logoblog

Cari

IKIP Mataram Bukan Kampus Pencetak Seniman “Gendang Beleq”

IKIP Mataram Bukan Kampus Pencetak Seniman “Gendang Beleq”

Terkait dengan TIM Gedang Beleq yang terdiri dari 35 personil yang melibatkan unsur Mahasiswa, Dosen, serta Satpam ini, dimana kabag humas

Opini/Artikel

KM Sahabat Mataram
Oleh KM Sahabat Mataram
10 September, 2014 22:57:13
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 24973 Kali

Terkait dengan TIM Gedang Beleq yang terdiri dari 35 personil yang melibatkan unsur Mahasiswa, Dosen, serta Satpam ini, dimana kabag humas IKIP Mataram, Isma’il Marzuki, SH, MH menyebutkan bahwa TIM Gendang Beleq IKIP Mataram sejauh ini telah beberapa kali tampil, diantaranya pada Tahun 2013 lalu ia pernah tampil lewat festival kesenian Bali. Lebih lanjut, Isma’il juga menjelaskan bahwa kedepan ini Tim Gendang Beleq IKIP Mataram juga akan tampil di acara festival senggigi (Koran suara ntb, Rabu,10/10/14).

Krisisnya dunia pendidikan yang disebabkan oleh Guru yang selama dinilai tidak professional dalam menjalankan tugas belajar mengajar pada setiap sekolah adalah sejatinya menjadi bahan evaluasi bagi kampus kegururan seperti IKIP Mataram.

Menurut penulis, kampus IKIP Mataram harus tetap menjadi Kampus kebanggaan dari semua sekolah yang ada di NTB, sebab IKIP merupakan kampus tertua di daerah ini yang secara otomatis pula telah banyak mencetak guru sampai dengan saat ini.

Jika pada hari selasa 09/09/14 Mahasiswa dan tenaga pendidik serta satuan pengamanan kampus sedang berlatih memainkan alat kesenian “gedang beleq”, yakni salah satu kesenian tradisional  yang terdapat di pulau Lombok, maka hal tersebut dinilai keliru oleh sejumlah mahasiswa IKIP sendiri yang tergabung di PMII. Sahabat Yas Arman selaku Ketua Komisariat PMII IKIP Mataram menilai bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang keliru, sebab IKIP bukanlah kampus para Mahasiswa seniman. Menurut dia, IKIP Mataram seharusnya konsen memikirkan perkembangan pendidikan, “jangan intervensi pada pada bidang seni atau lainnya”. Jelasnya.

 

Baca Juga :


Kegiatan yang langsung dikoordinir oleh lembaga melalui birokrasi di dalamnya, Yas arman yang akrab di sapa Eyo ini juga mengklaim kegiatan tersebut akan menghabiskan biaya semata manakala peralatan kesenian tersebut dibeli atau disewa tentu membutuhkan biaya yang lumayan “gede” dan tidak menguntungkan bagi Mahasiswa. Bayangkan jika biaya pengadaan dari peralatan tersebut kemudian dialihkan atau dipungsikan sesuai dengan baeground IKIP sendiri sebagai kampus pencetak guru, yakni sebut saja kegiatan pelatihan kurikulum, dan juga kegiatan lain, khususnya menyangkut peroalan peningkatan profesionalisme guru, maka barangkali ini lebih efektif daripada harus melatih Mahasiswa agar mahir memainkan gendang beleq. Selanjutnya, Kampus IKIP tentu menjadi kampus harapan semua sekolah agar ia mampu mencetak guru yang professional, guru yang handal, bertanggung jawab, serta guru yang memiliki tingkat loyalitas tinggi dalam mengembangkan kualitas pendidikan nasional kedepannya. 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan