logoblog

Cari

Semoga Kalian Tidak ...!!!

Semoga Kalian Tidak ...!!!

Entah berapa kali aku berjumpa dengan Ramadhan. Entah berapa kali pula aku meninggalkannya. Sekian kali aku bertemu Ramadhan, sekian kali pula

Opini/Artikel

Abu Macel
Oleh Abu Macel
14 Juli, 2014 14:35:58
Opini/Artikel
Komentar: 3
Dibaca: 9276 Kali

Entah berapa kali aku berjumpa dengan Ramadhan. Entah berapa kali pula aku meninggalkannya. Sekian kali aku bertemu Ramadhan, sekian kali pula ku ramaikan masjid dan musholla. Sekian kali pula ayat suciMU dilantunkan dengan pengeras suara sepanjang malam.

Suasana yang menyejukkan, meneduhkan, menggetarkan hati dan menambah keimanan ….wajilat qulubuhum waiza tuliyat ‘alaihim ayaatuhu zaadathum imaana… (Qala Allah)

Tak terbayang manakala hati yang bergetar saat mendengar ayat Tuhan diperdengarkan, akan menggetarkan pula semangatku untuk tak melakukan kesalahan berikutnya pada peristiwa yang sama disebelas bulan kemudian.

Voltage energy kekuatan Qur’an seolah merontokkan bintang gemintang dari tangkainya. memenuhi angkasa kampungku yang akan membawanya kedalam qalbuku setelah prosesi menahan diri sebulan penuh. Dengan begitu aku akan menahan diri pula usai Ramadhan disetiap sepak terjang pergaulan sosial yang bermuara pada kedamaian antar sesama.

Para penceramah, muballigh, khatib dan sebagainya ber fastabikul khairat mengabarkan bahwa aku diberikan kasih sayangNya, ampunanNya dan terhindar dari api nerakaNya selama menikmati rasa lapar, rasa haus dan keinginan untuk tak bermesraan dengan isteri disiang hari pada sepuluh haru pertama, kedua dan sepuluh hari terahir.

Beragam thema dituliskan dan disuarakan oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk itu. Mulai dari bulan penuh ampunan, bulan introspeksi, bulan barokah, bulan kasih sayang, bulan seribu bulan, bulan melatih kepekaan sosial, serta bulan-bulan lainnya yang tak mungkin bisa ditulis di ruang terbatas ini.

Namun adakah jaminan aku sudah faham? Adakah peningkatan penghayatan dari proses permenungan selama menahan diri? Apakah gerak sosial Ramadhanku masih jalan ditempat? Adakah aku makin peduli sesama? Adakah aku masih suka saling mencaci lagi? Apakah aku tak menjadikan buruk sangka sebagai pedomanku sepanjang tahun?

Adakah disepuluh hari terahir kejahatan dikampungku tak meningkat meski pintu neraka ditutup? Adakah ruang didalam hati dan pikiranku untuk sesekali bertanya, bahwa yang salah bukan hanya mereka, tetapi juga aku? Adakah tindakan dan ucapanku tak lagi mencederai perasan saudaraku sesama? Adakah aku tak lagi merasa benar sendiri, yang lainnya kafir dan hanya aku yang suci sehingga berhak atas syorgaNya?

Begitulah pertanyaan yang meluncur dibenakku menjawab apa yang kulihat dihadapanku setiap usai Ramadahan sepanjang tahun. Ketika datang sang Ramadhan kuramaikan masjid dan musholla. Ketika Ramadhan pergi akupun ikut meninggalkan masjid dan musholla. Ketika datang Ramadhan aku seolah menjadi orang bijak dan dermawan, setelah Ramadhan berlalu si bijak dan si dermawanpun  ikut berlalu.

Datang dan perginya Ramadhan telah kurasakan setiap tahunnya. Laksana seorang tamu yang hendak mengunjungi rumah, akupun punya cara yang beda menyambutnya.

Jika yang datang adalah Gubernur atau Walikota, aku akan sangat bangga menerimanya dengan segala persiapan yang diatur sedemikian rupa, hingga suasana pemuliaan itu akan sangat sesuai dengan anjuran untuk  ikromudldlaif  – memuliakan tamu.

Namun ketika sang Ramadhan tiba, aku hanya sibuk mengirim ucapan melalui facebook, twitter, sms, bbm, spanduk, poster dan baliho. Sehingga seseorang yang kebetulan bernama Pak Ramadhan dan Pak Marhaban terheran-heran menyaksikan namanya dipampang disetiap sudut kota dan dijadikan thema ucapan.

“Kok orang kota tau ya, kalau kita akan datang?” kata Pak Ramedan pada Pak Marhaban saat hendak membeli sirop di pusat pertokoan.

Begitupula disaat aku diminta mengatur media. Akupun lantas mempersiapkan strategi yang membuat semua pendengar dan pemirsa terpesona. Sebab aku sadar, media kan ruang industri. Maka tak mungkin setiap acara tak beroleh keuntungan. Tak mungkin setiap menit tak bernilai rupiah. Bahkan azan maghrib pun kumanfaatkan untuk iklan.

Lantas aku mendekati mereka yang gemar tampil dan bersuara. Ku rayu mereka dengan alasan memempertahankan posisi jabatan dan suara di pemilukada. Kemudian semua berbondong menjadi orang bijak saat aku mendengar radio jelang azan Maghrib dan Imsak. Ada yang mengucapkan selamat berbuka dengan gaya deklamasi seperti seorang anak kecil yang ikut lomba maulidan di masjid kampung.

 

Baca Juga :


Ini menunjukkan radio itu tak punya standar, tak punya editor. Karenanya, tahun depan aku akan kapling 1 menit untuk seorang kawan yang sedang berada di penjara untuk mnyampaikan selamat berbuka puasa dengan kalimat seperti ini: “Saya Abu Mardut, penghuni penjara kamar 09 menyampaikan permohonan maaf atas kejahatan yang saya lakukan. Saya memang jahat tapi bukan berarti diluar tembok penjara baik semua, selamat berbuka puasa, semoga dosa kita diampuni.”

Di televisipun demikian, aku akan cari artis yang bisa ceramah dan penceramah yang bisa jadi artis. Ini keuntungan ganda yang diraup dalam Ramadhan. Inilah barokah Ramadhan. Tuhan memang sedang berpihak denganku.

Aku akan membuat acara baca Qur’an disertai kuis jutaan rupiah. Kubuat juga acara yang terkesan membantu kaum miskin, kuperintahkan pembawa acaranya untuk mempertontonkan uang seratusan ribu yang dihitung hingga jutaan rupiah didepan moncong kamera. Kemudian si miskinpun pasti terharu menangis bercucuran air mata. Aku dinilai sukses megelola acara. Semua produk akan mempercayakan penayangangan iklannya diacaraku dengan menjual saudaraku yang mememelas itu.

Dan ingat, disetiap acaraku di Teve akan kuperinthkan semua pelaku acara, pengisi acara dan seluruh crew bahkan sopir dan juru masak untuk pake gamis atau baju koko, kerudung dan sorban. Agar acaraku terkesan religius. Padahal Gamis pakaian orang Arab, Padahal baju koko dan topi bundar putih itu banyak digunakan orang Cina. Lantas mana pakaian Muslim Indonesia? Muslim Sumatra? Muslim Jawa? Muslim Lombok? Muslim Samawa Mbojo dan linnya?

Coba perhatikan Maher Zain, penyanyi keturunan Lebanon kemudian mengembangkan karirnya di Swedia dan kini tinggal di Amerika. Datang beberpa kali ke Indonesia dan dinobatkan sebagai penyanyi Religius Internasional. Dia tampil sederhana dengan celana Jeans, baju putih yang dibalut Jas dan mengenakan topi pet. Tanpa harus merubah dirinya dengan pakaian Arab dia tetap penyanyi religius.

Tak lupa juga disiang hari selama Ramadhan aku sajikan acara dengan mengemas menu makanan yang menggugah selera. Tentu pembawa acaranya sudah pasti cantik dan berjilbab, meski usai ramadhan dia pake celana pendek dan tank top. Iklan yang mendukungnya pasti banyak, meski tak nyambung dengan materi acara, seperti iklan sabun yang memperlihatkan sebagian tubuhnya terkena busa sabun sambil senyum dan lirikan mata menggoda.

Kalau ada yang protes, akan aku carikan para cendekia untuk memberikan argument yang logis dan diterima akal. Bahkan aku akan meminta ormas untuk berdemo menolak acara jenis itu agar rating acaraku bisa didongkrak. Inilah strategi media kapitalis yang kuimpikan itu.

Soal puasa? Ah ini soal sepele. Aku sudah terlatih untuk mempertontonkan caraku beragama yang dapat memukau semua orang. Toh juga semangat bernegara sudah merasuki semangat beragamaku. Jadi mereka pasti tau dong bagaimana mengemas agama dalam etalase modern seperti ini.

Dalam soal puasa, aku sih hanya mengubah jadwal makan minum dan istirahat saja. Ketika haus dan lapar terasa, aku seolah sadar dan sudah merasakan penderitaan si miskin yang melarat itu. Bagiku ini akan membuatku kelak memiliki kepekaan sosial, seperti kebanyakan pemahaman banyak orang tentang puasa, seolah puasa hanya untuk si miskin. Padahal kan kepada orang beriman. Mau miskin kek, mau kaya kek yang penting beriman so pasti wajib puasa.

Dan sekarang, aku sudah semakin pintar. Paling tidak, semakin pintar berdalih. Berkelahi demi kebenaran dan harga diri. Menipu demi keselamatan perut anak istri. Mencaci demi pendidikan yang dianggap bermutu. Berbuat semaunya demi kebebasan, kemerdekaan dan demokrasi. Tak berbuat demi ketentraman rasa aman pribadi. Membiarkan kemungkaran demi perdamaian.

Biarlah hanya aku yang demikian, kalian tidak… []

 



 

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

  1. KM. Al_Bajuri

    KM. Al_Bajuri

    19 Juli, 2014

    puasa bagi orang yang beriman, pertanyaannya apakah kita sudah beriman apa belum ?


  • KM Kaula

    KM Kaula

    14 Juli, 2014

    Luar biasa, itulah fakta yang kita hadapi hari ini, Agama dan segala atributnya seringkali hanya dijadikan sebagai alat untuk menutupi kejahatan dan keburukan. kita sadar itu tapi sayang kita selalu terpedaya dengannya.benar-benar kita ini adalah orang-orang bodoh yang selalu bisa tertipu dalam keadaan sadar.


    1. KM Narmada

      KM Narmada

      15 Juli, 2014

      Puasa Hanya Numpang lewat..tak berbekas


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan