logoblog

Cari

Tutup Iklan

(Kenapa) Saya Ada di Lombok

(Kenapa) Saya Ada di Lombok

Kalau boleh saya ingin berkenalan sejenak, kalau tidak boleh ya saya akan tetap mengenalkan diri. Saya Rio Lagoa, pria kelahiran Jakarta

Opini/Artikel

Rio Lagoa
Oleh Rio Lagoa
30 Agustus, 2014 11:12:34
Opini/Artikel
Komentar: 11
Dibaca: 8110 Kali

Kalau boleh saya ingin berkenalan sejenak, kalau tidak boleh ya saya akan tetap mengenalkan diri. Saya Rio Lagoa, pria kelahiran Jakarta beberapa tahun silam. Yang jelas usia saya lebih muda dari Fir’aun. Sampai disini saja saya bisa memperkenalkan diri, karena kalau terlalu jauh saya memperkenalkan diri saya, tulisan ini tidak ada relevansinya dengan judul.

Pagi tadi ada penggembala sapi di sekitar tempat tinggal saya di Desa Kebon Bawak, Batu Layar Lombok Barat. Oh iya, saya tinggal di sini itu karena ada orang yang dengan ikhlas rumahnya saya tinggali, karena saya bayar kontrak rumahnya per-bulan. Genap dua bulan saya tinggal di pemukiman desa Kebon Bawak yang penduduknya sangat ramah dan mereka semua manusia. Walaupun saya belum berkenalan dengan satu per-satu warga desa, tapi mereka selalu memberikan senyum dalam setiap perjalanan saya menuju tempat kerja (itulah hebatnya manusia).

Beberapa anak-anak kecil yang setiap pagi beraktifitas juga dengan setia menyambut saya. Pernah suatu hari saya berpakaian layaknya prajurit yang mau berangkat ke medan perang. Dengan baju serba hitam, topi rimba, kaca mata dan tubuh saya yang memang menyerupai sapi, membuat anak-anak desa ketakutan hingga mereka berlari masuk ke rumah masing-masing. Setelah saya tiba di kantor, ada rekan saya memberi kode dengan kedipan mata ke arah seleting celana saya yang terbuka lebar. Hampir saja “burung kecepret” saya terbang dari sarangnya. Ah, menurut saya cerita tadi kurang layak disimak. Baiklah, saya mau cerita soal penggembala sapi tadi.

Namanya Pak An, nama lengkapnya saya kurang tahu, karena saya tidak bertanya. Pak An ini awalnya tersenyum dan mengatakan sepatah kata pada saya “Gedeng side lek mbe,” katanya begitu, kalau ejaannya salah maklum saja ya. Dan saya menjawab dengan bahasa Indonesia “Oh di sana pak,” sambil menunjukkan posisi rumah kontrakan saya, tentunya saya tunjuk dengan jari telunjuk tangan kanan. Dan ternyata jawaban saya sesuai dengan pertanyaan Pak An. Saya tahu bahwa jawaban saya itu sesuai dengan pertanyaan Pak An setelah saya bilang ke Pak An kalau saya tidak bisa bahasa Lombok, akhirnya Pak An bertanya dengan bahasa Indonesia yang bunyinya “rumah kamu dimana,” gitu katanya.

Akhirnya kami berdua ngobrol. Inti dari obrolan saya dengan Pak An adalah, Pak An berpesan kepada saya kalau di desa ini (Kebon Bawak) ada tata kerama, ada norma kesopanan yang harus dijaga dan harus dipatuhi. Sejenak saya berpikir dan introspeksi diri “Apa kesalahan saya?” hingga seorang Pak An, yang notabene baru saya kenal tiba-tiba mengingatkan saya. Nah, satu hal lagi yang saya kagumi dari warga desa seperti Pak An. Ada rasa ingin mengingatkan. Mungkin karena salah satu sifat manusia adalah pelupa, maka manusia memang perlu diingatkan melalui media-media yang tidak disadari.

Orang-orang seperti Pak An tidak pernah saya temui di lingkungan tempat tinggal saya di Jakarta. Se-umur hidup saya orang yang paling sering mengingatkan saya adalah Ibu kandung saya. Yah, bicara soal Ibu, saya jadi teringat pertama kali saya bilang ke Ibu kalau saya mau menetap di Lombok. Saya mau ceritakan hal itu dalam tulisan ini. Kalau pembaca merasa bosan sampai di sini, silahkan tutup saja tulisan ini, tapi cari tulisan lain yang lebih bermanfaat yang ada di KM ini.

Baiklah saya anggap pembaca mau membaca tulisan saya. Terima kasih sebelumnya. Jadi begini, pertama kali saya menginjakkan kaki di Lombok sekitar pertengahan April 2014. Kalau saya tidak salah, saya datang pada tanggal 11 April 2014 pukul 15.45 WIT. Saya pasti benar, karena saya baru lihat tiket pesawat yang masih saya simpan.

Setibanya di BIL (Bandara International Lombok) saya sudah tidak sabar untuk ketemu dengan dua orang penting yang akan saya temui. Pertama kawan saya yang memanggil saya ke Lombok, namanya Lalu Husaini Perdhana (warga Kopang), dan orang penting kedua adalah Fairuz yang biasa dipanggil Abu Macel.

Awalnya saya pikir usianya Fairuz tidak berbeda jauh dari saya, makanya lewat telepon/sms saya hanya memanggil beliau “bang”. Ternyata yang namanya Fairuz sudah tua tapi tidak pernah mengaku dirinya tua.

 

Baca Juga :


Sebelum saya lanjutkan cerita ini, saya mau minta maaf kepada Bapak Fairuz “Abu Macel”. Mudah-mudahan tulisan ini tak membuatnya marah tapi sebaliknya, tulisan ini malah membuatnya tersenyum. Karena jujur saja, senyuman Abu Macel senyuman yang penuh kehangatan buat saya.

Kembali ke topik. Saya melihat sosok Ibu adalah sebagai jiwa saya, Ibu buat saya bagaikan Negara yang selalu setia dan tabah memelihara anaknya yang nakal. Dari Ibu saya mengenal kasih sayang walaupun saya tidak bisa merumuskannya, tapi itu yang selalu saya inginkan, dari Ibu saya jadi ingin tahu kenapa laki-laki dan perempuan berbeda, dan dari Ibu pula saya mempikan perdamaian meski kadang ada hasrat untuk menghancurkan.

Saat saya sombong, Ibu selalu mengingatkan melalui bahasa hati, saat saya lemah, hati Ibu selalu mendorong saya untuk berdiri. Dan terakhir, atas restu dari Ibu saya berangkat dari Kota Jakarta yang penuh kemunafikan, untuk pergi ke desa yang penuh dengan kedamaian dan senyum. Itulah mengapa saya optimis sekarang saya ada di NTB. Bukan karena di NTB punya ladang bisnis yang masih luas, juga bukan karena di NTB ini saya mendapat gaji yang besar. Tapi NTB memiliki senyuman yang hangat, airnya segar di pagi hari, matahari terbit dengan membawa cahaya kejujuran dan terbenam membawa keindahan.

Desir ombak di semenanjung pantai memberikan angin segar, dan satu hal lagi, aroma kotoran kuda dan sapi membuat saya semakin betah ada di NTB. Bila mengutip kata-kata dari Abu Macel saat ini saya sedang “tersesat di jalan yang benar”. Entah kenapa NTB, khususnya Lombok karena saya tinggal di pulau ini, bisa membuat saya melupakan sejenak tentang ‘rupiah’.

Di Lombok saya bertemu dengan beberapa orang-orang yang kreatif dengan pola pikir yang inovatif, tidak kalah dengan pola pikir warga Kota. Ada beberapa kreator-kreator muda yang patut dibanggakan dan apresiasi oleh warga di NTB.

Ada si A yang fokus mengembangkan seni musik, khususnya perkusi hingga menjadi sebuah pagelaran tahunan bernama Lombok Begending dan dimasukkan ke dalam ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Kemudian ada si B yang berkarya melalui jalur film dengan menelurkan karyanya yang berjudul “Jangan Datang ke Lombok Nanti Ngga mau Pulang,” dan judul film ini yang membuat saya sadar,.kenapa saya ada di Lombok? Ya, karena saya ngga mau pulang. RL [] - 05



 

Artikel Terkait

11 KOMENTAR

  1. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    25 Januari, 2015

    saya berada di lombok pada 10 tahun lalu. Sebuah perguruan tinggi swasta dari lombok timur sangat membutuhkan magister pendidikan sosiologi. Karena tanpa ada ijazah s2 mgister pendidikan sosiologi, jurusan pandidikan sosiologi di PTS tersebut tak bisa keluar surat izin operasionalnya. Sudah ada mahasiswa yang belajar pada jurusani. namun belum resmi. Hingga saya terjaring di makassar oleh PTs tersebut untuk di bawa ke lombok.Segalanya saya difasilitasi waktu itu yang penting aku ke lombok menyelamatkan jurusan itu. Sayang, setelah PTS itu sudah berjaya, saya diberhentikan tanpa alasan. Hingga saya tak tau diri dan tak arah jalan lagi. Tapi saya tetap bertahan di pulau ini. Sekali layar terkembang takkan biduk akan menepi di pinggir pantai.


  • km. pade angen pujut

    km. pade angen pujut

    01 September, 2014

    Hahahaahaa...... asli ngakak aq mas yo baca ini..... kbayang mukanya mas yo kalo lg serius nulis ginian.. pasti betah dunk tinggal d sini....


  • KM. Sanggicu Dompu

    KM. Sanggicu Dompu

    30 Agustus, 2014

    selamat datang di pulau Lombok pastinya Propinsi NTB


  • KM Kaula

    KM Kaula

    30 Agustus, 2014

    apresiasi setingi-tinginya buat bang Rio, yang telah memberi kuliah secara tidak langsung tentang cara-cara penulisan gaya jurnalisme warga. kami butuh tulisan-tulisan bang Rio seperti ini sebagai media tempat saya belajar. maaf saya tidak berani mengatakan "kami" dalam hal ini karena, teman-teman lain tidak perlu belajar seperti saya. karena mereka sudah pada mahir, hanya saya yang masih ketinggalan kereta, maklum dari desa sangat terpencil sehingga kesempatan untuk belajar jadi sedikit terbatas.


  • KM. RENGGANIS

    KM. RENGGANIS

    30 Agustus, 2014

    Pertama saya mengucapkan SELAMAT DATANG DI LOMBOK yang semua masyarakatnya masih memegang adat ketimurannya, itu masyarakat Lombok, contoh kecil bila anda lewat depan rumah seseorang, pasti anda ditawarin "Mampir dulu Pak, kita ngopi" padahal belum tentu kopinya ada, itulah masyarakat Lombok, lain lagi dengan keindahan Alam dan kemolekan penduduknya yang selalu menampilkan tata krama dan sopan santunnya, ANDA TIDAK AKAN PERNAH KECEWA UNTUK MENGENAL LOMBOK DAN MASYARAKATNYA SERTA ALAMNYA


  • KM. Gerbang Pakar

    KM. Gerbang Pakar

    30 Agustus, 2014

    Selamat datang di NTB khususnya di Lombok, Masih banyak cerita-cerita yang ada dimasyarakat lombok yang perlu digali, Kami Tunggu kunjungan Bang Rio ke Lokasi kami.. itu pun klo berkenan, Insyaallah akan merasa betah,..


  • H. Musleh

    H. Musleh

    30 Agustus, 2014

    Assalamu alaikum Mas Rio .... kami bangga jika daerah kami dipuji dengan kesopanannya tapi kami juga sadar bahwa saat ini sudah banyak tegur sapa yang hilang dari desa kami. Mas Rio boleh mengkritik kami insya Allah kami tidak marah seperti daerah lain.


  • KM. Layarstone

    KM. Layarstone

    30 Agustus, 2014

    Itulah hebatnya Lombok. Dibanding daerah yang lain, budaya-tradisi kuat masih bisa ditemukan di Lombok. Aplgi Batu Layar, icon Pariwisata NTB yang begitu memikat. Orang arab mengatakan, Lombok merupakan surganya orang Indonesia...


  • KM. Lingsar

    KM. Lingsar

    30 Agustus, 2014

    Pertama saya ingin mengucapkan Selamat Datang........ mudah mudahan Lombok memberikan kenyamanan dan kedamaian, yang Kedua, saya menyampaikan ucapan Maaf atas ketidak nyamanan abang akan bau kotoran sapi tersebut, yang ketiga jangan kapok karena sebentar lagi sapi itupun akan dijual pemiliknya, salam dari Kampung.........


  • Abu Macel

    Abu Macel

    30 Agustus, 2014

    Hahahahaha..... Mantap Rioooo....... Banyak yang MUDA DI USIA tapi BOROS DI WAJAH......


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan