logoblog

Cari

Berdiri Tanpa Pendirian

Berdiri Tanpa Pendirian

Malam itu markas Abu Macel di Desa Nyelekit Kecamatan Maik Angen, ramai dikunjungi orang. Entahlah, menjelang Pilkada ini markas Abu Macel

Opini/Artikel

Abu Macel
Oleh Abu Macel
15 Januari, 2014 03:37:04
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 8857 Kali

Malam itu markas Abu Macel di Desa Nyelekit Kecamatan Maik Angen, ramai dikunjungi orang. Entahlah, menjelang Pilkada ini markas Abu Macel selalu ramai. Mereka dari beragam profesi. Ada Akademisi, Cendekiawan, Wartawan, Birokrat, Pengusaha, anggota LSM, tukang Ojek, Petani, Nelayan, Tukang Sayur. Kalau Politisi kambuhan hampir setiap malamngepos disana, bahkan beberapa calon kandidat ikut juga nimbrung belauk bedaye.

Maklum, selain Abu Macel, di markas itu ada juga beberapa pakar segala persoalan, yaitu Abu Bongoh, Abu Mardud, Guru Dole dan Si Krotek. Namun harus dimaklumi, kepakaran mereka sebatas ASBUN TOHA alias Asal Bunyi Tolol tapi Hangat.

Mereka memang pakar, karena lulusan STTS (Sekolah Tinggi Tinggiii… Sekali), namun hanya seorang yang memiliki titel yaitu DRS. Abu Mardud, BSC, DBD, TBC, MCK. Gelar itu untuk memberitahu orang yang ingin mencarinya bahwa Disini Rumah Si Abu Mardud, Bekas Supir Camat yang pernah terserang Demam Berdarah serta Batuk Kering dan saat ini sedang menjalani profesi baru sebagai ahli Membersihkan Closet bin Kakus.

Seperti biasa, para sahabatnya itu selalu datang dengan air muka berseri. Meski uang di saku menipis, mereka selalu tampak riang dan tetap tersenyum. Tapi malam itu ada sejumlah orang yang tiba-tiba datang dengan wajah ketakutan. Berselimut kedinginan.

Para anggota markas mulai menganalisa apa makna dibalik wajah ketakutan itu. Kalau yang datang sambil tersenyum jelas takarannya. Sebab mereka baru saja bertamu ke rumah Allah melalui shalat Isya berjama’ah dan dilanjutkan sedikit wiridan. Hati tenang, tenteram dan selalu tersenyum. Sebab Allah selalu bersama orang yang jiwanya tenteram alias nafsul mutma’innah.

Apakah mereka yang datang dengan wajah ketakutan hatinya tidak tenteram?

“Wajah adalah etalase kepribadian manusia. Mereka tak dapat memungkiri bahwa sebenarnya mereka dalam ketakutan yang amat sangat. Khauf ilallah memiliki makna luas dan berjuta-juta. Dalam khazanah tasawuf ada yang disebut dengan Muslim Rahbani yang sekedar takut kepada Tuhan dengan menjalankan perintah dan meninggalkan laranganNya. Jika menggunakan terminologi kekinian, sama dengan Muslim Birokratis yang hanya menjalankan tugas jika ada perintah atasan. Kedua adalah Muslim Hayawani, takut kepada Tuhan karena berorientasi pahala dan dosa, ini termasuk Muslim Kapitalis yang berharap untung rugi. Ketiga adalahMuslim Rabbani atau Muslim Sejati, yang takut tak dicintai Allah.” Kata Guru Dole sedikit berfilsapat.

“Itu ketinggian Guru, yang sederhana saja.” Sela Abu Bongoh.

Akhirnya Abu Macel urun pendapat. Dia tak tega membiarkan sahabat-sahabatnya kebingungan mendengar Guru Dole yang baru belajar tasawuf.

“Takut itu anugerah Tuhan yang ada pada manusia. Tapi sekarang ini aneh. Banyak orang takut kebenaran dan senang terhadap fitnah.” Lanjutnya.

“Aida… apa lagi ini Cel, saya tambah bingung.” Potong Si Krotek.

“Itulah sebabnya kalau tidur saat mengaji. ‘Harta bendamu, Isterimu dan anak-anakmu adalah fitnah bagimu’, demikian FirmanNya. Kita sangat mencintainya dan melindunginya. Sementara Kematian itu haq, Neraka ituhaq. Dan kita semua takut pada yang haq alias kebenaran itu. Ya kan?” kata Abu Macel.

“Kalau Rabi’ah al Adawiyyah justru meminta kepada Tuhan untuk direlakan badannya membesar hingga memenuhi neraka, sehingga tak ada ruang sedikitpun yang tersisa bagi kita di dalam neraka itu kecuali dirinya. Ia tak takut neraka, apalagi takut jatuh dari jabatan atau kursi kekuasaan. Ia bahkan rela berkorban demi kebaikan orang lain.” Lanjutnya.

Para sahabatnya manggut-manggut saja meski belum dapat memahami maksud Abu Macel. Dalam hati mereka bertanya, adakah dan dimakanah orang seperti Rabi’ah al Adawiyah dijumpai di zaman ini?

Takut kematian yang sebenarnya adalah kewajaran. Itu sunatullah. Namun menjelang Pilkada ini banyak orang justru lebih takut pada kematian semu dan sesaat. Takut karir jabatannya mati. Takut kursi kekuasaannya rapuh. Takut tidak dapat pekerjaan. Takut tidak dipilih. Takut tidak populer dan kehilangan pengikut. Dan bermacam-macam lagi ketakutan lainnya.

 

Baca Juga :


Ketakutan seperti itu mengakibatkan mereka kehilangan rasionalitas. Kehilangan akal sehat. Mereka melompat sana dan sini. Curiga dan buruk sangka pada setiap orang di sekitarnya. Mereka tak pede lagi.

Ketakutan bisa membuat orang menjadi berubah. Si Birokrat dan Si Toga berubah menjadi Politisi. Sedangkan si Politisi berubah menjadi Toga dan Birokrat.

Di rumah si Toga mulai terdengar hymne parpol. Jika menang nanti, lumayan bisa bikin dua tiga pilar penyangga rumah untuk beberapa isterinya. Sedangkan si Politisi berubah menjadi birokrat. Mereka laksana anggota baperjakat yang bisa menentukan jabatan eksekutif, seolah paling mengerti UU Kepegawaian.

Selain itu, si Politisi bukannya sibuk ngurusi konstituen, melainkan padangebet kunker ke luar daerah. Hitung-hitung piknik mengendorkan syaraf dan menegangkan urat. Bahkan ada yang masuk organisasi HDW alias Himpunan Doyan Wanita.

Ada juga Politisi yang berubah menjadi Toga. Ketika pidato di Pesantren Ia bisa melebihi Kiyai daripada Tuan Guru. Lebih Pendeta dari Pendeta ketika di Greja dan saat di Pura, Ia lebih Pedande dari Pedande.

Ada yang aneh dari sang Politisi ini. Ketika berpidato lantas kehabisan thema, Ia berpura-pura menangis laksana aktor watak. Dikesempatan lain, Ia juga bisa berpidato sambil kacak pinggang dan marah pada bawahannya untuk menutupi bodohnya.

Si Birokrat kehilangan profesionalitasnya selaku Abdi Negara dan bertindak sebagai politisi. Karena tak diberi jabatan sesuai keinginan Ia pun rela meninggalkan bapaknya yang telah memandikannya dengan air madu. Sekarang ini Ia sudah menduduki jabatan yang diidamkan itu namun sayang Ia tak mengerti apa-apa. Kini Ia mulai ketakutan dan ambil ancang-ancang untuk mencari ‘bapak’ baru.

“Kalau yang duduk menggigil sambil memeluk dengkulnya itu?” tanya Abu Mardud sambil menunjuk dua orang di sudut ruangan.

“Mereka itu tipikal kodok. Lidah menjilat keatas, kedua tangan siap menyikut kiri dan kanan. Menekan kaki ke bawah jika hendak melompat. Saat ini mereka sedang mempersiapkan diri melompat meninggalkan perahunya untuk mencari perahu lainnya. Padahal perahu yang sedang ditumpangi sekarang ini telah mengantarnya ke jenjang karir yang cukup gemilang. Ia takut karena perahu ini mulai retak dan menduga sang nakhoda akan tenggelam.” Jawab Abu Macel.

La tatrukil maujud tholaban li amrin mauhumin. Jangan meninggalkan barang yang sudah ada untuk mencari barang yang belum tentu adanya.” Sahut Guru Dole menasihati.

Orang semacam itu termasuk orang yang tak tau diri. Mengutamakan kepentingan diri. Ingin berdiri padahal tak punya pendirian.

Menjelang subuh sayup terdengar dari corong masjid, Al-Qur’an disuarakan. Ya ayyuhal muddatstsir. Qum fa andzir. Hai orang-orang berselimut. Bangunlah, beri peringatan!!! []

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan