logoblog

Cari

Sadistik dan Potret Gejala Budaya Vandalisme di Dana Mbojo

Sadistik dan Potret Gejala Budaya Vandalisme di Dana Mbojo

Menerima belasan sms dan telepon sejak semalam, menanyakan motif pembunuhan di wilayah Gilipanda – Kota Bima. Karena masih berbaring untuk tidak

Opini/Artikel

Rangga Babuju
Oleh Rangga Babuju
30 April, 2014 15:24:36
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 13720 Kali

Menerima belasan sms dan telepon sejak semalam, menanyakan motif pembunuhan di wilayah Gilipanda – Kota Bima. Karena masih berbaring untuk tidak banyak bergerak, banyak sms dan telepon juga tidak terbalas dan terangkat. Namun penasaran juga dengan kehebohan yang ada. Setelah semua hal di badan dipastikan baik dan diperbolehkan untuk beraktiftas biasa. Iseng buka FB, cek informasi seperti apakah status-status yang menghebohkan itu.

Benar saja, diberanda awal terpampang foto seorang anak kecil, berjenis kelamin perempuan, kisaran umur 5 tahun, terbujur kaku dengan leher terluka menganga dan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Foto yang sama terposting oleh 7 account FB yang berbeda dengan redaksi yang berbeda namun pesan yang disampaikannya sama. “Ayah membunuh anak kandung dengan cara dig***k menggunakan pisau chater”. Nampak juga ter-posting foto lelaki yang memakai helm yang sudah babak belur tergeletak penuh luka yang diduga sebagai pelaku pembunuhan itu.

Pelaku pembunuhan adalah ayah kandung dari korban sendiri. Dan tergeletak sekarat akibat dihakimi massa. Puluhan hingga ratusan komentar muncul dalam setiap postingan tentang berita yang menghebohkan itu. Lama-lama membaca komentar dari berita yang sama dari beberapa postingan account FB yang berbeda. Kok saya tidak merasa miris atau iba serta turut prihatin..??

Ada kekhawatiran yang mendalam atas postingan-postingan gambar/foto, setiap terjadi peristiwa memilukan. Bukan bermaksud menghakimi atas postingan Pembunuhan atas anak satu-satunya itu oleh ayah kandung tersebut, namun cara dan etika memposting gambar/foto korban yang tak diblur oleh para Facebookers pada sisi-sisi tertentu. Secara etika jurnalistik, itu sudah melanggar dan secara budaya itu sudah mulai menjalar pada hobby sadistik.

Diperhatikan dari comment-comment yang ada, cenderung melekat gejala budaya dan kebiasaan sarkasme oleh para komentator, jika dua hal ini terus ‘dikembangbiakan’ dalam kehidupan sosial media sebagai jejaring informasi dan dikonsumsi oleh berbagai segment masyarakat Dana Mbojo, maka sangat berpeluang besar, masyarakat kita menjadi masyarakat vandalisme, atau satu tingkat dibawah masyarakat Bar-Bar.

Meski dalam menulis catatan ini kondisi badan masih kurang fit, namun kesadaran tentang gejala kehidupan sosial di Dana Mbojo yang kian waktu kian bergeser kearah Vandalisme sangat bisa saya rasakan. Dan hal ini kerap terjadi setiap tahun, malah dalam kurun waktu 4 tahun terakhir tidak kurang dari 3 kejadian terposting di jejaring sosial dengan tampilan gambar sadis yang (akhir-akhir ini) sudah mulai dianggap biasa oleh warga.

Tahun ini saja, selain pembunuhan sadis tadi malam di Gilipanda – Kota Bima, beberapa waktu yang lalu juga sempat tersebar foto Iptu Hanafi, korban penembakan oleh OTK (Orang Tak Dikenal). Tahun lalu (2013), malah banyak foto-foto sadistik yang menyebar dan terposting, baik melalui jejaring FB maupun BB.

Postingan tersadis yaitu, kasus pembakaran di Wadu Kopa – Soromandi. Konflik Kampo Tolo – Cenggu, Kasus mantan penjaga lokasi Plasma Laju, kasus guru di Sape, kasus pegawai SPBU di Sape dan beberapa kasus lain yang tidak sempat hangat dibahas di jejaring sosial. Sedangkan pada tahun 2012, penuh dengan postingan foto korban konflik antar kampung, seperti kasus Perang Godo I dan II,  Roi-Roka, Ngali-Renda, Cenggu, Kalampa hingga Monta.

Sadistik adalah melihat, menyaksikan, mengumbar atau mengkisahkan dan atau menginformasikan dengan jelas peristiwa sadis yang dilihat dengan nyata, didengar dan dirasakan oleh seseorang kepada orang lain dengan bangga dan semangat dan ini bisa menjadi hobby bagi orang-orang tertentu. Akibatnya, oleh sebagian yang lain dengan tanpa sadar melahirkan sarkasme dalam dirinya dalam menyikapi hal atau informasi tersebut.

Sarkasme adalah pernyataan yang memuat hinaan, cacian, makian atau umpatan serta singgungan kepada orang yang dianggap sebagai pelaku atas perbuatan sadistik tersebut. Jika setiap sadistik dibalas dengan sikap dan upaya sarkasme akan melahirkan masyarakat yang cenderung berbudaya vandalisme, yaitu sikap yang cenderung merusak.

 

Baca Juga :


Dalam Wikipedia, dijelaskan bahwa  vandalisme adalah budaya kelompok masyarakat yang cenderung melakukan perusakan yang kejam dan penistaan terhadap segala sesuatu yang indah atau terpuji. Vandalisme berasal dari kata bahasa Inggris: vandalism dan ada kaitannya dengan: perusakan; sifat suka merusak (perusak, merusak, dan bersifat merusak). Tindakan yang termasuk di dalam vandalisme lainnya adalah perusakan kriminal, pencacatan, grafiti, dan hal-hal lainnya yang bersifat mengganggu.

Penulis merasa bahwa kita tidak sedang sadar bahwa apa yang kita posting baik itu redaksi maupun foto dan visual akan berdampak pada psikologis masyarakat pada segment umur tertentu. Saat ini banyak anak-anak SMP dan SMA di Bima yang sudah memiliki BB (BlackBerry) yang dengan cepat setiap foto maupun redaksi status terkirim dan saling mengirim. Dikonsumsi dan dipikirkan secara tidak sadar oleh sebagian yang lain, sehingga menimbulkan banyak penyakit kejiwaan dan psikologis pada akhirnya, akan mengganggu kehidupan sosial masyarakat umumnya.

Dengan demikian, penulis hanya bisa berharap kepada kita semua (termasuk penulis pribadi) untuk saling mengingatkan dan saling memberi masukan atas setiap redaksi yang kurang tepat untuk menggambarkan sesuatu situasi atau kondisi, demikian juga terkait foto, apakah layak atau tidak. Karena akan berakibat fatal bagi generasi kita kedepan. Kita semua tidak ingin hidup dalam ketidak-tenangan di tengah budaya vandalisme yang secara tidak sadar kita sendiri yang membangun dan mengkonstruksikannya dalam setiap kepala generasi kita.

Setidaknya, untuk saat ini, sudah ada 2 kasus sarkasme yang muncul di jejaring sosial (facebook) khusus di Bima yang dilapor ke pihak Kepolisian dan dalam proses hukum. Sehingga penulis hanya menghimbau untuk bisa saling menjaga dan saling menghormati setiap status, informasi dan berita yang terposting dengan tetap mengedepankan etika jurnalistik dan etika penulisan. Sebab,  “Salamatul insan fi hifzhil lisan” (Keselamatan manusia itu sangat tergantung pada pemeliharaan lisan).  

Kadang maksud kita baik, namun belum tentu ditanggapi baik dan Baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Kalembo Ade, Kana'e Saba, Ta Cua Kaco'i AngiWallahualambisawab (03)

 

-----------------

Mataram, 30 April 2014, 



 
Rangga Babuju

Rangga Babuju

Rangga adalah sapaan lelaki yg di Aqikah dgn nama Julhaidjn ini. Bergeliat di Aktifitas Sosial Kemanusiaan KOMUNITAS BABUJU - Dana Mbojo. "Tidak membiarkan matahari berlalu tanpa tulisan"... Hampir setiap hari wajib menulis meski 1 paragraf.. Penggiat Kaj

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan