logoblog

Cari

Rakyat Adalah Pelaku Utama Politik

Rakyat Adalah Pelaku Utama Politik

Saya menulis artikel apa adanya ini karena merasa tertarik dengan pameo yang mengatakan “Politik itu kotor” dan sebuah paradox “Politik boleh

Opini/Artikel

KM. Jompa Mbojo
Oleh KM. Jompa Mbojo
13 Maret, 2014 16:40:18
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 5566 Kali

Saya menulis artikel apa adanya ini karena merasa tertarik dengan pameo yang mengatakan “Politik itu kotor” dan sebuah paradox “Politik boleh bohong tapi tidak boleh salah.” Tidak sedikit orang yang masih menyifati salah akan pameo dan paradox semacam ini sebagai dataran konsep yang fundamental dengan keharusannya untuk dipatuhi. Seolah-olah sudah azali bahwa politik itu memang kotor dan harus bohong. Seandainya demikian, maka di sisi manakah dalam kehidupan bernegara ini kita bisa menghindar dari sokongan ‘barang kotor’ ini?

Karena selama masih dibutuhkan pemimpin dan rakyat yang dipimpin, apapun bentuk pemerintahan dari sebuah suku bangsa, mau monarki atau (lebih-lebih) demokrasi, apapun istilah yang dibahasakan, politik tetap menjadi bahan baku untuk cetus-jalannya sebuah roda pemerintahan.

Dan jika diibaratkan kendaraan, maka politik itu adalah kendaraan umum. Tidak benar kiranya jika kita sebagai warga negara terus menyimpan kesan bahwa politik adalah ‘mobil mewah’ milik para penguasa dan orang-orang yang mencari kekuasaan semata. Karena jika kita terus menyimpan kesan semacam itu, maka kita tidak akan pernah sadar untuk beranjak peran dari objek menuju subjek dalam proses politik yang sialnya tidak bisa kita hindari ini.

Implikasinya jika kita menyadari politik adalah milik umum, maka kita  harus membekali diri dengan kesadaran dan kecerdasan politik. Ketika dinilai burukpun output dari proses politik, maka itu adalah tanggung jawab bersama. Dan secara bersama-sama mawas diri untuk membuat perubahan. Output politik bukan berarti keniscayaan dari politik itu sendiri. Sehingga tidak benar politik itu divonis kotor secara konseptual hanya karena outputnya yang buruk. “Politik itu kotor” hanyalah pameo, yang membuat kita pesimistis dan apriori. Lantas telentang pasrah di atas lintasan untuk dilindas oleh kendaraan milik kita sendiri.

Politik memanglah rumit, bahkan dibutuhkan banyak sudut pandang untuk melihat maknanya. Dan itu wajar mengingat politik adalah hajat banyak kepentingan. Tap selanjutnya sebagai rakyat, kita tilik saja arti ‘Politik’ dari sudut pandang teori klasik Aristotes, dimana politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.  Kita maknai politik sebagai manajemen kekuatan rakyat, bukan manajemen kekuasaan penguasa. Kekuatan untuk mewujudkan kuasa mensejahterakan umum. Meski makna seperti ini akan terkesan naif jika bersanding dengan kenyataan yang ada. Tapi memahami makna sesuatu tidak boleh berdasarkan pada apa yang terjadi, tapi harus didasarkan pada apa yang seharusnya terjadi sebagai sebuah keharusan.

Karena kenyataan itu sifatnya insidental, yang jika tidak seharusnya terjadi maka dapat kita rubah meski dengan berpeluh-payah merangkak perlahan. Sedangkan keharusan bersifat konseptual, yang jika secara fundamental ‘tidak bersalah’ maka harus terus kita patuhi. Kaitannya, pameo “Politik itu kotor” dan paradox “Politik boleh bohong tapi tidak boleh salah” itu lahir karena kenyataan yang ada. Sekali lagi, kenyataan berbeda dengan keharusan. Maka selanjutnya, mari kita optimis dan terus mengasah kecerdasan dalam mengambil bagian untuk membuat perubahan di Pemilu 2014 pada April mendatang. Dan yakin saja, bahwa demokrasi menuntut kita untuk cerdas, karena demokrasi hanya akan menghasilkan output yang bermutu manakala rakyatnya dewasa secara politik.

 

Baca Juga :


Ada satu fenomena menarik saat ini yang sekaligus bisa kita gunakan sebagai indikator untuk mulai mengukur tingkat kedewasaan kita berpolitik. Bahwa kita sekarang memiliki kecenderungan, ketika menjatuhkan pilihan, maka akan didasarkan pada hasil timbang-ukur bobot personal calon.  Kecenderungan seperti ini mengindikasikan, bahwa kita belumlah dewasa secara politik. Karena mestinya, Parpol tempat seorang calon  bernaunglah yang patut dibidik awal dalam memilih. Kenapa demikian? Karena demokrasi yang kita anut ini masih berporos pada demokrasi partai bukan demokrasi perorangan yang sekarang malah terus menjurus pada demokrasi pirsawan. Maka sesadar-sadarnya kita harus menyadari bahwa bukan personal tapi partailah yang menjadi locus kontestasi dalam pemilu. Jadi pilih partainya dulu baru memilah calonnya.

Mungkin Itulah sebabnya kita sebagai rakyat ini tidak punya basic kekuatan politik (Parpol) yang jelas sehingga tidak memiliki pamor politik yang disegani oleh pembuat kebijakan, karena kita memang tidak memiliki corak dan identitas politik yang jelas. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa Parpol di Indonesia ini sebanyak para calegnya.

Akhir kata, yang pertama mari kita berpikir positif dengan proses politik yang ada, karena pikiran positif membantu kita untuk lebih bijak memilih. Yang kedua, kita harus sadar bahwa kita sebagai rakyat inilah yang sebenar-benarnya pelaku utama dalam politik, sehingga ke depannya perlahan tapi pasti kita akan beranjak peran dari objek politik menjadi subjek. Yang ketiga, karena kita sebagai pelaku maka bekali diri dengan kecerdasan politik diawali dengan memahami bahwa demokrasi kita adalah demokrasi partai bukan perorangan. Wallahu A’lam Bishawab (*) - (01)



 
KM. Jompa Mbojo

KM. Jompa Mbojo

Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk di Kabupaten Bima. Meraih Penghargaan untuk Kategori “The Best Promotor”, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012). Follow kami di twitter > @Jompa_Mbojo

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan