logoblog

Cari

“Identitas”

“Identitas”

Promosi Budaya daerah dan Budaya Akademik Mahasiswa NTB di daerah Rantau.   Apabila anda berada diluar komunitas, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, maka ketika

Opini/Artikel

agus dedi putrawan
Oleh agus dedi putrawan
17 Mei, 2014 10:11:46
Opini/Artikel
Komentar: 1
Dibaca: 9325 Kali

Promosi Budaya daerah dan Budaya Akademik Mahasiswa NTB di daerah Rantau.

Apabila anda berada diluar komunitas, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, maka ketika anda bertemu dengan orang yang asal-usulnya sama dengan anda, namun anda dan orang tersebut tidak saling mengenal satu sama lain, maka hal-hal di atas akan menjadi topik pertanyaan yang digunakan sebagai pintu percakapan selanjutnya. “anda berasal dari provinsi mana?, kabupaten anda? Atau desa anda di sebelah mana?. Jalinan kekeluargaan akan terjalin, mana kala runtutan pertanyaan itu mengarah kepada satu jalur yang searah dengan jalur anda. Selanjutnya terakhir anda dengan orang tersebut akan menggunakan bahasa daerah anda, maka itulah yang disebut identitas.   

Berlatar belakang identitas yang sama, terbentuklah komunitas-komunitas baru di luar daerah (daerah rantauan) guna menjaga dan menujukan eksistensi “identitas” tersebut. Di Jogjakarta terdapat kira-kira ratusan atau ribuan pemuda-pemudi NTB, baik itu sekolah maupun yang kuliah (S1,S2,S3). Keadaan alami inilah yang menjadi rangsangan timbulnya organisasi-organisasi diskusi semisal, IKPM (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa) Lombok Timur, IKPM Lombok Tengah, IKPM Tastura, GEMA NW, Beskem Lobar, IKPM Samawa, IKPM Bima Dompu, belum lagi club-club sepak bola dan futsal yang jumlahnya tidak sedikit.

Gema NW dan Tastura adalah dua dari sekian banyak oraganisasi diskusi mahasiswa NTB yang ada di Jogjakarta. Gerakan Mahasiswa Nahdlatul Wathan ini menargetkan setiap dua minggu sekali yakni malam Sabtu mengadakan diskusi tentang problem-problem seputar budaya yang terjadi di Lombok misalnya Merariq, Nyongkolan, Wayang L. Nasip, Bangsawan, Politik Tuan Guru dan lain sebagainya, dengan pemateri dari seluruh anggota GEMA NW yang diroling. Peserta yang diundang terkadang orang-orang luar (luar NTB). Lokasinya selalu diadakan di kafe kebun laras di mana tempat itu selalu ramai oleh organisasi-organisasi yang sedang melakukan diskusi. TASTURA adalah organisasi mahasiswa Lombok Tengah, berlokasi di Gowo’ Asrama Lombok Tengah yang biasanya mendiskusikan tetang hal-hal yang tidak jauh dari akademik dan dikait-kaitkan dengan Isu-Isu Nasional.

Budaya akademik ini adalah hal posistif yang nantinya akan dibawa ketika pulang ke daerah masing-masing, sehingga tidak heran mereka akan merasa asing ketika tidak menemukan teman untuk berdiskusi karena budaya akademiknya sudah menjadi suatu kebiasaan, meskipun kita tidak menutup mata dengan keberadaan mahasiswa “kupu-kupu” yang berasal dari NTB. Namun yang perlu digaris bawahi adalah budaya akademik yang melekat pada mahasiswa NTB di Jogjakarta bukan karena semata-mata tuntutan akademik dan disamping untuk melatih dialektika berfikirnya juga namun justru lebih kepada kepedulian mereka terhadap daerahnya masing-masing. Contoh kasus, banyak mahasiswa yang memperkenalkan sekaligus mempromosikan budaya Lombok dengan Suku Sasak, Sumbawa dengan Suku Samawanya, Bima dan Dompu dengan Mbojonya dalam parade-parede, seminar-seminar dengan opening tarian daerah, persentasi di kelas dan dengan bangga menunjukan identitasnya agar orang yang mendengar dan melihat tertarik untuk berkunjung ke NTB.

 

Baca Juga :


Permasalahan yang terjadi adalah ketika banyak Tourism Nasional, Internasinal yang tertarik dengan apa yang di dengar tentang budaya daerah tersebut, malah tidak tampak karena cenderung  terkesan ditinggalkan, sikap ketidak pedulian pemuda/pemudi terlebih pelajar dan mahasiswa yang berada di NTB membuat  image  yang dibangun di daerah rantauan menjadi gugur. Ambil contoh; parade nyongkolan menggunakan Gendang Beleq, baju adat yang diselenggarakan di Jogja, ternyata di lokasi (Lombok) berubah, terkadang menggunakan kacamata, sepatu, kaos oblong yang seharusnya menggunakan baju adat, yang seharusnya memakai Gendang Beleq ternyata berubah menjadi Kecimol. Ini menjelaskan kepada kita bahwa seakan promosi yang kita lakukan sia-sia belaka.

Dari uraian di atas maka kita sampai pada kesimpulan sementara bahwa perlu membangun dan menghidupkan budaya akademik di NTB yaitu budaya berdiskusi, perlu terjalin kerjasama antara yang mempromosikan dan yang melaksanakan di daerah. Karena jika itu tidak dilakukan maka usaha dan keperdulian pelajar dan mahasiswa yang berada di rantauan terkesan sia-sia. [] - 01



 
agus dedi putrawan

agus dedi putrawan

Agus Dedi Putrawan, Ketua Bidang Kajian dan Riset di Berugaq Institute Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram

1 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    17 Mei, 2014

    saya salut dengan mahasiswa yang membudayakan diskusi dalam setiap pertemuan, karena terlalu banyak hal yang menjadi PR kita di lombok ini, tidak cuma soal budaya yang sudah mulai terkikis juga soal moral pemuda yang mengalami degradasi, dan tidak jarang justru yang bawa budaya hedonis itu adalah mahasiswa yang diluar daerah


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan