dapat kita temukan di mana-man kata Pak Harus Abdullah (Peserta dari Rembang Jateng). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bapak Zulkarnai (Peserta dari Kota Mataram-NTB) dan puluhan orang peserta binteks yang berasal dari berbagai daerah.

 

Baca Juga :


Setelah semua peserta kebingungan, barulah mereka mengetahui bahwa Reservation Ibis ternyata menyediakan pelayanan jasa prin out melalui Email. Setelah mengetahui hal itu, para peserta berbondong-bondong mengirim data yang akan mereka print ke email yang telah disediakan pada baagian Resepsionis.

Lagi-lagi para pserta mengatakan bahwa “Hidup di Jakarta itu Memang Susah”. Bagaimana tidak, untuk satu lembar berkas yang diprin out harus dibayar dengan harga Rp. 5.000 dan 1 lembar potcopyaan dibayar dengan harga Rp.2.2500, padahal di kampung halaman kita (di NTB) biaya print out satu lembar berkas hanya Rp. 250 dan satu lembar potocopyan dihargakan Rp. 100. Namun apa boleh, tai kambing bulat-bulat. Jika berkas itu tidak di cetak maka bisa jadi si peserta Binteks tidak jadi diberikan untuk menandatangani MOU Bansos RKB  tahun 2014 yang menyebabkan mereka harus dating ke Jakarta. Ooeeee, oeeeee, IBIS dapat untung besar donk… heheeee Kesempatan dalam Kesempitan broooo.

Dari gambaran di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa hidup di Jakarta tidak seindah yang dibayangkan. Hidup di Jakarta itu keras, susah, polusi, bising, tatanan perkampungan warga yang semerawut dan sempit serta suasananya juga cukup panas (maklumlah ga ada lahan hijau). Untuk itu bersyukurlah kita yang hidup di daerah pedesaan. Setiap hari kita dapat menghirup udara segar tanpa polusi yang begitu berarti, hidup kita nyaman tanpa kebisingan yang begitu menusuk lubang telinga. Bersyukurlah pula Allah telah menitip kita di tanah kelahiran masing-masing, lebih-lebih kita yang hidup di wilayah NTB yang umumnya masih memelihara rasa kekeluargaan dan memiliki lahan hijau yang sangaat luas.

Warga Kampung Media yang kami cintai, janganlah kita terlalu bermimpi untuk hidup dan mencari napkah di Kota Jakarta sebab di kampong halaman kita masih banyak pekerjaan yang dapat kita kerjakan, masih banyak tanah pertanian yang perlu kita garap, dan masih banyaak lapangan kerja lainnnya yang dapat kita tekuni. Boleh saja kita berkeinginan untuk berwisata ke Kota Jakarta, tapi janganlah bermimpi untuk hidup menetap di Jakarta jika nada tidak punya kompetensi/keahlian/dan atau keterampilan yang memadai. [] - 01

_Asri ASA_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan